Tentang Menghargai.
Tidak ku minta kau memberi ku sebuket bunga.
Tidak ku minta kau untuk mengajak ku makan malam romantis.
Tidak ku minta kau untuk memberikanku kejutan-kejutan di setiap bulannya.
Salah satunya, ku mau kau untuk belajar menghargai.
Entah itu waktu, pengorbanan atau bahkan kesabaran.
Sebab itu tak mudah. Tetap baik-baik saja walau di hatiku begitu gundah.
Aku paham, kita berada di satu titik menyatukan pendapat juga ego.
Tapi coba pahami kini siapa yang lebih dulu mengalah pada siapa.
Bersama mu, tentu aku bahagia. Selalu pada hal-hal sederhana kau buat ku tertawa. Namun terkadang kau lupa, jika perbuatan dan perkataan adalah senjata tajam untuk menyakiti hati.
Tak apa-apa jika terus mau begini. Kau ingin menunjukkan kekuasaanmu atasku pun tidak masalah. Tapi tentu jangan lupakan, bahwa sampai kapan aku bisa bertahan dengan mu jika kau pun tidak tau bagaimana caranya menghargai aku.
Diam mu mempunyai banyak makna. Sekali lagi ku katakan. Pun, senyum mu bermakna ambigu. Aku bukan lah pembaca yang hebat atas segala hal yang tak kau ungkapkan di hati. Justru aku mencoba lebih dahulu membuka diri dengan harapan kau pun dapat melakukan hal yang sama.
Tak ku balas perbuatanmu, karena ku rasa aku tak perlu memberimu rasa sakit yang sama. Kalau begitu, coba renungkan. Apakah salahmu, tak perlu kau minta di maafkan?
Apakah ke-egoan mu harus selalu di menangkan?
Jika terus begini, acuh tak acuhmu akan terus menyakitkan ku. Kembalilah menjadi dirimu yang normal. Menjadi dirimu yang menghargai orang-orang lain. Aku paham kau begitu karena aku dan mereka berbeda. Setidaknya perlakukan aku lebih baik. Bukan malah seperti ini. Tidak perlu persis seperti masa lalu yang dimana kau sibuk mengejar egoku. Cukup bertindak layaknya menghargai pasanganmu. Antara kau dan aku. Yang tidak semena-mena.
Tidak ku minta kau untuk mengajak ku makan malam romantis.
Tidak ku minta kau untuk memberikanku kejutan-kejutan di setiap bulannya.
Salah satunya, ku mau kau untuk belajar menghargai.
Entah itu waktu, pengorbanan atau bahkan kesabaran.
Sebab itu tak mudah. Tetap baik-baik saja walau di hatiku begitu gundah.
Aku paham, kita berada di satu titik menyatukan pendapat juga ego.
Tapi coba pahami kini siapa yang lebih dulu mengalah pada siapa.
Bersama mu, tentu aku bahagia. Selalu pada hal-hal sederhana kau buat ku tertawa. Namun terkadang kau lupa, jika perbuatan dan perkataan adalah senjata tajam untuk menyakiti hati.
Tak apa-apa jika terus mau begini. Kau ingin menunjukkan kekuasaanmu atasku pun tidak masalah. Tapi tentu jangan lupakan, bahwa sampai kapan aku bisa bertahan dengan mu jika kau pun tidak tau bagaimana caranya menghargai aku.
Diam mu mempunyai banyak makna. Sekali lagi ku katakan. Pun, senyum mu bermakna ambigu. Aku bukan lah pembaca yang hebat atas segala hal yang tak kau ungkapkan di hati. Justru aku mencoba lebih dahulu membuka diri dengan harapan kau pun dapat melakukan hal yang sama.
Tak ku balas perbuatanmu, karena ku rasa aku tak perlu memberimu rasa sakit yang sama. Kalau begitu, coba renungkan. Apakah salahmu, tak perlu kau minta di maafkan?
Apakah ke-egoan mu harus selalu di menangkan?
Jika terus begini, acuh tak acuhmu akan terus menyakitkan ku. Kembalilah menjadi dirimu yang normal. Menjadi dirimu yang menghargai orang-orang lain. Aku paham kau begitu karena aku dan mereka berbeda. Setidaknya perlakukan aku lebih baik. Bukan malah seperti ini. Tidak perlu persis seperti masa lalu yang dimana kau sibuk mengejar egoku. Cukup bertindak layaknya menghargai pasanganmu. Antara kau dan aku. Yang tidak semena-mena.
Komentar