Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

"Ibu"

          Untuk seseorang yang ku panggil;ibu. Hai,sudah berapa lama kita saling mengenal? Oh sudah semenjak aku di lahirkan di dunia ini. Kita ternyata sudah berjalan terlalu jauh,bukan? Adakah kau sekali saja melirik segala kejadian yang pernah kita lalui?           Ibu,meski aku tak mewarisi rupamu. Aku tetap menyayangimu.           Ibu,meski darahmu tak mengalir di tubuhku. Aku tetap mencintaimu. Aku sadar sekarang semuanya telah berbeda. Kau memilih menjalani hidup bersama orang-orang yang tak sepenuhnya peduli kepadamu. Sedangkan aku,melalui hari bersama orang-orang yang mencintaiku sepenuh hati meski tak ada kau di dalamnya. Ibu,momen ulang tahun adalah hal yang begitu special untukku. Setiap kali aku menghitung momen bahagia itu tiba, aku selalu menyelipkan harapan bahwa kau juga akan turut berbahagia untukku. Mengucapkan kata “selamat” tanpa...

Pee.

Ada sebuah persahabatan yang gagal aku pertahankan. Sahabatku itu panggil saja “ Pee ”. Ketika memperhatikannya sejak aku menginjakkan kaki di kelas itu, Pee adalah orang pertama yang masuk dalam list “orang yang harus hindari”. Tapi semua itu berubah dalam sekejap ketika aku tiba-tiba saja merasa harus bersimpati padanya. Sejak saat itu, Pee dan aku menghabiskan waktu bersama. Berbagi cerita suka dan duka. Aku tahu sejak awal Pee dan aku punya karakter yang beda. Pee memiliki sifat manja dan lemah sedangkan aku sebaliknya. Aku tidak suka segala sikap perempuan yang melekat di diri Pee . Tapi,semua kedekatan ini terjalin tanpa pernah aku rencanakan sebelumnya. Hingga pada akhirnya,masa penyatuan karakter itu mencuat. Di usia yang masih bimbang,aku dan Pee sama-sama saling menolak bentuk kedewasaan kami. Pertengkaran dan permusuhan adalah pemilik bagian yang paling banyak di kisah kami. Namun ada satu fakta unik yang hingga detik ini selalu saja membuatku tertawa. Jika aku dan ...

Jangan Cepat Menyerah.

Sejauh ini kamu bertindak benar. Tak pernah salah. Penjelasan demi penjelasan,juga,keyakinan demi keyakinan yang kau coba utarakan bisa ku terima dengan baik. Hanya saja,terkadang rasa cemas menghinggapi pikiranku. Kepahitan masa lalu tak seharusnya ku imbaskan pada dirimu. Aku mengaku salah,maafkan aku. Kau berhak mendapatkan kepercayaanku. Namun ketakutan akan kegagalan-kegagalan ku yang lalu masih menyulitkanku untuk mengambil langkah itu. Jujur,aku terlalu takut bermain hati hingga akhirnya aku menjalaninya bersamamu dengan hati-hati. Aku takut terluka,juga takut kecewa. Sebisa mungkin aku bernegosiasi pada diriku sendiri. Mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa lelakiku pantas di percayakan untuk menjaga sebuah hati yang bagiku terlalu berharga. Ku mohon jangan lelah untuk menghadapiku. Sebab jauh di dalam hatiku,pelan-pelan aku berusaha memupuk rasa percaya padamu. Mungkin belum sepenuhnya sempurna,tapi akan selalu ku usahakan semaksimal mungkin. Biarkan waktu yang memb...

Bukan Hanya Aku.

Namanya kekasih,begitu aku memanggilnya. Dia adalah semestaku. Dia adalah penenang yang selalu mampu menguatkanku. Namun tak semua hatinya sepenuhnya milikku. Ada nama lain yang menghuni salah satu ruang di hatinya. Nama yang selama ini ia coba untuk abaikan. Dan nama yang selama ini selalu mengusik seisi pikiranku. Meski bibirnya mengatakan tidak,aku melihat mata jernihnya masih berbinar ketika nama itu tersebutkan. Aku iri. Amat sangat iri pada perempuan yang masih setia menghuni sudut hatinya juga sepintas melintas di pikirannya. Aku mencoba mengerti bahwa sosok itu sudah berlalu di kehidupannya. Tapi rasa-rasanya di setiap saat seperti ia membawa-bawa kembali hadirnya di antara kami. Setiap ku dapati hatinya tak bersamaku,jujur aku merasa begitu terluka. Sebegitu hebatnya perempuan itu melekat di kekasihku. Hingga aku yang mencoba mati-matian berusaha mengalihkan dunianya saja bisa kalah. Bagaimana caranya agar ia sadar bahwa akulah kini masa sekarangnya. Bagaimana caranya...

Di Keadaan yang Salah

Ini semua telah salah sejak malam itu. Sejak dia yang memutuskan memulai percakapan. Sejak dia yang mendesakku dengan seribu pertanyaan tentang hal yang bersifat privasi. Dia yang diam-diam memasuki ruang lingkup pribadiku. Sejak dia sedikit demi sedikit membahas soal perasaan. Aku tidak secara gamblang menceritakan segalanya. Hanya pada bagian-bagian yang tidak terlalu inti dan tidak butuh banyak uraian. Malam itu,ia menjadi pendengar yang baik. Amat sangat baik,hingga ia tabah membaca serentetan kalimat panjang yang aku ketik. Dan malam itu,semua berakhir dengan suasana sendu. Setelah itu,ia semakin sering mengabari. Bertanya mengenai apa saja tentang studi kami -yang notabene satu kelas- lalu perlahan-lahan mulai menyerempet soal perasaan. Aku merasa nyaman. Berbincang tentang banyak hal. Lama-lama aku mulai tahu kebiasaannya. Aku mulai hapal setiap kegiatannya di luar jam belajar. Dan aku juga semakin tahu bahwa,ada sebuah rasa yang mulai tumbuh untuk dia yang telah di mil...