Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Es krim,karmamu.

         Dia masih sibuk beradu argumen di dalam pikirannya sendiri. 20 menit yang lalu,dia menghubungiku kembali. Meminta untuk bertemu sambil memohonku untuk mendengar cerita sedihnya tentang kepergian gadisnya. Gadis yang sudah tega mencekik urat matanya dengan memperlihatkan kemesraannya dengan laki-laki baru yang di panggilnya ‘kekasih’. Atau anggap saja,gadis yang dulu telah dia pilih daripada diriku yang saat itu masih menjadi ‘kekasihnya’.      “Kamu bisa bayangkan bukan? Bagaimana sakitnya hatiku saat dia yang tanpa kabar seminggu kini datang menggandeng pria lain” katanya dengan tatapan mata sendunya kepadaku. Di matanya jelas sekali terlihat ada hati yang tersakiti dengan hebat. Ada juga kecewa yang teramat saat aku memandang matanya.      “Aku bahkan tidak ingin menangisinya setelah tahu dia telah mengkhianatiku. Mengkhianati cintaku.” Ocehnya dengan nada yang menggebu-gebu. Aku tahu,saat ini dia hanya ...