Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Perusak Hubungan Orang?

Kak, jika kau pikir di tuduh merebut kekasih orang itu adalah hal yang keren,mungkin kau salah. Aku tidak pernah ada niatan lagi untuk merebut pria milik orang agar menjadi milikku. Tidak,ketika aku sendiripun pernah merasakan bagaimana sakitnya ada di posisi wanitanya. Bagiku mereka yang datang hanyalah teman. Tidaklah lebih. Sebab selama ini aku hanya mendengarkan segala keluhan mereka tentang kekasihnya,lain dari itu aku hanya menasehati mereka untuk memperbaiki hubungan kalian. Bukan menghasutnya untuk mengakhiri dan berlari kepelukanku. Begini,sebelum kau menuduhku,mungkin ada baiknya kau memperbaiki diri terlebih dahulu. Coba tanyakan mengapa bisa lelakimu datang padaku? Sedangkan aku tidak pernah menggodanya. Jadi,tak selamanya ‘perempuan yang bersimpati’ dengan kekasihmu itu berniat merebut dia darimu. Bisa jadi kaulah penyebab dia melarikan diri. Bisa jadi kaulah yang tak lagi memberinya kenyamanan. Lantas mengapa menyalahkan orang lain atas kesalahanmu? Lain hal ...

Harusnya Sadar

Jika kau terlalu sibuk dengan dunia dan segala urusanmu,lebih baik selesaikan saja dulu semuanya. Baru setelah itu datang padaku. Jangan sebentar muncul lalu sekejap menghilang. Pada awalnya aku terlalu banyak menuntut padamu. Setelah ku pikir-pikir,sikap seperti ini tak pantas untuk di pertahankan. Sebab,jadinya kau ku abaikan dan hubungan kita terasa merenggang. Tadinya ku kira,jika aku sudah memaklumi keadaanmu. Maka kau bisa sedikit sadar dengan kebutuhanku dalam meminta waktumu. Aku tak marah pada hobimu. Aku juga tak melarang kau bermain dengan temanmu. Tapi ingatlah pada aku. Aku yang masih butuh kabarmu. Aku yang masih butuh waktumu untuk berbagi cerita. Begitu banyak hal yang kau minta untuk ku pahami,tapi mengapa kau juga tak bisa memahami satu kebutuhan pentingku itu? Mengalah terus menerus bukanlah pekerjaan yang mudah. Saat setiaku di pertaruhkan, kau menghilang entah kemana. Ya,aku menanti dan terus menanti lelakiku memberi kabar,namun entah kenapa ponsel itu...

Karena Aku Rindu

Aku rindu pertengkaran kita. Saat kau diamkan kemarahanku. Saat dimana hanya pelukmu yang menjelaskan begitu menyesalnya dirimu. Saat dimana pukulan di dadamu tak lagi mampu menandingi kecepatan air mataku yang jatuh begitu saja tanpa ku perintahkan. Aku rindu menghabiskan waktu bersamamu. Tanpa ponsel di genggaman tanganmu. Tanpa abai yang menghapus kehadiranku. Hanya ada kau dan aku dengan segudang obrolan yang membuat kita lupa akan senja. Aku rindu dengan cemburumu yang liar. Dimana kemarahan selalu merasukimu. Dimana setiap tindakanku terlihat begitu menyebalkan bagimu. Dimana pada akhirnya dengan wajah malu-malu,kau mengakui benci melihatku terlalu dekat dengan laki-laki selain dirimu. Dan,akhirnya aku merindukan kehadiranmu di sisiku. Karena aku suka mendengar tawamu. Karena aku mengagumi cacianmu. Karena aku menggilai semua lelucon bodohmu. Juga, karena aku baru menyadari sudah terlalu banyak aku mencintaimu.

Tidak Akan Pernah

Kita punya cerita,dulu. Cerita tentang tawa dan kesedihan. Tentang sebuah pengorbanan,juga perjuangan. Kau sangat mengesankan. Tutur katamu,perlakuanmu yang membuatku sulit lupa siapa sisi lain yang ku temui saat terakhir kali kita menghabiskan hari dengan riuh pertengkaran. Bagimu,aku adalah tuan putri yang pantas di sanjung. Dan untukku,kau adalah lelaki terhebat yang tahu persis bagaimana memperlakukanku dengan baik. Sayangnya waktu berjalan terlalu cepat. Masa yang begitu indah lekas berganti suram. Sejak kapan kau mulai berubah,akupun sudah tidak lagi ingat. Yang begitu melekat di ingatanku persis ketika kau lebih sering meneriakiku. Melampiaskan emosi yang akupun sendiri tak pernah tahu siapa penyulutnya. Kian kesini,kau semakin tak ku kenali. Kekasihku yang ramah. Kekasihku yang begitu lembut mulai sering marah-marah. Mulai senang membohongiku. Mulai sering lupa mengabari,juga menepati janji. Seakan-akan waktunya bukan lagi untukku. Lalu kebenaran mulai menunjuk...

