Tidak Akan Pernah
Kita punya cerita,dulu. Cerita
tentang tawa dan kesedihan. Tentang sebuah pengorbanan,juga perjuangan. Kau
sangat mengesankan. Tutur katamu,perlakuanmu yang membuatku sulit lupa siapa
sisi lain yang ku temui saat terakhir kali kita menghabiskan hari dengan riuh
pertengkaran.
Bagimu,aku adalah tuan putri
yang pantas di sanjung. Dan untukku,kau adalah lelaki terhebat yang tahu persis
bagaimana memperlakukanku dengan baik. Sayangnya waktu berjalan terlalu cepat. Masa
yang begitu indah lekas berganti suram. Sejak kapan kau mulai berubah,akupun
sudah tidak lagi ingat. Yang begitu melekat di ingatanku persis ketika kau
lebih sering meneriakiku. Melampiaskan emosi yang akupun sendiri tak pernah
tahu siapa penyulutnya.
Kian kesini,kau semakin tak
ku kenali. Kekasihku yang ramah. Kekasihku yang begitu lembut mulai sering
marah-marah. Mulai senang membohongiku. Mulai sering lupa mengabari,juga
menepati janji. Seakan-akan waktunya bukan lagi untukku.
Lalu kebenaran mulai
menunjukkan kemenangannya. Melihatnya memeluk perempuan lain selain aku. Membaca
puluhan pesan bernada mesra yang pengirimnya bukanlah aku. Juga,mengabadikan
banyak potret berdua sudahlah cukup membuatku semakin yakin bahwa hatinya telah
berpaling dariku.
Terlalu pahit ku terima
kenyataan ini. Lelaki yang ku cintai sepenuh hati,tega mengkhianati. Meski kau
katakan hubungan terlarang itu adalah kekhilafanmu. Untukku,itulah keputusanmu.
Faktanya kau tak merasa cukup dengan segala hal yang ku lakukan untukmu.
Jangan lagi mengemis padaku
untuk kembali. Jangan lagi minta aku menjadi pelukan hangatmu. Pulanglah ke
pelukan perempuan baru yang telah mengalihkan perasaanmu dariku. Karena bagiku,sebesar
apapun perasaanku terhadapmu,tetap tidak akan ada kesempatan untuk seorang
lelaki yang telah menduakanku. Tidak akan pernah.
Komentar