Mengakhiri Zona Nyaman
Sore itu
aroma ketenangan begitu terasa. Semilir angin berkejar-kejaran menyapa kulitku.
Aroma coklat dengan suhu udara yang mulai terasa sejuk ditutup dengan sempurna
saat senja menyapaku sebelum malam mendominasi langit. Sudah lama aku tidak menginjakkan
kaki pada dataran tinggi ini. Kampung halamanku yang begitu tentram. Beramah
tamah dengan para ibu-ibu yang berjalan pulang setelah berladang.
“Tumben
kemari tiba-tiba,ada apa nduk?” suara lembut ibu merasuki pendengaranku. Ayunan
yang tampak tenang tadi kini sudah berdecit pelan mengayun. Ibu duduk tepat di
hadapanku.
“Gak ada
apa-apa,bu. Hanya rindu suasana seperti ini” senyuman hangat ku berikan untuk
ibu. Di matanya aku melihat ada segurat tanda tanya atas kepulanganku yang
mendadak ini.
“Kamu
gak bisa bohong,nduk. Ibu tahu kalau sudah begini pasti ada sesuatu yang sedang
kamu alami” kekhawatirannya terpancar jelas saat ini. Aku tahu,ibu adalah orang
yang takkan bisa aku bohongi di dunia ini. tapi kenyataannya aku sedang tak
ingin membaginya dengan siapapun saat ini.
“Ibu
mengerti jika kamu masih ingin diam. Tapi ingat nduk,jangan pernah lari dari
masalah” aku tetap diam mendengar nasihat ibu. Apakah benar kedatanganku kesini
karena aku lari dari masalahku? Tapi alasan lain aku disini juga ingin
memikirkan jalan keluar dari masalah
ini. Aku hanya butuh suasa yang tenang agar keputusan yang ku ambil nanti
tepat.
Akhirnya ibu meninggalkanku sendirian di
pekarangan rumah ini. Dering ponsel di saku celanaku membuyarkan segala pikiran
yang melayang-layang tadi. Namamu tercetak jelas. Aku mendengus. Bukan hal yang
tepat untuk berdebat denganmu saat ini.
“Ya?” acuhku ketika
akhirnya panggilan itu ku terima.
“Kamu gak ngabari sih
kalau pergi?” nada sinis dan marahmu dapat aku rasakan di balik kalimatmu yang
datar. Aku tidak ingin menyulut amarahmu. Aktivitas yang seharian ini menyita
perhatianmu cukup membuat aku sadar bahwa saat ini kau sedang lelah.
“Udah pulang ya? Maaf,gak
sempat bilang ke kamu” jawabku selembut mungkin. Padanganku beralih pada
burung-burung yang terbang bergerombolan pulang ke sangkarnya sambil berkicau
senang. Senja mulai pergi perlahan-lahan.
“Iya baru pulang. Aku
bersihin badan dulu ya” sambungan itu terputus begitu saja. Helaan nafasku yang
panjang selaras dengan jatuhnya bulir-bulir di pipiku. Ini semakin terasa
menyesakkan. Ku pikir berada di posisi ini sudah cukup. Tapi nyatanya aku
terlalu terbuai sehingga aku lupa bahwa posisiku di hatinya masih belum aman.
Kembali ku tatap ponsel itu. Wallpapernya adalah fotoku bersamanya. Lelaki yang
begitu aku cintai setulus hati. Lelaki yang sampai detik ini masih
menggantungkan harapanku.
Profil mode pesawat ku
aktifkan. Keputusanku sudah bulat. Sementara aku disini,aku takkan membiarkan
dirimu merecokiku. Biarlah nanti amarahmu yang ku dapat. Aku tidak peduli
lagi,yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan keadaan hatiku yang kau
biarkan hancur begitu saja.
***
Ini hari ketiga belas aku
menjalani hari tanpa kabar darimu. Besok adalah kepulanganku. Malam ini aku
menormalkan profil ponselku. Ada beberapa pesan BBM yang kau kirim dan sebuah
panggilan darimu. Bodoh. Aku terlalu berharap banyak kau akan heboh mencariku
kemana-mana. Tapi nyatanya? Hanya seperti ini saja arti hadirku selama ini
bagimu.
Setelah mengirimu pesan
untuk bertemu 3 jam yang lalu akhirnya batang hidungmu kelihatan. Dengan senyum
mengembang kau mengucapkan beribu maaf karena telah membuatku menunggu lama
hampir satu jam lebih. Seperti biasa juga aku hanya akan memilih menyuruhmu
duduk tanpa menerima permintaan maafmu. Sama seperti beberapa hari yang lalu
kau mengabaikan permintaan maafku.
“Mau pesan?” tawarmu
dengan senyum yang masih kau sunggingkan. Seperti hari ini seluruh bunga di
dunia sedang bermekaran.
“Aku sudah lebih dulu
memesan” jawabku seadanya.
“Kamu memesan 3 cangkir
kopi? Itu tidak sesuai dengan perjanjian kita,Zian” aku hanya menatapmu dengan
datar. Memang,dia tahu aku adalah penikmat kopi. Selain sebagai penikmat,kopi
adalah pelampiasanku ketika sedang memiliki masalah yang berat. Dan dia tidak
suka dengan kebiasaanku ini. Tapi saat ini aku sudah tidak peduli dengan
peraturannya. Yang terpenting sekarang masalah ini harus selesai.
“Kamu lagi punya masalah?
Cerita aja ke aku,jangan larikan ke kopi seperti ini” benarkah wajah
kekhawatiranmu selama ini murni karena kau peduli padaku? Seperti ada cinta di
tatapan itu tapi kenapa kita seperti saat ini. Berdekatan tapi kapanpun bisa
saja berjauhan.
“Aku udah lelah,Di. Dengan
hubungan kita yang seperti ini” aku menjatuhkan tubuhku bersandar pada kursi
ini. Memijit sedikit keningku. Memilah-milah kalimat yang baik agar kau
mengerti maksud aku meminta kita bertemu.
“Apa yang salah,Zi?” kau
seolah-olah tak tahu bagaimana kita sesungguhnya. Tujuh tahun aku terpenjara
pada cintamu yang hanya membawaku pada hubungan yang tak bernama ini.
“Jelas selama ini kita
salah. Kita ini hanya teman. Mengapa sikap kita jadi melebihi teman?” emosiku
terpancing. Kau selalu tampak buta dengan segala yang aku tunjukkan padamu.
Berpura-pura atau memang kau tak peduli dengan yang aku inginkan.
“Bukankan alasannya
sederhana? Karena kau mencintaiku”
“Lalu bagaimana dengan
dirimu? Apakah kau juga mencintaiku?” pertanyaan telak akhirnya ku layangkan
padamu. Kau terdiam. Menundukkan pandanganmu.
“Kenapa kita jadi membahas
ini? Lupakan. Bagaimana liburanmu?” senyum simpul darimu membuatku muak. Selalu
saja mengalihkan pembicaraan ketika kau merasa tidak ingin membahasnya.
“Karena aku ingin membahas
tentang kita bukan tentang yang lain” pandanganku tepat menusuk. Kau seharusnya
mengerti kita dalam keadaan yang serius saat ini. Wajahmu tampak mengeras
menahan emosi. Tapi apa peduliku? Yang ku butuhkan saat ini adalah jawaban
darimu.
Hening. Kau memilih diam.
Mengalihkan tatapan pada objek lain yang kau anggap lebih menarik. Membuatku
kembali menggunakan tenaga ekstra untuk sabar. Tak ada yang ingin berada di
posisiku. Tidak ada,meskipun mereka bilang aku adalah perempuan beruntung yang
bisa menempel dengan lelaki super cuek seperti Rahardian ataupun perempuan
tangguh yang tetap berdiri disisinya selama ini.
“Kenapa diam?”
“Aku bingung mau
menjawabnya” pandanganmu belum beralih. Benar-benar membuatku tidak habis pikir
mengapa aku bisa bertahan sampai selama ini? bertahan pada laki-laki yang
memonopoli hidupku dengan sesukanya.
“Tanyakan hatimu jika kamu
ingin tahu jawaban yang sesungguhnya. Seberapa penting aku bagimu dan benarkah
aku yang kau pilih untuk menjadi wanitamu”aku mendengus. Menghela nafas dengan
berat.
“Kamu penting. Tapi
mungkin…tolong jangan paksa aku menjawabnya” tatapan memohon yang kau beri
benar-benar membuatku terdiam. Pria yang ku banggakan ternyata sepengecut ini.
Pria yang ku prioritaskan ternyata tak bisa menentukan pilihan. Benar-benar
kasihan mendapati diriku tak pernah ada di hatinya. Sepintaspun tak pernah.
“Kalau begitu jauhi aku”
kalimat telak itu membuatmu menatapku dengan tegas. Ini keputusanku. Aku
berhenti mengikuti permainanmu.
“Maksudmu?” nada tak
percaya bercampur emosi itu mendominasi. Aku tahu,untuk pertama kalinya aku
membantah keputusanmu. Melawan egomu. Tapi ini adalah fakta yang harus kau
terima.
“Kita akhiri hubungan yang
tak bernama ini” aku melangkah pergi. Meninggalkanmu seorang diri. Bulir-bulir
itu kembali menyeruak. Bahkan harapan kau akan mengejarku tidak lagi aku
inginkan. Setelah ini semuanya akan berbeda. Aku bukan lagi berada fase
istirahat ketika lelah menghadapimu. Aku berada dalam fase lelah yang
selelah-lelahnya. Comfortzone ini harus ku akhiri. Tidak selamanya aku ingin
seperti ini. Tanpa kepastian dan komitmen.
Di akhir cerita kelak,bisa saja kau memilih yang lain sedangkan aku
telah jatuh begitu dalam. Selain itu,aku benci pada kenyataan jika kau tak
memilihku. Maka,sebelum egoku lebih besar daripada kewarasanku,sebaiknya aku
yang keluar dari zona ini. menyelamatkan hati dan cintaku yang belum pasti di
ingini.
Komentar