Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Harusnya Sadar

Jika kau terlalu sibuk dengan dunia dan segala urusanmu,lebih baik selesaikan saja dulu semuanya. Baru setelah itu datang padaku. Jangan sebentar muncul lalu sekejap menghilang. Pada awalnya aku terlalu banyak menuntut padamu. Setelah ku pikir-pikir,sikap seperti ini tak pantas untuk di pertahankan. Sebab,jadinya kau ku abaikan dan hubungan kita terasa merenggang. Tadinya ku kira,jika aku sudah memaklumi keadaanmu. Maka kau bisa sedikit sadar dengan kebutuhanku dalam meminta waktumu. Aku tak marah pada hobimu. Aku juga tak melarang kau bermain dengan temanmu. Tapi ingatlah pada aku. Aku yang masih butuh kabarmu. Aku yang masih butuh waktumu untuk berbagi cerita. Begitu banyak hal yang kau minta untuk ku pahami,tapi mengapa kau juga tak bisa memahami satu kebutuhan pentingku itu? Mengalah terus menerus bukanlah pekerjaan yang mudah. Saat setiaku di pertaruhkan, kau menghilang entah kemana. Ya,aku menanti dan terus menanti lelakiku memberi kabar,namun entah kenapa ponsel itu...

Karena Aku Rindu

Aku rindu pertengkaran kita. Saat kau diamkan kemarahanku. Saat dimana hanya pelukmu yang menjelaskan begitu menyesalnya dirimu. Saat dimana pukulan di dadamu tak lagi mampu menandingi kecepatan air mataku yang jatuh begitu saja tanpa ku perintahkan. Aku rindu menghabiskan waktu bersamamu. Tanpa ponsel di genggaman tanganmu. Tanpa abai yang menghapus kehadiranku. Hanya ada kau dan aku dengan segudang obrolan yang membuat kita lupa akan senja. Aku rindu dengan cemburumu yang liar. Dimana kemarahan selalu merasukimu. Dimana setiap tindakanku terlihat begitu menyebalkan bagimu. Dimana pada akhirnya dengan wajah malu-malu,kau mengakui benci melihatku terlalu dekat dengan laki-laki selain dirimu. Dan,akhirnya aku merindukan kehadiranmu di sisiku. Karena aku suka mendengar tawamu. Karena aku mengagumi cacianmu. Karena aku menggilai semua lelucon bodohmu. Juga, karena aku baru menyadari sudah terlalu banyak aku mencintaimu.

Tidak Akan Pernah

Kita punya cerita,dulu. Cerita tentang tawa dan kesedihan. Tentang sebuah pengorbanan,juga perjuangan. Kau sangat mengesankan. Tutur katamu,perlakuanmu yang membuatku sulit lupa siapa sisi lain yang ku temui saat terakhir kali kita menghabiskan hari dengan riuh pertengkaran. Bagimu,aku adalah tuan putri yang pantas di sanjung. Dan untukku,kau adalah lelaki terhebat yang tahu persis bagaimana memperlakukanku dengan baik. Sayangnya waktu berjalan terlalu cepat. Masa yang begitu indah lekas berganti suram. Sejak kapan kau mulai berubah,akupun sudah tidak lagi ingat. Yang begitu melekat di ingatanku persis ketika kau lebih sering meneriakiku. Melampiaskan emosi yang akupun sendiri tak pernah tahu siapa penyulutnya. Kian kesini,kau semakin tak ku kenali. Kekasihku yang ramah. Kekasihku yang begitu lembut mulai sering marah-marah. Mulai senang membohongiku. Mulai sering lupa mengabari,juga menepati janji. Seakan-akan waktunya bukan lagi untukku. Lalu kebenaran mulai menunjuk...