Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Dia di Masa Lalu

Dulu pernah memiliki seseorang yang begitu mengekspresikan perasaannya. Dia salah satunya. Sudah sangat lama sekali. Tapi daripada melihat sisi buruknya, akan lebih baik untuk menilai kebaikan hatinya. Usianya di atasku. Saat itu sedang masa sekolahan. Aku memasuki sekolah baru. Lingkungan baru dan teman-teman yang baru. Sedangkan dia, sudah cukup tua untuk beranjak dari sekolah kami ( bukan kita, karena tidak lagi bersama😂) Awalnya dia suka dengan temanku. Tapi minta di jodohkan lewat aku yang pada saat itu tidak pernah tau kalau dia ada di sekolah itu. Bermodalkan keberaniannya, dia beserta teman-temannya kala itu datang menghampiri ku. Karena mereka tanda wajahku yang kebetulan sekelas dengan perempuan yang di taksirnya. Ku pikir, mereka gila. Terlalu nekat dan aneh. Ku acuhkan, tapi tetap ngotot untuk kenalan karena ada maksud terselubung. Singkat cerita, aku bersedia membantu. Hubungan kami berlanjut menjadi abang-adik zone.  Hanya saja, perasaannya kala itu kepada tema...

Pacar gamers?

Bagaimana rasanya punya pasangan yang doyan banget nge- games? Yang milih gamesnya di banding ngapelin pacarnya. Walaupun sebenarnya tidak ada kata apel-anggur di dalam hubungan kami. Yang milih kotak-katik jari sama gamesnya di bandingkan nge-chat pasangannya. Mungkin rasanya ingin marah bercampur kesal. Mau menjambak-jambak rambutnya sambil teriak-teriak. Karena rasanya seperti tidak di prioritaskan sebab games adalah segala-galanya buat dia. Walaupun begitu, dia terkadang ingat siapa yang harus di dahulukan. Seperti kalau sudah seharian games, begitu di telfon/ chat bahkan pada saat pertandingan seru-serunya, dia langsung sign out. Mengalah sambil berkomentar pedas karena timnya marah-marah. Atau bahkan di suatu ketika dia sudah janji akan menemani namun pada saat itu dia sedang turnamen. Rela ketinggalan satu babak meski dengan menunjukkan wajah sedih, kecewa dan berusaha menerima kenyataan. Juga ada momen dimana dia suka mengabaikan. Seperti saat kami habiskan waktu set...

Am I Wrong?

Sedih.. Tentu.  Amat sangat sedih.  Dalam hati "kenapa hanya lukanya yang di lihat oleh khalayak? " Tapi logika menjawab, "ya mungkin ini bedanya kamu dan dia" Dia.. Pernah mendapatkan yang paling berharga tapi tak bisa ia jaga.  Lalu angan-angan yang ku kira mustahil malah terjadi dengan begitu sempurna.  Apa aku salah?  Jika sesuatu yang berharga darinya terlepas oleh sebab yang bukan karena aku.  Apa aku salah?  Menerima angan yang di depan mata menjadi nyata.  Aku tidak merampas.  Aku tidak merebut.  Pun, aku tidak mengemis untuk di kasihani. Aku juga korban, atas sikap tak suka orang-orang yang tak senang dengan apa yang ku dapat.  Dan hei!?  Aku berusaha. Aku berjuang untuk mendapatkannya. Semuanya tidak mudah. Berproses.  Meski begitupun, ia tak pernah memperlakukan ku sama.  Walau ku mau dia begini, takkan mungkin ku paksa jika ia memilih seperti itu.  Namun, aku men...

Curhat?

Dalam hidup, setiap orang terlahir dengan masalahnya sendiri.. Yang buatmu terlalu berat, mungkin berbeda dengan yang orang lain rasakan.. Sesekali kau mungkin butuh di dengarkan, di berikan saran ataupun di tenangkan.. Begitu pula orang yang engkau jadikan tempat berbagi keluhan, Dia juga bermasalah, mungkin juga ia yang sangat mesti di dengarkan.. Tapi dia memilih diam tanpa berbicara kepada siapapun, Dia memilih memendam agar orang-orang tak terasa terbebankan. Jadi kenapa kamu terus memaksanya selalu ada? Justru apakah pernah selama ini kamu berpikir mengapa dia tak pernah memilihmu sebagai tempat berbagi masalah? Hal ini yang harusnya kamu pertanyakan dengan dirimu sendiri. Saat ini, mungkin kau kesal.. Kenapa dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan pria spesialnya. Selain karena pria itu memberikan rasa bahagia, bisa jadi pria itu yang bisa menampung segala beban yang ia derita. Bisa jadi pria itu jauh lebih tau tentangnya di bandingkan kamu. Setidaknya atau pal...

