Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2014

Lucu.

          Kadang aku kehabisan akal dan kesabaran jika menghadapi tingkahmu. Di mulut,kamu berkata tidak namun di belakangku ternyata kamu telah menyemai luka. Kali ini,apa alasan yang akan kamu gunakan untuk menyangkal semua fakta tentang dia dan dirimu yang telah ku temukan,sayang? Mengapa sekejam ini kamu meremukkan hatiku? Sehancur ini kamu menusuk rasa percayaku?           Awalnya,aku tak ingin peduli apa kata orang tentangmu. Yang aku yakini dan percayai selama ini adalah kau setia padaku. Walau sejujurnya,aku terusik akan pengaduan banyak orang tentang dirimu;aku memilih untuk tidak peduli. Lantas,apakah ini balasan yang aku dapatkan darimu,sayang?           Aku mengira bersamamu bisa ku titipkan percaya tanpa perlu takut kecewa. Aku berharap denganmu bisa ku curahkan segala rasa. Namun nyatanya kamu telah menyiapkan luka hebat untukku. Sangat membekas dan ...

Putus Asa.

Ada cinta yang tak lagi berbentuk. Ada hati yang telah terpaut dengan luka. Ada rasa yang terajut dengan asa. Untuk kedua kalinya,saya harus memuai semu atas harapan besar yang saya tabur pada rasa cinta yang dulu hampir menjadi kita. Benteng besar yang dulu saya bangun dengan kokoh untuk menguatkan hati saya dari kenyataan yang menyesakkan dada kini seolah menghilang. Sebab karenamu. Karenamu yang jua tak anggap saya ada. Karenamu yang slalu ragu untuk mampu menggenggam tangan saya dengan erat. Hari ini,sepanjang perjalanan memperjuangkan kamu yang kini saya tempuh sendirian dengan keberanian di atas normal kini telah menguap melebur bersama lara. Semangat membara untuk setia pada hatimu kini telah patah. Berkeping-keping hingga tak lagi punya bentuk yang sempurna. Tetesan air balik pelupuk mata saya karena kekalahan saya yang telah berjuang mempertahankanmu tak pernah berhenti mengalir. Meski saya nyatakan dengan tegas pada hati bahwa saya baik-baik saja. Tapi nyatanya,perasaan sa...

Kecewa.

          Seharusnya dari awal aku paham akan resiko dari mencintai dirimu. Meskipun aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku mampu menghadapi tingkahmu,nyatanya kini aku harus mengaku kalah. Aku menyerah untuk berada setia di sampingmu yang identik di kelilingi oleh banyak wanita. Cemburu? Terlalu munafik jika aku menampiknya. Marah? Tentu saja itu kebohongan paling gila jika aku katakan aku tak marah padamu. Tapi cinta terlalu berperan besar untukku. Cinta terlalu melemahkanku hingga akhirnya aku terkubur oleh kebisuan ketika nyatanya hatiku berteriak keras!           Bukan lagi setitik ataupun segumpal rasa kecewa yang ku rasa. Jika ada kata lain dari kecewa,mungkin sudah ku ungkapkan. Seharusnya aku tak memupuk banyak harap untuk bisa terus berada disampingmu. Seharusnya aku tak berkeras kepala untuk berpura-pura.           Kamu yang saat ini ada di hati,harusny...