"Ibu"

          Untuk seseorang yang ku panggil;ibu. Hai,sudah berapa lama kita saling mengenal? Oh sudah semenjak aku di lahirkan di dunia ini. Kita ternyata sudah berjalan terlalu jauh,bukan? Adakah kau sekali saja melirik segala kejadian yang pernah kita lalui?           Ibu,meski aku tak mewarisi rupamu. Aku tetap menyayangimu.           Ibu,meski darahmu tak mengalir di tubuhku. Aku tetap mencintaimu. Aku sadar sekarang semuanya telah berbeda. Kau memilih menjalani hidup bersama orang-orang yang tak sepenuhnya peduli kepadamu. Sedangkan aku,melalui hari bersama orang-orang yang mencintaiku sepenuh hati meski tak ada kau di dalamnya. Ibu,momen ulang tahun adalah hal yang begitu special untukku. Setiap kali aku menghitung momen bahagia itu tiba, aku selalu menyelipkan harapan bahwa kau juga akan turut berbahagia untukku. Mengucapkan kata “selamat” tanpa...

Pee.

Ada sebuah persahabatan yang gagal aku pertahankan. Sahabatku itu panggil saja “ Pee ”. Ketika memperhatikannya sejak aku menginjakkan kaki di kelas itu, Pee adalah orang pertama yang masuk dalam list “orang yang harus hindari”. Tapi semua itu berubah dalam sekejap ketika aku tiba-tiba saja merasa harus bersimpati padanya. Sejak saat itu, Pee dan aku menghabiskan waktu bersama. Berbagi cerita suka dan duka. Aku tahu sejak awal Pee dan aku punya karakter yang beda. Pee memiliki sifat manja dan lemah sedangkan aku sebaliknya. Aku tidak suka segala sikap perempuan yang melekat di diri Pee . Tapi,semua kedekatan ini terjalin tanpa pernah aku rencanakan sebelumnya. Hingga pada akhirnya,masa penyatuan karakter itu mencuat. Di usia yang masih bimbang,aku dan Pee sama-sama saling menolak bentuk kedewasaan kami. Pertengkaran dan permusuhan adalah pemilik bagian yang paling banyak di kisah kami. Namun ada satu fakta unik yang hingga detik ini selalu saja membuatku tertawa. Jika aku dan ...

Jangan Cepat Menyerah.

Sejauh ini kamu bertindak benar. Tak pernah salah. Penjelasan demi penjelasan,juga,keyakinan demi keyakinan yang kau coba utarakan bisa ku terima dengan baik. Hanya saja,terkadang rasa cemas menghinggapi pikiranku. Kepahitan masa lalu tak seharusnya ku imbaskan pada dirimu. Aku mengaku salah,maafkan aku. Kau berhak mendapatkan kepercayaanku. Namun ketakutan akan kegagalan-kegagalan ku yang lalu masih menyulitkanku untuk mengambil langkah itu. Jujur,aku terlalu takut bermain hati hingga akhirnya aku menjalaninya bersamamu dengan hati-hati. Aku takut terluka,juga takut kecewa. Sebisa mungkin aku bernegosiasi pada diriku sendiri. Mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa lelakiku pantas di percayakan untuk menjaga sebuah hati yang bagiku terlalu berharga. Ku mohon jangan lelah untuk menghadapiku. Sebab jauh di dalam hatiku,pelan-pelan aku berusaha memupuk rasa percaya padamu. Mungkin belum sepenuhnya sempurna,tapi akan selalu ku usahakan semaksimal mungkin. Biarkan waktu yang memb...

Bukan Hanya Aku.

Namanya kekasih,begitu aku memanggilnya. Dia adalah semestaku. Dia adalah penenang yang selalu mampu menguatkanku. Namun tak semua hatinya sepenuhnya milikku. Ada nama lain yang menghuni salah satu ruang di hatinya. Nama yang selama ini ia coba untuk abaikan. Dan nama yang selama ini selalu mengusik seisi pikiranku. Meski bibirnya mengatakan tidak,aku melihat mata jernihnya masih berbinar ketika nama itu tersebutkan. Aku iri. Amat sangat iri pada perempuan yang masih setia menghuni sudut hatinya juga sepintas melintas di pikirannya. Aku mencoba mengerti bahwa sosok itu sudah berlalu di kehidupannya. Tapi rasa-rasanya di setiap saat seperti ia membawa-bawa kembali hadirnya di antara kami. Setiap ku dapati hatinya tak bersamaku,jujur aku merasa begitu terluka. Sebegitu hebatnya perempuan itu melekat di kekasihku. Hingga aku yang mencoba mati-matian berusaha mengalihkan dunianya saja bisa kalah. Bagaimana caranya agar ia sadar bahwa akulah kini masa sekarangnya. Bagaimana caranya...

Di Keadaan yang Salah

Ini semua telah salah sejak malam itu. Sejak dia yang memutuskan memulai percakapan. Sejak dia yang mendesakku dengan seribu pertanyaan tentang hal yang bersifat privasi. Dia yang diam-diam memasuki ruang lingkup pribadiku. Sejak dia sedikit demi sedikit membahas soal perasaan. Aku tidak secara gamblang menceritakan segalanya. Hanya pada bagian-bagian yang tidak terlalu inti dan tidak butuh banyak uraian. Malam itu,ia menjadi pendengar yang baik. Amat sangat baik,hingga ia tabah membaca serentetan kalimat panjang yang aku ketik. Dan malam itu,semua berakhir dengan suasana sendu. Setelah itu,ia semakin sering mengabari. Bertanya mengenai apa saja tentang studi kami -yang notabene satu kelas- lalu perlahan-lahan mulai menyerempet soal perasaan. Aku merasa nyaman. Berbincang tentang banyak hal. Lama-lama aku mulai tahu kebiasaannya. Aku mulai hapal setiap kegiatannya di luar jam belajar. Dan aku juga semakin tahu bahwa,ada sebuah rasa yang mulai tumbuh untuk dia yang telah di mil...