To(o) Long

Tolong.. Tolong Peluk aku bahkan saat diri ini tak bisa membendung air mata yang jatuh, Tolong Gengam tanganku saat dunia berusaha melarikan egoku, Tolong tampar aku bila diri ini bertindak semena-mena pada raga dan hati ini. Jangan lepaskan aku dengan begitu saja, Jangan abaikan aku seolah-olah aku akan baik-baik saja. Karena nyatanya, aku terlalu pintar menipu diri dengan senyuman. Aku terlalu mahir bermain peran "baik-baik saja" Aku tidak butuh materi yang berlebih, Aku juga tak begitu ingin sebuah kejutan ataupun hadiah mewah, Yang ku butuhkan hanyalah rangkulan dari seseorang. Seseorang yang paham bahwa jauh sudah diri ini terluka. Seseorang yang tahu bahwa aku tengah sekarat saat ini. Seseorang yang begitu menyayangi "aku" yang dulu. Aku yang sesungguhnya baik-baik saja. Seseorang yang mungkin saja kamu ataupun orang lain.. Tolong sekali lagi, Tolong bebaskan aku dari kesemuan dunia ini. Tolong lepaskan aku dari rasa sepi yang terlalu menye...

Mengenai Hubungan..

Pernah ada yang bilang, bahwa diantara kami. Hanya aku yang begitu mencintainya. Pernah ada yang menduga, jika hubungan kami tidak akan bertahan lama. Pernah juga ada yang mendoakan semoga kami lekas berpisah. Tapi bahkan sampai detik ini, semua itu tidak pernah benar. Bagiku, perasaannya terhadapku bukanlah sebuah candaan. Sampai saat ini, dia membuktikan dirinya selalu ada di saat bahagi pun terpurukku. Di saat keadaan begitu menyiksa diri. Di saat yang lain pergi tanpa sepatah kata. Pun ketika rasanya dunia ini akan runtuh di atas kepalaku. Dia menolong, meraih dan menggenggam tangan ini. Lalu, komentar seputar akan segera berakhir nyatanya juga belum pernah terbukti. Pernah berpikir untuk menyerah, tapi dia menolak dengan caranya. Dia meyakinkan diriku. Mengajak ku berdiskusi tentang komitmen yang aku dan dia telah sepakati. Tapi hubungan ini bukan hanya sebatas komitmen bersama. Hubungan ini juga berlandaskan rasa takut meninggal dan di tinggalkan. Takut di lukai ...

Perihal Masa Lalu

Perihal masa lalu,sebenarnya aku tidak mau repot-repot mengurusnya. Aku percaya kau juga bisa mengurusnya. Pun jika kau berniat berdamai dengannya, tentunya setelah hatimu benar-benar pulih dari semua hal yang menyakitimu di masa lampau. Akupun juga sama sepertimu. Punya masa lalu dan tentu punya luka yang cukup mendalam. Setelah bersama, kita putuskan untuk melupakan kisah yang silam. Kita obati bersama-sama hati yang patah. Lalu, setelah bisa bernafas dengan lega, kita sepakat untuk bersama dan sepaket untuk melupa. Tapi nyatanya rintangan dalam hubungan kita terlalu banyak di ganggu oleh orang-orang masa lalu. Dariku, ia yang dulu sangat begitu ku cintai sepenuh hati kembali datang dengan penuh pengharapan untuk bersama kembali. Dan kaupun mengeram dengan dada yang di penuhi rasa takut. Katamu, kau takut kehilanganku. Kau berharap aku tetap memilihmu di sisi. Dan ya, ku lakukan untuk mu. Sedang darimu, ia yang dulu kau patahkan (juga) masih berharap kau bisa kembali dan me...