Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Isi Sendiri.

Ada segudang memori yang mengundangku di kala ku teguk segelas kopi di pagi buta. Memori yang mengajakku untuk kembali ingat perjalanan kita saat pertama kali bertemu hingga akhirnya aku menyebutmu;kekasih. Aku mlihatnya dengan jelas, sayang . Ada tawa dan air mata. Ada bahagia dan kecewa yang tergeletak begitu saja. Yang kau biarkan aku merawatnya sendirian. Tapi tunggu dulu. Memang bukan salahmu jika penilaianku tentang kita adalah kepahitan. Masih ada sisa-sisa rasa manis di sana. Rasa-rasa yang kau tawarkan ketika begitu banyak perhatian yang kau limpahkan untukku. Tanpa Cuma-Cuma dan keraguan. Sederet kalimat manis ketika aku merasakan sakit. Sederet perbuatan mengharukan ketika aku membutuhkan begitu banyak adaptasi dengan keadaan. Juga,seberkas kecemburuan saat tahu begitu banyak perempuan yang mencuri perhatianmu. Selama ini mungkin kau merasa aku lebih sering merangkai kata-kata manis. Bagimu,hobi menulisku ini menjadikan aku sebagai ratu drama yang penuh dengan kalim...

Teruntuk Kamu (2)

Teruntuk kamu yang telah meluangkan waktu untuk kembali pulang,terimakasih telah menuntaskan rindu ini bersama-sama. Aku sangat bahagia menghabiskan waktu berdua denganmu. Mendiskusikan banyak hal hingga beradu pendapat. Teruntuk kamu yang akan pergi, jangan pernah lupa bahwa yang disini tetap akan terus menanti kehadiranmu juga kabar darimu. Mungkin selama di tinggalkan olehmu,aku akan lebih sering merengek dan sedikit mengesalkan. Tapi ketahuilah,itu semua karena aku merasa hati ini selalu tak tenang jika tak melihatmu. Teruntuk kamu yang memiliki sepenuhnya rindu ini, aku menghargai setiap detik yang kita lalui bersama-sama. Ku harap jatah bersamaku dalam 24 jam itu bisa sedikit di tambah. Sebab kau tahu,bahwa di setiap pagi yang datang dan di malam yang larut, rindu selalu menuntut untuk di tuntaskan. Teruntuk kamu yang ku panggil sayang , jangan bermain api di belakangku selama jarak ini menjurangi kita. Jangan menabur banyak harapan kosong pada wanita lain. Cukup hanya aku...

Teruntuk Kamu (1)

Teruntuk lelaki yang tengah pulang ke kampung halamannya, Hai,kekasih. Sudah hampir sebulan kau meninggalkanku sendiri di kota ini. Itu berarti aku harus menunggu satu bulan dua minggu lagi untuk kepulanganmu. Hari-hariku terasa begitu sepi tanpamu. Rindu-rinduku sepertinya kian menumpuk,meskipun selalu kau obati dengan kabar-kabar yang kau kirim juga suaramu di ujung telepon hampir di setiap malamku. Sayangnya,keinginan untuk bisa menyentuh sesenti kulitmu juga menatap wajahmu itu lebih menyiksaku. Kau selalu berkata bahwa perpisahan ini hanyalah sementara. Tapi kau lupa,jika sebelumnya aku tak pernah benar-benar terpisah darimu secara raga. Setiap hariku,kaulah satu-satunya lelaki yang ingin ku lihat wajahnya. Satu-satunya lelaki yang ingin ku dengar suaranya. Satu-satunya lelaki yang selalu mengelus dada sembari menabahkan hati ketika melihat segala keribetan yang ada di diriku. Itulah mengapa aku tak bisa secepat itu harus beradaptasi dengan keadaan kita yang terpisah jarak in...