Putus Asa.
Ada
cinta yang tak lagi berbentuk. Ada hati yang telah terpaut dengan luka. Ada
rasa yang terajut dengan asa. Untuk kedua kalinya,saya harus memuai semu atas
harapan besar yang saya tabur pada rasa cinta yang dulu hampir menjadi kita.
Benteng besar yang dulu saya bangun dengan kokoh untuk menguatkan hati saya dari
kenyataan yang menyesakkan dada kini seolah menghilang. Sebab karenamu.
Karenamu yang jua tak anggap saya ada. Karenamu yang slalu ragu untuk mampu
menggenggam tangan saya dengan erat.
Hari
ini,sepanjang perjalanan memperjuangkan kamu yang kini saya tempuh sendirian
dengan keberanian di atas normal kini telah menguap melebur bersama lara.
Semangat membara untuk setia pada hatimu kini telah patah. Berkeping-keping
hingga tak lagi punya bentuk yang sempurna. Tetesan air balik pelupuk mata saya
karena kekalahan saya yang telah berjuang mempertahankanmu tak pernah berhenti
mengalir. Meski saya nyatakan dengan tegas pada hati bahwa saya baik-baik saja.
Tapi nyatanya,perasaan saya tak sejalan dengan hati kecil ini.
Tak
pernah sehebat ini saya menangisimu. Tak pernah seberdarah ini saya mempertahankanmu.
Tak pernah sekecewa ini saya menghadapi kenyataan tentangmu. Apa yang salah
dengan saya,tuan? Apa selama ini perasaan saya tak pernah teraba di hatimu? Apa
kasih sayang saya kepadamu tak pernah kamu sadari,tuan? Mengapa dengan begitu
ambigunya kamu lebih memilih orang lain yang baru kamu kenal daripada
saya,tuan?
Selama
ini,ketika saya berkata “Saya akan meninggalkanmu!” kamu akan selalu berusaha
sekuat mungkin untuk membuat saya tetap disisimu. Tapi mengapa dengan lantangnya
sekarang kamu beranjak dari saya? Mengapa dengan angkuhnya kamu merelakan
kepergian saya demi seseorang yang cintanya belum pasti,tuan?
Kamu
mempermainkan saya,tuan. Seharusnya kamu memberikan waktu pada saya untuk bisa
melupakanmu ketika kamu akan memilih yang lain. Seharusnya kamu berhenti
memupuk harapan,jika nantinya kamu akan meninggalkan saya,tuan. Apakah ini
sosok terjahatmu? Apakah ini sifat buruk yang tak pernah saya ketahui dari
kamu,tuan?
Mungkin,kamu
tak akan pernah sadar bagaimana hancurnya hati saya ketika semua waktu yang
bertahun-tahun saya korbankan hanya untuk memilikimu harus berakhir sia-sia.
Terima kasih,tuan. Terima kasih untuk kenyataan yang saya terima. Terima kasih.
Cukup sampai disini saya berjuang untuk bisa menjadi kita. Cukup sampai disini
saya mencintai kamu. Cukup sampai disini luka yang kamu beri . Dan cukup sampai
disini saya mempercayai semua kalimat bijakmu yang nyatanya semua palsu.
Komentar