Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Sepuluh Tahun yang Lalu.

          Kita duduk saling berhadapan. Seperti orang asing yang baru saja bertemu beberapa detik yang lalu. Hening. Tidak ada satupun diantara kita yang ingin membuka pembicaraan lebih dahulu. Hanya ada suara riuh canda dan tawa yang terdengar dari pengunjung di sekeliling kita.           Sepuluh tahun yang lalu,kita senang mengunjungi tempat ini. mengambil tempat duduk yang dekat dengan colokan listrik agar bisa menyelesaikan tugas kita bersama-sama. Kita akan memesan minum yang sama. Persis seperti yang saat ini sedang terjadi diantara kita. Bedanya,dulu kita tidak pernah sungkan untuk tertawa bersenda gurau. Sekarang,kita memilih bungkam. Mendiamkan segala debar di dalam dada.           Sepuluh tahun yang lalu,tepat di hari kelulusan kita. Kau mengajakku untuk bertemu. Dengan sebuah senyum merekah,kau mengatakan akan pindah ke kota impianmu. Yogja. Kota yang penuh ...

Lelah.

          Semua orang bertanya-tanya mengapa bisa segila ini aku bertahan untukmu. Sebagian dari mereka merasa salut dengan perjuanganku. Sebagian lagi menatap sedih melihatku berusaha terlalu keras menyentuh hatimu. Aku punya alasan kuat. Aku punya janji yang berusaha ku tepati ketika hati ini memilihmu. Dan satupun dari mereka tak memahami hal ini.           Kamu punya hak menolak. Begitupun diriku yang juga punya hak untuk mencintai. Tapi cinta tahu sejauh mana batasannya dalam memaklumi. Cinta tahu sejauh mana ia harus bertahan menunggu untuk di miliki. Semua orang takkan ingin ada di posisi ini. Posisi dimana kau harus bisa melepaskan segala harap yang kau jaga. Dimana seluruh rindu harus kau bunuh untuk selamanya. Padahal disisi lain kau sudah terlalu jatuh pada pesonanya. Sudah terlalu sulit menahan jeritan di hati yang tak rela untuk di akhiri.           Kehidu...

Kisah Tak Bernama

          Menyibukkan diri untuk menghindari pikiranku berfokus padamu itu nyatanya sulit. Setiap saat aku melihat mereka yang tertawa bersama. Mendengar mereka bercengkrama membuat bagian dari hatiku merasakan sembilu. Aku iri. Teramat sangat iri melihat mereka bahagia sedangkan aku masih harus memenjarakan rindu yang kapan saja bisa meluap-luap karenamu. Rindu yang selalu mendesakku untuk melihat wajahmu. Rindu yang selalu menghantamku dengan suara khasmu. Rindu yang selalu menuntutku untuk mencari kabarmu.           Pandanganku kosong. Pikiranku melayang tertuju padamu. Di belahan bumi yang lain,kau mungkin sedang menikmati mimpi tanpa peduli dengan seorang wanita yang tengah menahan sesak pilu di hatinya ketika mengingat dirimu. Rasanya seperti menguliti diri sendiri. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab disini aku yang mencintaimu begitu dalam. Dan aku tidak lagi menaruh banyak harap untuk kau balas. Aku...