Kisah Tak Bernama

          Menyibukkan diri untuk menghindari pikiranku berfokus padamu itu nyatanya sulit. Setiap saat aku melihat mereka yang tertawa bersama. Mendengar mereka bercengkrama membuat bagian dari hatiku merasakan sembilu. Aku iri. Teramat sangat iri melihat mereka bahagia sedangkan aku masih harus memenjarakan rindu yang kapan saja bisa meluap-luap karenamu. Rindu yang selalu mendesakku untuk melihat wajahmu. Rindu yang selalu menghantamku dengan suara khasmu. Rindu yang selalu menuntutku untuk mencari kabarmu.
          Pandanganku kosong. Pikiranku melayang tertuju padamu. Di belahan bumi yang lain,kau mungkin sedang menikmati mimpi tanpa peduli dengan seorang wanita yang tengah menahan sesak pilu di hatinya ketika mengingat dirimu. Rasanya seperti menguliti diri sendiri. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab disini aku yang mencintaimu begitu dalam. Dan aku tidak lagi menaruh banyak harap untuk kau balas. Aku sedang belajar untuk mengikhlaskan. Menerima kenyataan bahwa Tuhan berkehandak lain untuk diriku. Kenyataan yang benar-benar pahit;melupakanmu.
          Ini keputusanku,dan aku berharap ini juga adalah keinginanmu. Aku berhenti setelah seluruh tenagaku habis untuk meyakinkan dirimu. Aku mengakui kekalahanku dan memberikan ucapan selamat atas kemenanganmu dalam menolak perasaanku. Meski rasa itu telah berwujud abstrak,tapi aku bangga karena pernah membawanya bertahan sejauh ini. Setidaknya,aku kalah karena sudah pernah berjuang.

          Ku kemasi hatiku juga rindu yang selalu hadir tanpa inginku. Ku bunuh mereka sebisaku dengan sisa-sisa tenaga yang ku punya. Selamat tinggal,kisah yang sulit untuk ku beri nama. Semoga kau bahagia dengan segala jalan dan keputusan yang telah kau ambil. Aku berdoa yang terbaik untukmu juga untukku. Selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik