Isi Sendiri.
Ada segudang memori yang
mengundangku di kala ku teguk segelas kopi di pagi buta. Memori yang mengajakku
untuk kembali ingat perjalanan kita saat pertama kali bertemu hingga akhirnya
aku menyebutmu;kekasih. Aku mlihatnya dengan jelas,sayang. Ada tawa dan
air mata. Ada bahagia dan kecewa yang tergeletak begitu saja. Yang kau biarkan
aku merawatnya sendirian.
Tapi tunggu dulu. Memang
bukan salahmu jika penilaianku tentang kita adalah kepahitan. Masih ada
sisa-sisa rasa manis di sana. Rasa-rasa yang kau tawarkan ketika begitu banyak
perhatian yang kau limpahkan untukku. Tanpa Cuma-Cuma dan keraguan. Sederet
kalimat manis ketika aku merasakan sakit. Sederet perbuatan mengharukan ketika
aku membutuhkan begitu banyak adaptasi dengan keadaan. Juga,seberkas kecemburuan
saat tahu begitu banyak perempuan yang mencuri perhatianmu.
Selama ini mungkin kau
merasa aku lebih sering merangkai kata-kata manis. Bagimu,hobi menulisku ini
menjadikan aku sebagai ratu drama yang penuh dengan kalimat puitis.
Namun,sehandal apapun aku menyulap kata-kata,aku tak pernah bisa mengadakan
perasaan yang tak pernah ku rasa. Aku bahkan tak bisa menuangkanmu dalam
bingkai cerita. Dan kaupun harus tahu bahwa update ini ku tulis dengan segenap
rasa yang ku harap dapat tersampaikan kepadamu. Meski harus tak tidur
semalaman,tentunya.
Bagiku,kau adalah
sebaik-baiknya sandaran yang selalu menenangkan gelisahku. Sebaik-baiknya
sandaran yang mampu menghentikan air mataku. Sebaik-baiknya sandaran yang
selalu membuatku kesal,lalu tertawa di detik berikutnya. Sebaik-baiknya
sandaran yang selalu berbisik “Jangan menangis,aku ingin mendengar tawamu”
dan ahh..begitu banyak makna hadirmu untukku.
Aku mungkin perempuan yang
begitu merepotkan. Dan akupun mungkin perempuan yang tak pernah merasa telah melakukan
banyak kesalahan padamu. Tapi sayang,kali ini saja aku ingin mengucapkan beribu
maaf. Maaf karena pernah mengecewakanmu. Maaf karena pernah begitu
memojokkanmu. Maaf karena tak bisa
sepenuhnya (dulu) mempercayaimu. Maaf karena selalu membuatmu pusing dengan
kalimat penuh maknaku. Maaf karena terlalu cengeng. Maaf karena sedikit
mempercepat perkenalanmu dengan keluargaku. Juga,maaf karena harus selalu
menungguku lama ketika kau menjemputku. Ku harap setelah inipun,kau tahu bahwa
sekarang giliranmu yang meminta maaf kepadaku. Hehehe aku (tidak) bercanda.
Selamat hari jadi kita yang ke ….. (isi sendiri),walaupun telat,yang penting
ada niat,kan.
Komentar