Pengalaman Yang Tidak Tahu Harus Berjudul Apa

Semua di mulai saat memasuki sekolah menengah atas.
Banyak hal yang terjadi saat memasuki tahun pertama. Saat itu malas dan juga keasikan menemukan banyak teman juga sahabat membutakan ku.
Hingga tahun ke dua, seseorang berkata "Ya, jurusan itu cocok untuk mu. Tidak perlu berpikir susah. Cukup hanya menghapal dan aku yakin kau menjadi bagian terburuk juga." begitu dia tahu aku memilih jurusan sosial.
Tersinggung? Tentu. Dia meremehkan ku, pikirku.

Ucapannya kala itu menjadi salah satu penyemangatku untuk membuktikan padanya jika ia salah menilaiku. Selain itu juga, dari sekian banyak teman-teman yang menyayangkan keputusanku, dia (yang tak perlu ku sebutkan lagi) malah berpikir berbeda. Dia juga memotivasiku. Mendukung penuh setiap keputusan yang aku ambil.

Sejak saat itu aku berubah. Sekolah ku jadikan tempat bermain dan tidur dan sedikit menjadi sarana belajar ku. Tapi tengah malam ku jadikan waktu ku untuk belajar penuh. Mungkin sejak itulah insomnia berangsur akut ini menjadi rutinitas. Hingga akhirnya, hari itu tiba. Dimana hasil dari seluruh susah payahku yang menahan kantuk saat jam pelajaran karena tidur terlambat dan kunjungan tiap hari ku ke perpustakaan terbayarkan. Aku bisa membuat orangtuaku tersenyum bangga atas pencapaianku. Dan aku bisa membungkam komentar negatif tadi dengan prestasi yang ku raih. Peringkat yang di tahun pertama mengalami anjlok kini meroket menduduki perinkat 3 teratas.

Saat itu aku percaya, bahwa Tuhan tidak tidur untuk melihat segala usahaku. Tuhan menghargai kerja kerasku. Dan aku bersyukur untuk itu semua. Aku semakin percaya jika usahaku tidak pernah berkhianat dan hasil dari segala kerja keras ku adalah bonus yang di berikan Tuhan padaku.

Tahun berganti, aku bertekad kuat ingin melanjutkan sekolah. Segala usaha ku lakukan sebisa ku. Bimbingan belajar sekolah, konseling pun bimbingan belajar di luar sekolah ku tempuh. Hingga aku berada di titik jenuh untuk belajar. Aku setengah hampir menyerah pada semua materi-materi yang di berikan. Dan akhirnya aku berpikir, cukup.

Hasil ujian terakhir ku keluar tapi ternyata itu tak bisa membuatku di terima melalui jalur undangan. Kala itu hanya satu hal yang paling membahagiakan yang ku peroleh, aku lulus mendapatkan beasiswa sekolah pramugari. Sempat berpikir, apakah aku menjalani ini saja? Tapi ini bukanlah keinginan ku. Berikhtiar dan berdoa kembali. Restu dari sebagian keluarga pun sudah di berikan, pada akhirnya aku memilih tidak mengambil hadiah itu dengan berbagai pertimbangan yang ada.

Lalu aku kembali mengikuti persiapan tes tertulis perguruan tinggi negeri. Usaha di awal, kembali jenuh di akhirnya. Tapi lucunya aku tetap memanjatkan doa yang terbaik kepada Tuhan. Saat itu dilema begitu besar, yang memotivasiku dan yang juga bersama ku kala itu hanya ibuku. Wanita yang diam melihat segala naik-turun atas usahaku. Dan ya, batinku berkata ini akan gagal. Kembali dan benar-benar terjadi.

Aku menangis di hadapan ibuku, berpikir bahwa aku mungkin pantas mendapatkan hal ini. Sebab usahaku tidak semaksimal doaku. Hari itu aku persis seperti anak SD yang kehilangan mainannya di hadapan ibu. Hingga pada akhirnya, ibu mengajakku berdiskusi. Beliau berkata bahwa apapun ujian untuk bisa ke perguruan tinggi akan ia dukung. Pilihan tetap ada padaku. Bahkan beliau yang tidak pernah mau anaknya berurusan dengan sekolah swasta menyanggupi jika memang aku tidak di terima di perguruan tinggi negeri. Walaupun dengan syarat, aku harus bisa dapatkan beasiswa.

Terenyuh saat mendengar dari bibirnya. Sebegitu optimisnya beliau mendukung ku. Kemudian aku mencoba untuk terakhir kalinya memberanikan diri mendaftar di salah satu perguruan tinggi. Pilihan ku terakhir. Dan dengan bermodalkan segala materi-materi yang bersarang di kepala serta kembali mengingat pelajaran-pelajaran yang telah terlupakan, Bismillah. Kembali lagi aku berikhtiar.

Pada pertengahan malam itu, ku pikir Tuhan memberikan jawaban atas kegalauan, harapan dan usaha yang ku lakukan. Dan aku yakin, aku bisa mendapatkannya. Ya, Tuhan benar-benar mengabulkan harapan itu. Aku berhasil mendapatkan pendidikan milik pemerintah. Aku kembali mematahkan komentar netizen yang dulu ku dengar di sekolah. Dan orang spesial yang tahu kabar bahagia itu adalah ibuku.

Dan kini, setelah menjalaninya selama 3 tahun lebih. Aku masih mendengar komentar netizen yang menyarankan aku untuk kembali mengambil perguruan tinggi negeri ternama. Tentu saja, aku menolak. Karena aku bangga dengan pencapaian ku sendiri. Aku bangga karena aku berhasil mendapatkan bangku di perguruan tinggi ini dengan kemampuan otak ku pada ujian tertulis di tengah bulan puasa. Aku tidak pernah menyesal disini, karena aku mengapresiasi keberhasilanku tanpa bantuan orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik