Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Bahagianya Bisa Mengenalmu.

           Panggilan masuk…           Tekan; jawab “Selamat malam anak gadis yang sangat sulit di hubungi…” suara percikan minyak dalam penggorengan mengisi soundtrack kalimat sapamu.  “Selamat malam juga laki-laki menyebalkan” aku mendengus kesal. “Hei nona,suaramu kenapa?” tanyanya setelah sebelumnya ia tertawa kecil mendengar sapaku.  “Biasa. Penyakit langganan. Suaraku berubah jadi seksi kan?” senyum tipisku tercetak di bibir. Meskipun ia tak bisa melihatnya,tapi aku yakin ia menangkap nada candaku. “Bagiku,kau akan terlihat seksi dan cantik jika kau sehat” jawabnya dengan antusias. Namun,tawa kecilnya masih tetap terdengar. “Jangan membual denganku. Ada apa menelponku?”   “Aku ingin mengajakmu keluar malam ini. Aku ingin berbelanja untuk beberapa keperluan pribadi sekaligus ingin membahagiakan gadis kecil yang sedang mengurung diri karena di tinggal sang ke...

Orang yang Sama

          Barangkali kau memang senang menciptakan bimbang. Menaburkan benih-benih keraguan yang kau biarkan mengambang. Meski aku mengulang berkali-kali bahwa hadirmu pasti akan datang. Menjemput segala rasa yang hampir saja kau ubah menjadi sebuah kenangan.           Seminggu yang lalu aku mengirimu gerimis-gerimis kecil yang di bawa hujan. Aku menitipkan rinduku padanya. Menyisipkan seberkas cemas atas menghilangnya suara-suara manjamu yang selalu berhasil mempengaruhi hari-hariku. Sudahkah sampai rinduku padamu,tuan?           Ku harap kau kan menjaga kumpulan-kumpulan rindu yang selalu ku kirimkan. Agar kelak di suatu hari nanti,ketika kau merasa tidak ada lagi seseorang yang memperdulikanmu di luaran sana. Kau ingat bahwa selalu ada rindu yang bersedia menanti kepulanganmu. Meski kau tak pernah berniat menjadikan ia rumah,setidaknya kau telah mengizinka...

Tak Peru Terburu-buru

          Getar kelima di ponselku sukses membangunkanku dari tidur. Namamu tertera dalam layar dan sekejap sapaanmu terdengar dari seberang sana. Kamu sangat lucu. Melakukan hal-hal yang kekanakan tapi manis bagiku. Katamu,kau melakukan ini agar aku tidak melakukan hal-hal nekat ketika hatiku baru saja patah. Alasan klise,tapi entah mengapa aku begitu suka mendengarnya.           Beberapa hari ini kamu dan aku harus terpaksa berpisah. Disana ibu,ayah juga saudara-saudaramu begitu ingin bertatap muka denganmu setelah hampir 3 tahun mereka tidak melihat rupamu. Aku ingat saat kau bercerita tentang kepulanganmu ke kota kelahiranmu. Dengan wajah bertekuk kau bercerita tak ingin pulang. Bagimu,3 minggu berada di sana cukup membuatmu merasa bosan. Sebab,tak ada yang bisa kau lakukan selain mengecek seluruh hasil perkebunan milik keluarga. Selain itu,kau juga merasa khawatir dengan flu dan demam yang menyerangku set...