Meredam Ego
“Hai,Apa
kabar kamu? Semangat ya untuk ujiannya!”
Sesakit
inikah menahan hasrat menghubungimu lebih dulu? Bukan gengsi yang ku
pertahankan,tapi ketakutan yang menghalangi keinginan. Takut tiba-tiba aku
mengganggu waktu pentingmu untuk belajar dan istirahat. Aku mengerti sejauh
mana kamu berjuang menjadi yang terbaik untuk orang tuamu dan aku memahami
kebanggaan mereka adalah prioritas untukmu. Aku masih ingat bagaimana kau
bercerita panjang lebar tentang semua tugas-tugasmu yang menumpuk. Saat itu aku
tersenyum sendiri membayangkan wajahmu yang mungkin sudah bertekuk kesal di
campur rasa lelah. Pada waktu itu aku sempat bertanya-tanya dalam hati ‘bisakah
aku menjadi obat lelahmu? Seperti kamu yang menjadi penyemangat dalam hidupku?’
namun aku menyadarinya tuan. Aku bukanlah apa-apa. Aku bukan perempuan yang
memiliki kehebatan yang mampu menyulap rasa lelahmu menjadi lega.
Mencintaimu
telah mengajariku banyak hal. Walau setiap saat kau mampu menjungkir balikkan
duniaku. Bagiku,kau adalah hutan belantara yang selalu membuatku bingung dan
tersesat. Yang selalu member rasa penasaran untuk bisa mencari-cari jalan
keluar. Sudah seberapa sering aku gagal melupakanmu? Tidak lagi terhitung.
Setiap aku melakukannya,selalu saja ada hal-hal yang membuatku ingat padamu.
Kau tak pernah absen untuk hadir di otakku. Seakan-akan namamu dan semua
tentangmu memang sudah di atur ulang untuk muncul di pikiranku pada waktu-waktu
yang sudah di tentukan. Tapi kau tak pernah menyadari sehebat inilah pengaruh
dirimu bagiku. Dan kau juga tidak akan menyadari sebesar apa aku mencintaimu.
Kau
tahu,tuan? Hal tergila yang ku lakukan terakhir kali untuk membunuh rindu
adalah membaca kembali segala percakapan kita. Hingga aku tak sadar bahwa bulan
telah di gantikan oleh matahari. Dan apakah kau tahu,tuan? Tulisan yang
terlarang ini entah tulisan keberapa yang ku buat untukmu. Padahal sejak malam
pergantian tahun baru,aku melarang diriku sendiri untuk menulis tentangmu. Tapi
bukankah peraturan di buat untuk di langgar?
Tepat
pada malam ini,aku kembali berdialog pada Tuhan. Merapalkan doa dan mengingat
setiap lekuk wajahmu. Agar Tuhan tahu,lelaki inilah yang telah meracuni seluruh
pikiranku. Yang telah membuatku berubah menjadi lebih baik. Yang membuatku
berusaha keras untuk bisa terlihat pantas bersamanya.
Komentar