Tahun Ketiga

Berjalan dengannya selama 36 bulan tanpa putus-nyambung itu jelas bukan perkara yang mudah. Dan untuk pertama kalinya aku dan dia menjalani sebuah hubungan selama ini.
Banyak halangan juga rintangan. Baik dari egoku dan egonya ataupun dari pihak-pihak luar yang berusaha menggoyahkan.
Dulu ya, ada saja orang ketiga yang berusaha masuk ke dalam hubungan ini. Ada saja yang tak suka dengan jalinan asmara ini hingga mungkin menyindir dari sosial media sampai barangkali mengumpat atau mendoakan agar kami segera berpisah.

Semuanya, amat sangat menyenangkan. Baik suka dan duka, pelan-pelan di rasa dan di lalui bersama. Permasalahan ku selalu pada rasa cemburu ku. Dan permasalahannya selalu pada perlakuannya terhadapku. Bukan bertindak kasar ataupun hal-hal buruk lainnya. Dia hanya berusaha menjadi pribadi baru dari masalalunya dalam menjalani hubungan denganku. Ya, rasa kegagalannya dalam membina sebuah hubungan dulu membuatnya banyak was-was. Untuk satu sudut pandang itu, aku paham.

Tidak mudah untuk bisa saling menggenggam tangan. Terlebih dia yang selalu banyak mengingatkan untuk sabar. Untukku, dia sangat berharga. Saat tak ada orang lain yang ingin mendengarkan tangisku. Dia ada untuk menenangkan,tentu dengan caranya. Bahkan saat orang lain tak percaya pada masalahku, dia berdiri kokoh untuk menguatkan. Kepadanya, aku bisa bercerita tentang hal-hal yang tidak penting hingga hal-hal kelam dalam hidupku. Begitupun sebaliknya, aku berusaha tetap ada untuk menguatkannya ketika ia merasa lemah. Berusaha memaklumi kebiasaannya main game hingga lupa waktu dan berusaha memahami sisi lain yang berusaha dia tutup-tutupi dariku. Atau bisa ku sebut kami adalah sepasang manusia yang berusaha menjadi pasangan yang baik bagi pasangannya.

Untuk itu, di tahun ketiga ini. Di saat yang spesial ini aku bersyukur dan berterimakasih kepadanya karena sudah bersedia menjadi pasangan yang ingin tumbuh bersama menjadi lebih baik lagi. Menjadi pasangan yang keras kepala dalam hal bertahan dan mempertahankan.
Tidak semua pasangan bisa berjalan sejauh ini tanpa putus-nyambung. Dan aku bahagia kita menjadi yang berbeda.

Dan teruntuk orang-orang yang membenciku. Orang-orang yang selalu berpikiran buruk dengan ku. Orang-orang yang menjudge ku lebih dahulu tanpa mengenal aku lebih dalam. Serta untuk mereka yang mengatakan aku merebut milik orang. Semoga kalian bisa hidup lebih baik bersama seseorang yang lebih baik lainnya. Tidak masalah bagaimanapun kalian menghujat dan mencaciku, aku tidak perduli. Karena dia selalu ada menggenggam tanganku, membuatku kembali tersenyum dan membuatku berpikir luas dalam menyikapi hidup. Dia yang menjadi laki-laki pertama (dan semoga menjadi yang terakhir) yang ku kenalkan kepada orangtuaku.

Dan jika kalian pikir aku merebut dia dari yang lalu?
Maaf seharusnya kalian melihat bukan dari satu sudut pandang saja. Termasuk apa, mengapa dan kenapa bisa semuanya menjadi seperti ini. Yang amat sangat jelas adalah kami sepasang manusia yang pada saat itu merasakan patah hati dan berusaha saling mengobati lalu jatuh hati. Untuk bisa bersamanya memiliki proses yang tidak mudah. Semudah kalian berasumsi buruk tentang aku ataupun kami.

Sekali lagi, semoga netizen-netizen dengan tingkat unlike paling banyak dan yang suka mengait-ngaitkan segala sesuatu yang buruk karena adanya aku di hidupnya, lekaslah lihat dunia dari luar cangkang kalian.☺

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik