Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2015

Berhenti Berharap

          Aku berhenti menyusuri jalan. Berhenti tepat di sisi jalan yang mengarahkan langkahku menuju hatimu. Setelah segala hal yang telah ku lalui,entah mengapa aku merasa semua yang telah ku lakukan seperti tak ada ujung pangkalnya. Jalanku menuju hatimu seakan-akan buntu. Lelahku sudah tak terhitungkan lagi. Semangatku juga telah patah berkali-kali. Dan aku tahu,ini saatnya untuk mengakhiri.           Ku pikir,perjalanan ini takkan sesulit yang orang lain bayangkan. Ku kira,menjatuhkan cinta pada hatimu semudah kedipan mata. Nyatanya tidak sama sekali. Aku harus bertarung dengan banyak hal termasuk egoku. Melewatkan berbagai peluang untuk membahagiakan hatiku hanya demi mengharapkan secuil rasa bahagia darimu.           Di tempat ini,aku membuka kembali pemikiranku yang dahulunya telah ku pasung untukmu.  Mirisnya aku menemukan kebodohan pada diriku send...

Mengakhiri Zona Nyaman

          Sore itu aroma ketenangan begitu terasa. Semilir angin berkejar-kejaran menyapa kulitku. Aroma coklat dengan suhu udara yang mulai terasa sejuk ditutup dengan sempurna saat senja menyapaku sebelum malam mendominasi langit. Sudah lama aku tidak menginjakkan kaki pada dataran tinggi ini. Kampung halamanku yang begitu tentram. Beramah tamah dengan para ibu-ibu yang berjalan pulang setelah berladang.           “Tumben kemari tiba-tiba,ada apa nduk?” suara lembut ibu merasuki pendengaranku. Ayunan yang tampak tenang tadi kini sudah berdecit pelan mengayun. Ibu duduk tepat di hadapanku.           “Gak ada apa-apa,bu. Hanya rindu suasana seperti ini” senyuman hangat ku berikan untuk ibu. Di matanya aku melihat ada segurat tanda tanya atas kepulanganku yang mendadak ini.           “Kamu gak bisa bohong,nduk. Ibu tah...

Meredam Ego

        “Hai,Apa kabar kamu? Semangat ya untuk ujiannya!”         Sesakit inikah menahan hasrat menghubungimu lebih dulu? Bukan gengsi yang ku pertahankan,tapi ketakutan yang menghalangi keinginan. Takut tiba-tiba aku mengganggu waktu pentingmu untuk belajar dan istirahat. Aku mengerti sejauh mana kamu berjuang menjadi yang terbaik untuk orang tuamu dan aku memahami kebanggaan mereka adalah prioritas untukmu. Aku masih ingat bagaimana kau bercerita panjang lebar tentang semua tugas-tugasmu yang menumpuk. Saat itu aku tersenyum sendiri membayangkan wajahmu yang mungkin sudah bertekuk kesal di campur rasa lelah. Pada waktu itu aku sempat bertanya-tanya dalam hati ‘bisakah aku menjadi obat lelahmu? Seperti kamu yang menjadi penyemangat dalam hidupku?’ namun aku menyadarinya tuan. Aku bukanlah apa-apa. Aku bukan perempuan yang memiliki kehebatan yang mampu menyulap rasa lelahmu menjadi lega.      ...