Harusnya Sadar



Jika kau terlalu sibuk dengan dunia dan segala urusanmu,lebih baik selesaikan saja dulu semuanya. Baru setelah itu datang padaku. Jangan sebentar muncul lalu sekejap menghilang. Pada awalnya aku terlalu banyak menuntut padamu. Setelah ku pikir-pikir,sikap seperti ini tak pantas untuk di pertahankan. Sebab,jadinya kau ku abaikan dan hubungan kita terasa merenggang.

Tadinya ku kira,jika aku sudah memaklumi keadaanmu. Maka kau bisa sedikit sadar dengan kebutuhanku dalam meminta waktumu. Aku tak marah pada hobimu. Aku juga tak melarang kau bermain dengan temanmu. Tapi ingatlah pada aku. Aku yang masih butuh kabarmu. Aku yang masih butuh waktumu untuk berbagi cerita. Begitu banyak hal yang kau minta untuk ku pahami,tapi mengapa kau juga tak bisa memahami satu kebutuhan pentingku itu?

Mengalah terus menerus bukanlah pekerjaan yang mudah. Saat setiaku di pertaruhkan, kau menghilang entah kemana. Ya,aku menanti dan terus menanti lelakiku memberi kabar,namun entah kenapa ponsel itu selalu memunculkan nama orang lain. Saat aku mempersiapkan diri untuk bercerita tentang banyak hal denganmu, kau malah berbicara pada orang lain.

Sayang, hargai aku. Dengarkan aku,jika kau ingin aku dengarkan. Perhatikan aku,jika kau juga masih butuh untuk ku perhatikan. Jika memang kabarku,suaraku dan segala aktivitasku tanpa hadirmu bukan lagi kebutuhanmu mungkin aku bisa belajar untuk tidak lagi peduli denganmu juga.

Seandainya kau ada di posisiku,apakah masih bisa kau sesabar aku?

Seandainya kau ada di posisiku, apakah masih bisa kau menahan amarahmu?

Kau datang hanya saat kau merasa butuh. Jujur,aku begitu kecewa akan sikapmu. Sadarlah sebelum pada akhirnya orang lain yang menyadarkanmu. Sebab aku tak sekuat itu,jika kau terus menerus memperlakukanku seperti ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik