Es krim,karmamu.

   
     Dia masih sibuk beradu argumen di dalam pikirannya sendiri. 20 menit yang lalu,dia menghubungiku kembali. Meminta untuk bertemu sambil memohonku untuk mendengar cerita sedihnya tentang kepergian gadisnya. Gadis yang sudah tega mencekik urat matanya dengan memperlihatkan kemesraannya dengan laki-laki baru yang di panggilnya ‘kekasih’. Atau anggap saja,gadis yang dulu telah dia pilih daripada diriku yang saat itu masih menjadi ‘kekasihnya’.
     “Kamu bisa bayangkan bukan? Bagaimana sakitnya hatiku saat dia yang tanpa kabar seminggu kini datang menggandeng pria lain” katanya dengan tatapan mata sendunya kepadaku. Di matanya jelas sekali terlihat ada hati yang tersakiti dengan hebat. Ada juga kecewa yang teramat saat aku memandang matanya.
     “Aku bahkan tidak ingin menangisinya setelah tahu dia telah mengkhianatiku. Mengkhianati cintaku.” Ocehnya dengan nada yang menggebu-gebu. Aku tahu,saat ini dia hanya ingin di dengar agar perasaan dan hatinya merasakan kelegaan. Dia bahkan telah membiarkan es krim di meja miliknya mencair. Tanpa di sentuh sedikitpun.
    Aku masih ingat dulu dia sering mengajakku bertemu meski dia memiliki waktu yang sibuk. Walau hanya mengajakku sekedar untuk menemaninya makan siang atau hanya mentraktirku es krim. Dia penyuka rasa strawberry sedangkan aku penyuka coklat. Bahkan kafe yang kami kunjungi ini adalah tempat favorit kami berdua.
     “Kamu kenapa diam? Apa kamu paham dengan yang ku rasakan sekarang?” nada bicaranya mulai sedikit meninggi. Mungkin dia lelah mengoceh sendiri sedangkan aku dari tadi memilih diam dan memperhatikannya.
     “Apa aku sudah boleh menjawab pertanyaanmu?”
     “Tentu saja. Aku mengajakmu kesini bukan untuk melakukan percakapan searah saja.” Wajahnya mulai menunjukkan kekesalannya kepadaku.
     “Baiklah. Aku bisa membayangkan rasanya bagaimana,karena aku masih ingat dengan jelas saat kamu memilih wanita itu dan meninggalkan diriku. Kamu memilih dia yang kamu anggap paling mengerti dirimu daripada aku;wanita yang sudah sejak lama menemani masa sulit dan bahagiamu.  Jadi,bolehkan sekarang aku bertanya padamu? Bagaimana rasanya di khianati oleh orang yang begitu sangat kamu sayangi?”
     “Sangat sakit. Aku mengerti rasanya sekarang. Maafkan aku. Harusnya saat itu aku memilih setia padamu.” Dia memandang wajahku dengan penuh penyesalan.
     “Inilah karmamu. Ketika kamu memilih mengkhianati ketulusan orang lain,tanpa kamu sadari,ketulusanmu pun akan di khianati oleh orang lain.”
     “Lalu,bagaimana caramu melewati ini semua?” ucapnya dengan nada penasaran. Sebab,setelah dia meninggalkan aku,aku masih mau menemuinya,memaafkannya bahkan aku menjadi tempatnya berbagi rasa sedih.
     “Ikhlaslah. Biarkan waktu menyelesaikan segalanya hingga rasa itu memudar. Terimalah kenyataan yang ada dan berdamailah dengan hatimu sendiri. Mungkin terasa sulit untuk di jalani,tapi kamu akan rasakan bagaimana nikmatnya berdamai dengan hati dan rasa sakit.” Jawabku dengan senyuman ringan. Bagiku,semua cerita punya hikmahnya sendiri. Bukankah belajar dari pengalaman adalah guru terbaik?
     “Aku akan mencobanya. Jika kamu saja bisa melakukannya,apalagi aku. Terimakasih telah mengajarkan aku berfikir dewasa” senyumnya telah tercetak jelas sekarang.
Patah hati,melupakan perasaan yang pernah ada tak perlu harus di obati dengan kehadiran orang baru. Semua luka itu bisa di obati oleh dirimu sendiri. Hanya dirimu. Tergantung bagaimana kamu menilai sejauh mana kemampuan dirimu dalam mengobati dan merawat lukamu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik