Berhenti Berharap

          Aku berhenti menyusuri jalan. Berhenti tepat di sisi jalan yang mengarahkan langkahku menuju hatimu. Setelah segala hal yang telah ku lalui,entah mengapa aku merasa semua yang telah ku lakukan seperti tak ada ujung pangkalnya. Jalanku menuju hatimu seakan-akan buntu. Lelahku sudah tak terhitungkan lagi. Semangatku juga telah patah berkali-kali. Dan aku tahu,ini saatnya untuk mengakhiri.
          Ku pikir,perjalanan ini takkan sesulit yang orang lain bayangkan. Ku kira,menjatuhkan cinta pada hatimu semudah kedipan mata. Nyatanya tidak sama sekali. Aku harus bertarung dengan banyak hal termasuk egoku. Melewatkan berbagai peluang untuk membahagiakan hatiku hanya demi mengharapkan secuil rasa bahagia darimu.
          Di tempat ini,aku membuka kembali pemikiranku yang dahulunya telah ku pasung untukmu.  Mirisnya aku menemukan kebodohan pada diriku sendiri. Bahagia yang kau ciptakan bukanlah bahagia yang ku inginkan. Wajar jika pada akhirnya aku menyemai banyak sesak di dalam dada.
          Dulu,aku merasa bahwa menjadi seseorang yang ‘tampak’ berharga untukmu sudahlah cukup. Dulu,aku merasa selamanya  bisa tetap bertahan untukmu. Tapi nyatanya semuanya tidaklah benar-benar cukup.
Aku lupa,setiap melakukan sesuatu hal pasti ada batasannya. Dan Tuhan telah menentukan batas kemampuanku dalam meraih hatimu. Mungkin,Tuhan kasihan melihatku terus menerus merasakan sakit seorang diri pada cinta yang berusaha ku jaga untuk tetap suci. Maka dari itu,Tuhan mulai memangkas segala rasa yang telah tumbuh dengan begitu liarnya.
          Jika kau bertanya-tanya,apakah aku bersedih dengan perasaanku yang pelan-pelan mulai hilang? Aku akan katakan;iya. Aku bersedih. Amat sangat bersedih. Mendapati dirimu tak lagi punya daya untuk memperjuangkan cinta. Menemukan dirimu harus kalah di medan pertempuran. Tapi aku bisa apa jika sudah begini? Kemarahan dan kekecewaanku tak punya tempat untuk di tumpahkan.

          Satu hal yang bisa aku syukuri adalah setidaknya aku melakukan semuanya untukmu dengan tulus. Semampuku,aku memberikan segala yang terbaik dari apa yang ku punya. Walau aku tak rela semuanya berlalu begitu saja. Namun,Tuhan lebih tahu jalan mana yang terbaik untuk kau dan aku. Dan tak pernah menyatu adalah cara Tuhan untuk mengajarkan kita tentang banyak hal. Terutama memperjuangkan cinta. Terimakasih telah memberiku banyak kesan dan pelajaran dari kisah kau dan aku yang tak pernah menjadi kita yang sempurna. Aku bahagia pernah mencintaimu sebegitu dalam meskipun ujungnya seperti ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik