Bahagianya Bisa Mengenalmu.
Panggilan masuk…
Tekan;jawab
“Selamat malam anak gadis yang
sangat sulit di hubungi…” suara percikan minyak dalam penggorengan mengisi
soundtrack kalimat sapamu.
“Selamat malam juga laki-laki
menyebalkan” aku mendengus kesal.
“Hei nona,suaramu kenapa?”
tanyanya setelah sebelumnya ia tertawa kecil mendengar sapaku.
“Biasa. Penyakit langganan. Suaraku
berubah jadi seksi kan?” senyum tipisku tercetak di bibir. Meskipun ia tak bisa
melihatnya,tapi aku yakin ia menangkap nada candaku.
“Bagiku,kau akan terlihat seksi dan
cantik jika kau sehat” jawabnya dengan antusias. Namun,tawa kecilnya masih
tetap terdengar.
“Jangan membual denganku. Ada apa
menelponku?”
“Aku ingin mengajakmu keluar malam
ini. Aku ingin berbelanja untuk beberapa keperluan pribadi sekaligus ingin
membahagiakan gadis kecil yang sedang mengurung diri karena di tinggal sang
kekasihnya” sialan. Kalimat terakhirnya benar-benar menohokku.
“Tidak mau”
“Ayolah,aku traktir nonton deh.
Ya..meskipun ini malam jumat. Setidaknya kesan horror harus kita ubah jadi
romantis,bukan?” dasar laki-laki ini. Tahu saja cara jitu untuk membujukku.
“Baiklah,selesaikan masakanmu itu. Aku
akan bersiap-siap” dia tertawa lepas kali ini mendengarku menuruti segala
keinginannya.
Setidaknya,aku harus menghargai usahanya
untuk membuatku senang dan melupakan rasa kecewaku pada kejadian tempo lalu.
Sebenarnya bukan kesalahannya yang tak bisa ada di sampingku saat itu.
Juga,bukan kepentingannya untuk menghiburku. Berkali-kali aku telah mencoba
untuk mengatakan bahwa dia tak perlu merasa bersalah,namun gagal. Cemasnya
terlewat berlebihan setelah menerima panggilan teleponku kala itu. Tangis yang
membludak yang akhirnya membuatku histeris setelah panggilan teleponku ia jawab.
Inilah penyebabnya mengapa sekarang ia begitu menjadi sensitif dan cerewet
denganku.
“Oke,kenakan juga jaket agar flumu tidak semakin menjadi” titahnya.
“Siap komandan” sambungan telepon itu
kini terputus.
Aku benar-benar merasa bahagia di
pertemukan dengan laki-laki sepertinya. Dia selalu berusaha ada di saat-saat
aku benar-benar membutuhkannya. Mungkin terkesan berlebihan untuk ukuran
seorang teman dekat. Entah dari mana asalnya kami bisa jadi begini. Yang ku
ingat hanyalah ketika itu dia mengajakku berkenalan,lalu setelah itu tercipta percakapan-percakapan
yang tidak begitu penting hingga sampai ke hal-hal yang serius seperti
sekarang. Setelah itu kami semakin sering bertemu.
Sesungguhnya seperti ada sesuatu yang
nampaknya mulai tumbuh. Dia dan akupun juga perlahan-lahan mulai menyadari hal itu. Namun,apapun
yang akan terjadi di suatu hari nanti,ku harap akhirnya bukanlah luka.
Karena hubungan yang membahagiakan ini sangat berharga untuk di khianati
ataupun di akhiri.
Komentar