Lelaki Penuh Drama
“Aku berharap,kau yang terakhir untukku” Aku menggigit bibir bawahku saat dia mengucapkan kalimat itu. Tidak. Aku tidak ingin seperti ini. Aku menatap frame foto berbingkai merah muda itu. Ada lelaki itu disana. Tersenyum dengan seorang perempuan yaitu aku. Senyuman hangatnya membuatku merasa bersalah pada lelaki yang sedang berada di ujung telepon ini. Harus bagaimana aku menghadapi ini. Dia begitu baik kepadaku. Begitu amat menyayangiku. Tapi,kenapa dia harus memilihku menjadi tempat terakhir? Kenapa dia berharap setelah beberapa tahun yang lalu aku merapal doa untuk memilih laki-laki di frame foto itu menjadi tujuan akhirku? Aku memilih diam. Sibuk berdialog dengan diri sendiri. Merutuki kebodohanku yang telah lancang mempersilahkan dia memasuki duniaku. Semakin sulit rasanya untuk mengakhiri hubungan...