Teruntuk Kamu (1)

Teruntuk lelaki yang tengah pulang ke kampung halamannya,
Hai,kekasih. Sudah hampir sebulan kau meninggalkanku sendiri di kota ini. Itu berarti aku harus menunggu satu bulan dua minggu lagi untuk kepulanganmu. Hari-hariku terasa begitu sepi tanpamu. Rindu-rinduku sepertinya kian menumpuk,meskipun selalu kau obati dengan kabar-kabar yang kau kirim juga suaramu di ujung telepon hampir di setiap malamku. Sayangnya,keinginan untuk bisa menyentuh sesenti kulitmu juga menatap wajahmu itu lebih menyiksaku.
Kau selalu berkata bahwa perpisahan ini hanyalah sementara. Tapi kau lupa,jika sebelumnya aku tak pernah benar-benar terpisah darimu secara raga. Setiap hariku,kaulah satu-satunya lelaki yang ingin ku lihat wajahnya. Satu-satunya lelaki yang ingin ku dengar suaranya. Satu-satunya lelaki yang selalu mengelus dada sembari menabahkan hati ketika melihat segala keribetan yang ada di diriku. Itulah mengapa aku tak bisa secepat itu harus beradaptasi dengan keadaan kita yang terpisah jarak ini.
Juga,aku semakin tak sanggup untuk tidak memikirkanmu ketika ibu dan keluargaku yang lainnya bertanya tentangmu walau aku sudah berusaha semaksimal mungkin melepaskan sejenak saja ingatanku tentangmu. Aku tak bermaksud menggantungkan hidup kepadamu. Aku hanya tak terbiasa melihatmu tak disisiku. Ku mohon,lekaslah kembali secepat yang kau bisa. Perempuan ini masih tetap menantikan kepulanganmu. Dan ia kini telah banyak belajar bahwa seberapa pentingnya makna pertemuan untuk sepasang kekasih. Walau kadang harus diwarnai dengan rengekan dan pertengkaran,justru saat-saat itulah yang kini paling ku rindukan. Tetaplah menjaga hati dan kepercayaan yang telah ku titipkan kepadamu selama aku tak bisa ada di dekatmu.


Dari perempuan yang menetap di kota ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik