Semalaman.
Setelah hampir satu malaman berpikir dengan keras hingga lingkar mata panda terlihat dengan jelas,akhirnya aku menyadari semuanya. Segalanya. Jujur saja,hatiku jelas terasa remuk setelah mengetahui rencananya tahun ini. Tidak ada namaku. Itu artinya di tahun ini dia tidak berencana memikirkanku. Aku menggerutu hebat lebih tepatnya memakinya dalam-dalam. Bagaimana dia bisa jadi seperti ini? Dan bagaimana mungkin aku sebodoh ini? Baiklah,aku mengaku salah. Aku telah kalah;sejak awal.
Ku pikir aku telah mencintainya dengan kesabaran dan pengertian yang tanpa batas;mungkin. Jauh di telusuri lebih dalam aku hanya melakukan hal yang sama. Hanya bisa berubah sedikit saja. Mengira bahwa aku telah mengorbankan perasaanku hanya untuk egonya untuk sukses adalah suatu kebanggaan dalam hidupku. Setidaknya,aku tidak egois dalam hal ini. Aku tidak ingin menjadi wanita penuntut karena aku sadar,dia bukan milikku. Bukan siapa-siapa baginya. Tapi aku merasa ditampar dan di paksa kembali ke dunia nyata bahwa sebenarnya aku hanya menggunakan cara yang halus dari kata menuntut. Aku mencintainya dengan sabar,semua orang tahu itu. Tapi berharap bahwa setiap hari bahkan tahun yang berganti dia akan menjelaskan keadaanku adalah bentuk lain dari menuntutnya menerima cintaku.
Aku menganggap cintaku tulus. Aku menganggap cintaku yang terbaik untuknya. Tapi di sisi lain,aku merecokinya dengan memohon hatinya memilihku. Padahal prinsipku adalah cintaku takkan apa-apa jika dia tidak memilihku. Ini jelas salah. Kenapa rasanya aku sulit memaki diriku sendiri? Kenapa aku tidak bisa terima pada kesalahanku? Aku selalu bilang pada orang-orang yang patah hati bahwa cinta harus di iringi logika. Tapi kenapa justru aku yang menampik logikaku? Aku benci diriku sendiri. Aku mengutuk mengapa aku masih menunggunya. Karena menunggunya sama saja dengan menuntutnya.Cintaku tidak murni lagi. Rasa takutku lebih mendominasi dan mungkin sudah saatnya aku kembali ke duniaku dan berhenti memohon-mohon padanya. Dia sudah bahagia;tanpaku. Dia bisa me-manage hidupnya. Bukankah itu adalah hal yang cukup membuatku tenang?
Aku tidak akan memaksa cinta ini harus pergi,namun aku merasa sudah saatnya juga aku berusaha menghapus segala jejaknya. Berhenti terjatuh pada pesonanya dan hadapi kenyataan jika aku hadir di waktu yang tidak tepat. Berulang kali lagu john legend-all of me ku putar,berulang kali juga aku mengatakan pada diri sendiri bahwa aku telah melakukan yang ku bisa. Aku tidak akan menunjukkan hal yang di luar kemampuanku. Aku telah berusaha terlihat pantas untuknya. Tapi jika dia tidak ingin,aku bisa apa?
Tuhan telah mempertemukan kami tanpa pernah menjalin hubungan cinta. Meski begitu,aku sudah cukup senang mengetahui setidaknya kami pernah saling menyayangi. Di tahun yang baru ini hanya ada kata impian yang akan ku tuju. Tidak ada lagi namanya,karena sepenuhnya sudah ku serahkan keinginanku tentang dia pada Tuhan. Jika akhirnya diam-diam Tuhan menghapus namanya dalam hatiku,aku rela;ikhlas. Sepahit apapun itu. serumit apapun itu. Aku tahu,penggantinya bisa jadi lebih baik dari dia.
Kini kamu bebas,tuan. Tidak akan ada lagi wanita yang akan menganggumu. Tidak akan ada lagi wanita yang rela menahan kantuk berjam-jam hanya untuk melihatmu muncul di social media dan mengaharap kata “hai” darimu. Tidak ada lagi yang akan mencerewetimu dan khawatir gila ketika kamu mengeluh sakit. Tidak akan ada lagi yang agresif dan tidak punya malu sepertiku. Jika kamu membaca postingan ini,aku hanya meminta maaf telah lancang mengganggu hidupmu. Berbahagialah,tuan. Aku mencintaimu—hingga detik ini masih dengan rasa yang sama serta kadar yang berlebih.
Ku pikir aku telah mencintainya dengan kesabaran dan pengertian yang tanpa batas;mungkin. Jauh di telusuri lebih dalam aku hanya melakukan hal yang sama. Hanya bisa berubah sedikit saja. Mengira bahwa aku telah mengorbankan perasaanku hanya untuk egonya untuk sukses adalah suatu kebanggaan dalam hidupku. Setidaknya,aku tidak egois dalam hal ini. Aku tidak ingin menjadi wanita penuntut karena aku sadar,dia bukan milikku. Bukan siapa-siapa baginya. Tapi aku merasa ditampar dan di paksa kembali ke dunia nyata bahwa sebenarnya aku hanya menggunakan cara yang halus dari kata menuntut. Aku mencintainya dengan sabar,semua orang tahu itu. Tapi berharap bahwa setiap hari bahkan tahun yang berganti dia akan menjelaskan keadaanku adalah bentuk lain dari menuntutnya menerima cintaku.
Aku menganggap cintaku tulus. Aku menganggap cintaku yang terbaik untuknya. Tapi di sisi lain,aku merecokinya dengan memohon hatinya memilihku. Padahal prinsipku adalah cintaku takkan apa-apa jika dia tidak memilihku. Ini jelas salah. Kenapa rasanya aku sulit memaki diriku sendiri? Kenapa aku tidak bisa terima pada kesalahanku? Aku selalu bilang pada orang-orang yang patah hati bahwa cinta harus di iringi logika. Tapi kenapa justru aku yang menampik logikaku? Aku benci diriku sendiri. Aku mengutuk mengapa aku masih menunggunya. Karena menunggunya sama saja dengan menuntutnya.Cintaku tidak murni lagi. Rasa takutku lebih mendominasi dan mungkin sudah saatnya aku kembali ke duniaku dan berhenti memohon-mohon padanya. Dia sudah bahagia;tanpaku. Dia bisa me-manage hidupnya. Bukankah itu adalah hal yang cukup membuatku tenang?
Aku tidak akan memaksa cinta ini harus pergi,namun aku merasa sudah saatnya juga aku berusaha menghapus segala jejaknya. Berhenti terjatuh pada pesonanya dan hadapi kenyataan jika aku hadir di waktu yang tidak tepat. Berulang kali lagu john legend-all of me ku putar,berulang kali juga aku mengatakan pada diri sendiri bahwa aku telah melakukan yang ku bisa. Aku tidak akan menunjukkan hal yang di luar kemampuanku. Aku telah berusaha terlihat pantas untuknya. Tapi jika dia tidak ingin,aku bisa apa?
Tuhan telah mempertemukan kami tanpa pernah menjalin hubungan cinta. Meski begitu,aku sudah cukup senang mengetahui setidaknya kami pernah saling menyayangi. Di tahun yang baru ini hanya ada kata impian yang akan ku tuju. Tidak ada lagi namanya,karena sepenuhnya sudah ku serahkan keinginanku tentang dia pada Tuhan. Jika akhirnya diam-diam Tuhan menghapus namanya dalam hatiku,aku rela;ikhlas. Sepahit apapun itu. serumit apapun itu. Aku tahu,penggantinya bisa jadi lebih baik dari dia.
Kini kamu bebas,tuan. Tidak akan ada lagi wanita yang akan menganggumu. Tidak akan ada lagi wanita yang rela menahan kantuk berjam-jam hanya untuk melihatmu muncul di social media dan mengaharap kata “hai” darimu. Tidak ada lagi yang akan mencerewetimu dan khawatir gila ketika kamu mengeluh sakit. Tidak akan ada lagi yang agresif dan tidak punya malu sepertiku. Jika kamu membaca postingan ini,aku hanya meminta maaf telah lancang mengganggu hidupmu. Berbahagialah,tuan. Aku mencintaimu—hingga detik ini masih dengan rasa yang sama serta kadar yang berlebih.
Komentar