Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Lelaki Penuh Drama

            “Aku berharap,kau yang terakhir untukku”             Aku menggigit bibir bawahku saat dia mengucapkan kalimat itu. Tidak. Aku tidak ingin seperti ini. Aku menatap frame foto berbingkai merah muda itu. Ada lelaki itu disana. Tersenyum dengan seorang perempuan yaitu aku. Senyuman hangatnya membuatku merasa bersalah pada lelaki yang sedang berada di ujung telepon ini. Harus bagaimana aku menghadapi ini. Dia begitu baik kepadaku. Begitu amat menyayangiku. Tapi,kenapa dia harus memilihku menjadi tempat terakhir? Kenapa dia berharap setelah beberapa tahun yang lalu aku merapal doa untuk memilih laki-laki di frame foto itu menjadi tujuan akhirku?             Aku memilih diam. Sibuk berdialog dengan diri sendiri. Merutuki kebodohanku yang telah lancang mempersilahkan dia memasuki duniaku. Semakin sulit rasanya untuk mengakhiri hubungan...

Untuk Kamu...

            Untuk kamu yang telah mengisi kekosongan di hati ini,maaf karena harus meninggalkanmu lagi. Mungkin memang kita di takdirkan untuk tidak bersama. Meski di malammu yang sunyi kau menyebut namaku dalam doa. Tapi kenyataan yang terjadi diantara kita hanya membuat kita terluka. Bagiku,kau adalah laki-laki yang mampu membuatku nyaman. Laki-laki yang dengan penuh kesabaran serta pengertian menghadapi tingkahku yang berlebihan dan menguji iman. Namun,pertengkaran kita selama ini telah melunturkan segala rasa yang pernah tumbuh di dalam dada. Getar-getar asmara itu sudah hilang entah kemana.             Untuk kamu yang selalu merasa gagal mengerti aku,kita telah berjalan beberapa minggu namun perjalanan ini seperti terasa berabad-abad lamanya. Denganmu aku merasa hambar secara perlahan. Walau seribu kalimat cinta dan permohonan yang kau ucap nyatanya tidak mampu mengetuk pintu hatiku. Kau te...

Senja di Tepi Pantai

          Perempuan itu terdiam seketika setelah mendengarkan kalimat yang terucap dari laki-laki yang sedang berusaha keras mengalihkan dunianya. Sore itu,saat senja menampakkan keindahannya di bibir pantai dengan suara ombak yang menyentuh lembut kaki-kaki mereka menjadi saksi bisu dari dua anak remaja yang kini telah selesai mengerjakan tugas mereka sebagai pelajar. Laki-laki itu masih tidak bergeming. Berharap perempuan yang ada di hadapannya kini merespon niat baiknya. Perlahan-lahan,perempuan itu berjalan mundur. Menciptakan jarak diantara mereka. Dia tidak lagi menatap laki-laki itu. Perhatiannya sudah di pusatkannya pada matahari yang sedang mengucapkan kata perpisahan pada seluruh makhluk Tuhan yang tengah mengaguminya.           “Satira,jawab aku” laki-laki itu berusaha mengambil alih pandangannya. Menarik kembali perempuan itu dari dunianya.           “...

Kekhawatiran.

“Aku ingin menunggunya. Melakukan hal yang sama denganmu” perempuan itu masih fokus pada jalanan di depannya. Sedari tadi,senyumnya tak pernah pudar. Padahal,baru beberapa menit yang lalu dia uring-uringan karena ‘serangan mendadak’ dari kekasihnya yang barusan saja resmi menjadi mantan. “Kamu gila! Kamu tidak akan tahan menjalaninya” protesku dengan menampilkan raut wajah marah bercampur kesal. Apa dia berfikir menunggu itu enak? “Kamu aja sanggup menjalaninya hingga bertahun-tahun. Kenapa aku gak bisa? Lagian juga dia masih bisa pulang mengunjungiku sesekali” wajahnya terlihat anteng-anteng saja. Seolah semua keputusannya itu bukanlah masalah besar ataupun hal yang rumit untuk di hadapi. “Bagi orang sepertiku,menunggu seseorang itu tidaklah enak,Satira. Harus menahan hati untuk satu orang hanya untuk membuktikan padanya bahwa kita setia. Bahwa cinta yang kita punya juga layak ia miliki” nada suaraku melembut. Bagaimanapun,sebagai seorang teman yang baik,aku harus menyadarkanny...

Untuk Sang Pemikat Rasa Kagum.

            Hari tampak begitu kelelahan. Malam nampak semakin tua. Rasa kantuk semakin terus memaksa mata untuk terpejam. Memerintahkan otak,mata dan perasaan beristirahat. Namun,yang ku lakukan sedari tadi hanyalah menyelami pikiranku tentang hari esok. Mengingat-ingat apa saja hal yang harus ku lakukan. Mereka-reka waktu strategis untuk diri sendiri.             Jarum jam masih setia berdetak untuk sang waktu. Nyanyian merdu para binatang malam masih mampu di dengar oleh telinga. Lambat laun menghantarkanku pada seseorang yang sudah sejak awal menyita perhatianku. Tidak pernah bertemu. Tidak pernah berbicara secara langsung. Aku dan dia hanya berinteraksi dengan sosial media. Aku yang begitu mengagumi setiap kata-kata cinta miliknya. Sedangkan dia yang begitu mahir menuangkan rasa pada sajak-sajak cinta. Sederhana namun tepat menusuk ulu hati bagi siapa saja yang membacanya. Untuk siapa saja ...

Bukan Hanya Kamu yang Berjuang.

            Malam ini sepi terasa sangat nyata. Pasalnya sejak senja menjemput matahari,tidak ada satupun kabar darimu. Entah apa sebabnya hingga kau memilih berhenti memberi kabar kepadaku. Setengah dari hatiku meronta juga menggerutu karenamu. Lambat laun sepertinya aku mulai nyaman berkomunikasi denganmu. Lama-lama aku terbiasa pada setiap perbincangan kita lewat telepon genggam.             Tapi kali ini kau memilih pergi lagi. Menghilang lagi setelah berhasil membuatku merasa aman. Apakah ini karena aku berkali-kali menolak inginmu? Seharusnya kau tidak menyerah. Seharusnya kau berusaha mencuri lagi bagian dari hatiku dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Walau aku memilih mengabaikan perjuanganmu bukan berarti aku benar-benar benci. Aku hanya ingin kau belajar bahwa mendapatkan cinta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Agar suatu saat nanti ketika kita bersama,kau paham bahwa untuk m...