Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Numpang Lewat

Hai kamu, Yang pernah begitu dekat denganku Yang pernah bertemu ibu dan ayah mu Yang pernah di gadang-gadang akan menjadi calonmu Siapa yang sangka jika pesta keluarga yang ku datangi kemarin adalah pesta terakhir? Siapa yang sangka jika saat itulah terakhir kalinya ibumu tersenyum padaku Masih ku ingat betul bagaimana beliau mengelus pundakku Masih terpatri bagaimana respon baik dari keluarga besarmu terhadapku Dan masih ku simpan dengan rapi dalam ingatanku, bagaimana senyum mu merekah sambil menatapku Indah... Ku kira begitulah akhirnya. Sampai hari dimana ku tau jika ada yang mendahuluiku dalam merebut hatimu. Ku kira kau akan menjadikan ku sebagai rumah, Tapi ternyata kau mengizinkan orang lain yang tinggal disudut hatimu. Bagaimana aku bisa ditipu oleh cintamu yang palsu? Bagaimana kau tega membiarkan ku berjalan sejauh ini jika akhirnya kau paksa aku untuk pergi? Apa karena dia lebih dariku? Apa kamu begitu buta akan tampilan? Patah, Aku patah sepatah-patahnya Tapi apa daya? Di ...

Senja yang menyakitkan

Hari ini aku bermain dengan senja. Senja kali ini datang dengan membawa rupamu Rupa yang membuat aku jatuh cinta Tepat pada senyum tipismu malam itu Senja membawa kembali kenangan bersamamu Bagaimana dulu kau dan aku berusaha menutupi rasa Bagaimana dulu kita berjalan pelan-pelan setelah hari-hari ku yang patah Senja membuat aku tak bisa menahan air mata Kala ku lihat kita begitu bahagia Melewati angin malam, ombak yang hancur di tabrak karang Sempurna.. Begitulah aku mendefenisikannya. Impianku yang kala itu harus ku redam, Satu persatu kau wujudkan Jauh sebelum senja akhirnya menamparku pada kenyataan Kau tidak lagi sama. Kau tidak lagi bahagia. Kau tidak lagi cinta. Pada aku yang selalu membersamaimu Sejak awal bahkan akhir Dalam sedetik, kau meruntuhkan duniaku Dalam sedetik, kau bunuh segala harap Dalam sedetik, kau jatuhkan aku ke dasar jurang Mengapa semuanya harus terasa manis di awal namun pahit di akhir? Mengapa kamu berperan seperti yang sudah-sudah singgah? Mengapa setelah ...

Sampai Kapan?

  Hari ini hujan jatuh di kotaku, Bersama sejuk yang mampu membuat aku menggigil Tapi hujan tidak dapat menghentikan langkahku Dalam usaha untuk mengubur kamu di dalam ingatan, Dalam upaya mengikhlaskan jalan cerita Tuhan mengenai kita. Rasanya masih sama, Saat namamu kembali terucap dan ku dengar dari orang lain. Ngilu.. Seperti ditusuk sembilu, Yang membuat hatiku semakin membiru. Aku berusaha berdialog dengan diriku sendiri. Aku berusaha berdamai dengan apa yang sudah terjadi Namun bayang tak pernah ingin pergi barang sejenak saja Ia masih betah mengingatkanku pada romantisme kita Ia juga masih senang menjatuhkan ku ke dalam ingatan kelam Sampai kapan? Sampai kapan aku bisa merasa baik-baik saja Sampai kapan aku bisa menutup mata lalu melupa Kenapa Tuhan tak mau membuatku hilang ingatan saja Agar aku bisa melanjutkan hidupku, Tanpa harus merasa perih dan terluka.

Patah Untuk Kedua Kali

Hati siapa yang tak terluka, Jika tahu selama ini ada yang diam-diam hadir di antara sepasang manusia Hati siapa yang tak kecewa, Jika mengetahui kepercayaan yang di beri kini hancur tercerai berai Bahkan tulus dan setianya di robek paksa perlahan-lahan Sakit , Sangatlah sakit . Hancur , Begitu hancur . Pada bagian mana lagi aku melakukan kesalahan Hingga dongeng indahku berubah jadi mimpi buruk Untuk kedua kalinya, aku ditikam pelan-pelan melalui pelukan Malu ku semakin bertambah, Kala banyak keluarga bertanya tentang kita Bagaimana aku mampu menghadapi ini semua? Pula bagaimana aku harus menghadapi realita, Karena sebagian besar hidupku di isi olehmu Aku tertunduk lemah, Menangis hingga tak lagi mengeluarkan suara. Menepuk-nepuk dada, Agar ia bisa menerima nyata. Bahwa kebangganku telah mendua Bahwa kepercayaanku telah di noda Kamu, Yang ku kira sebagai pengobat luka dimasa laluku Ternyata mampu memberi luka hingga aku sulit untuk melupa.