Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Tahun Ketiga

Berjalan dengannya selama 36 bulan tanpa putus-nyambung itu jelas bukan perkara yang mudah. Dan untuk pertama kalinya aku dan dia menjalani sebuah hubungan selama ini. Banyak halangan juga rintangan. Baik dari egoku dan egonya ataupun dari pihak-pihak luar yang berusaha menggoyahkan. Dulu ya, ada saja orang ketiga yang berusaha masuk ke dalam hubungan ini. Ada saja yang tak suka dengan jalinan asmara ini hingga mungkin menyindir dari sosial media sampai barangkali mengumpat atau mendoakan agar kami segera berpisah. Semuanya, amat sangat menyenangkan. Baik suka dan duka, pelan-pelan di rasa dan di lalui bersama. Permasalahan ku selalu pada rasa cemburu ku. Dan permasalahannya selalu pada perlakuannya terhadapku. Bukan bertindak kasar ataupun hal-hal buruk lainnya. Dia hanya berusaha menjadi pribadi baru dari masalalunya dalam menjalani hubungan denganku. Ya, rasa kegagalannya dalam membina sebuah hubungan dulu membuatnya banyak was-was. Untuk satu sudut pandang itu, aku paham. Tid...

Tentang Menghargai.

Tidak ku minta kau memberi ku sebuket bunga. Tidak ku minta kau untuk mengajak ku makan malam romantis. Tidak ku minta kau untuk memberikanku kejutan-kejutan di setiap bulannya. Salah satunya, ku mau kau untuk belajar menghargai. Entah itu waktu, pengorbanan atau bahkan kesabaran. Sebab itu tak mudah. Tetap baik-baik saja walau di hatiku begitu gundah. Aku paham, kita berada di satu titik menyatukan pendapat juga ego. Tapi coba pahami kini siapa yang lebih dulu mengalah pada siapa. Bersama mu, tentu aku bahagia. Selalu pada hal-hal sederhana kau buat ku tertawa. Namun terkadang kau lupa, jika perbuatan dan perkataan adalah senjata tajam untuk menyakiti hati. Tak apa-apa jika terus mau begini. Kau ingin menunjukkan kekuasaanmu atasku pun tidak masalah. Tapi tentu jangan lupakan, bahwa sampai kapan aku bisa bertahan dengan mu jika kau pun tidak tau bagaimana caranya menghargai aku. Diam mu mempunyai banyak makna. Sekali lagi ku katakan. Pun, senyum mu bermakna ambigu. Aku ...

Pengalaman Yang Tidak Tahu Harus Berjudul Apa

Semua di mulai saat memasuki sekolah menengah atas. Banyak hal yang terjadi saat memasuki tahun pertama. Saat itu malas dan juga keasikan menemukan banyak teman juga sahabat membutakan ku. Hingga tahun ke dua, seseorang berkata "Ya, jurusan itu cocok untuk mu. Tidak perlu berpikir susah. Cukup hanya menghapal dan aku yakin kau menjadi bagian terburuk juga." begitu dia tahu aku memilih jurusan sosial. Tersinggung? Tentu. Dia meremehkan ku, pikirku. Ucapannya kala itu menjadi salah satu penyemangatku untuk membuktikan padanya jika ia salah menilaiku. Selain itu juga, dari sekian banyak teman-teman yang menyayangkan keputusanku, dia ( yang tak perlu ku sebutkan lagi) malah berpikir berbeda. Dia juga memotivasiku. Mendukung penuh setiap keputusan yang aku ambil. Sejak saat itu aku berubah. Sekolah ku jadikan tempat bermain dan tidur dan sedikit menjadi sarana belajar ku. Tapi tengah malam ku jadikan waktu ku untuk belajar penuh. Mungkin sejak itulah insomnia berangsur akut...