Kilas balik

               

Saya masih senang menyendiri setelah memutuskan berpisah dari kamu. Untuk kesekian kalinya saya gagal menjalani hubungan dengan laki-laki lain setelah saya dan kamu berpisah. Waktu perpisahan saya dan kamu sudah sangat lama,hubungan yang kita jalanipun hanya singkat namun sangat bermakna bagi saya dan mungkin juga bagimu. Saya bukannya tak mampu melupakan jejak kenangan kita dulu. Saya hanya merasakan sedikit mati rasa setelah saya dan kamu sepakat untuk berpisah.
               Dengan rentan waktu yang cukup lama setelah perpisahan kita,akhirnya kamu bercerita tentang gadis barumu. Kamu menceritakan sosoknya dengan wajah yang dihiasi tawa. Saya dapat melihat betapa sukanya kamu terhadap gadis itu. Dengan jelas,saya melihat kamu menunggunya dari kejauhan. Ya,kamu jatuh hati diam-diam kepadanya. Kamu bercerita betapa segannya kamu menemuinya. Betapa malunya kamu mengajaknya berbicara. Betapa takutnya kamu akan penolakan jika kamu menyatakan perasaanmu kepadanya.
               Jauh di lubuk hati saya,saya merasa ada rasa tidak rela saat kamu menyebut namanya. ada rasa sakit yang mendera saat melihat kamu rela menunggunya dan memperhatikannya meskipun dari kejauhan. Apakah ini namanya cemburu? Namun siapa sosokku dimatamu? Aku bukan siapa-siapa lagi bagimu. Kita sudah sepakat untuk menjalin hubungan pertemanan. Kamu hanyalah seseorang yang saat ini sudah berdiri di belakang saya dan membiarkan saya berjalan sendirian ke depan. Kamu bukan lagi laki-laki yang menggenggam tangan saya. Bukan lagi laki-laki yang berdiri disamping saya.
               Namun,saya menyadari bahwa ini hanya sisa dari perasaan saya kepada kamu. Bukankah melupakan sebuah hubungan memerlukan proses? Secemburu apapun saya,saya tetap tak berhak marah. Saya tetap tak ingin kembali kepada kamu,walaupun saya bisa membuatmu kembali kepelukan saya lagi. Saya paham,meskipun perasaan saya besar terhadap kamu. Meskipun saya masih sangat tulus mencintai kamu,kita sudah tidak mempunyai kecocokkan lagi. Sekeras apapun kita berusaha memperbaiki hubungan kita,semuanya hanya akan gagal. Bukankah cinta tak selamanya harus memiliki? Saya sangat yakin,diluar sana masih ada takdir baik yang akan mempertemukan saya dengan laki-laki yang lebih baik dari kamu. Laki-laki yang mau menjalani sebuah hubungan kerjasama yang berlandaskan komitmen. Terimakasih sudah mengajarkan kepada saya bahwa dalam setiap hubungan tidak bisa dipaksakan jika tidak ada lagi kecocokkan. Sekalipun kamu atau hanya saya mengandalkan rasa sayang ataupun cinta. Yang sepantasnya saya dan kamu lakukan adalah berjalan ke depan dan persiapkan diri untuk menerima hati yang lebih baik lagi.


Masih merasa cemburu melihat dia –mantan kekasih- bersama yang lain,bukan berarti kamu masih mencintainya. Akan tetapi,kamu hanya MASIH merasa memilikinya. Jadi,mari belajar menerima kenyataan bahwa apapun yang pernah terjadi di antara ‘kamu dan aku’ kini hanyalah sebuah kenangan. Kita bukan tidak bisa melupakannya,tapi kita hanya BELUM mau melupakan sosoknya. Semua diawali dengan niat dan didukung dengan usaha. Saya percaya,sebesar apapun perasaan yang kita miliki,setulus apapun itu,jika sudah waktunya kita melupakannya,maka kita pasti akan bisa mengikhlaskannya. Karena semua membutuhkan proses. Percayalah pada sang waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir