Rasa Sesal
Hari begitu tampak membosankan. Matahari yang sedang meninggi ini nampak gila-gilaan memancarkan sinarnya. Mungkin saat ini temperatur udara kota ini sedang merah merona. Dan sialnya,aku terpaksa mendudukkan diri di salah satu tempat makan—tempat nongkrong juga—sebagian anak muda. Menepati janji untuk bertemu dengan salah satu sahabatku. Hanya untuk menemaninya makan siang dan mengobrol. Tidak lebih dari itu. Suasana tempat ini lumayan tenang. Di meja sebelahku,di seberangnya,terlihat ada dua mahasiswa yang sedang sibuk dengan leptopnya—mengerjakan tugas kuliah. Selebihnya,pengunjung disini lebih memilih di out-door. Mencari udara yang masih sesekali menari-nari lembut pada permukaan kulit mereka—mungkin.
Di dalam ruangan ini,pengunjung di suguhi musik-musik dari penyanyi-penyanyi barat yang sudah sangat sering di putar dimana-mana. Mulai dari yang bernada slow hingga yang bernuansa pop rock. Lemon tea pesananku sudah mantap di suguhi oleh pelayan. Aku hanya harus menunggu sahabatku itu untuk sampai di tempat. Anak itu! senang sekali membuatku marah.
Lagu Stay miliknya Miley Cyrus menyapa pendengaranku. Astaga! Kenapa dari sekian banyak lagu,harus lagu ini yang terputar di jam segini? Suasana hatiku seketika memburuk. Aku tak bisa menghindar pada setiap lirik lagunya. Lelaki itu kembali hadir dalam ingatanku. Berputar-putar perlahan di dalam kepalaku. Mengingatkan kilasan-kilasan kenangan yang membuatku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Setelah aku memutuskan pergi dari sisinya,rasa sakit itu baru muncul ketika aku mendengar banyak kabar burung bahwa dia kini telah memiliki penggantiku. Menarik separuh rasa cemburuku.
Aku bersalah. Benar. Aku yang telah menyakitinya,sejak awal. Mengabaikan segala bentuk perhatiannya. Berpura-pura tidak tahu pada rasa sakitnya karena menghadapi perempuan seperti ku. Perempuan yang diam-diam masih menyimpan nama lelaki lain di hatinya. Tapi aku tidak ingin menjadi egois dengan mengikatnya di sisiku dan tetap mempertahankan lelaki lain. Maka,akulah yang akhirnya menghentikan segala perjuangannya. Walau pada saat itu dia mengemis padaku untuk tidak mengakhiri hubungan kami. Walau pada saat itu dia rela di acuhkan olehku. Tapi aku sadar diri,aku tidak ingin lelaki sebaik,sesabar dan sedewasa dia terikat dengan perempuan yang bahkan belum ingin membagi seluruh hatinya.
Aku teringat pada saat itu. Ketika aku memiliki masalah,dia selalu ada. Menenangkan tangisku. Menungguku hingga terlelap. Mendengarkan segala kegundahanku dan memberikanku nasehat bijaknya. Dan pada saat itu juga aku menghentikan segala kelakuan bodohnya,memberikannya kesempatan untuk mencicipi kebahagian dengan hanya satu harapan;Semoga Tuhan mempertemukannya dengan perempuan yang lebih-lebih-lebih baik dariku. Yang memperlakukannya selayaknya kekasih yang sangat mencintainya.
Tak bisa ku pungkiri jika terkadang rasa rindu itu menghantui. Diantara lelaki yang pernah hadir,dia adalah salah satu lelaki yang mampu mengembalikan keyakinanku. Kekuatanku dalam mengahadapi masalahku. Tapi,kini... dia telah jauh meskipun dalam jarak pandang terdekatku. Dan aku paham bahwa inilah konsekuensinya.
Sebelum lagu itu terputar hingga habis dan membuat anak sungai pada pipiku,aku bergegas membayar pesananku. Memutuskan pergi dari tempat ini. Tidak,meskipun aku masih bisa memintanya kembali. Aku tahu diri,bahwa kesalahan-kesalahan itu telah membuat luka dalam untuknya.
Di dalam ruangan ini,pengunjung di suguhi musik-musik dari penyanyi-penyanyi barat yang sudah sangat sering di putar dimana-mana. Mulai dari yang bernada slow hingga yang bernuansa pop rock. Lemon tea pesananku sudah mantap di suguhi oleh pelayan. Aku hanya harus menunggu sahabatku itu untuk sampai di tempat. Anak itu! senang sekali membuatku marah.
Lagu Stay miliknya Miley Cyrus menyapa pendengaranku. Astaga! Kenapa dari sekian banyak lagu,harus lagu ini yang terputar di jam segini? Suasana hatiku seketika memburuk. Aku tak bisa menghindar pada setiap lirik lagunya. Lelaki itu kembali hadir dalam ingatanku. Berputar-putar perlahan di dalam kepalaku. Mengingatkan kilasan-kilasan kenangan yang membuatku sadar bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Setelah aku memutuskan pergi dari sisinya,rasa sakit itu baru muncul ketika aku mendengar banyak kabar burung bahwa dia kini telah memiliki penggantiku. Menarik separuh rasa cemburuku.
Aku bersalah. Benar. Aku yang telah menyakitinya,sejak awal. Mengabaikan segala bentuk perhatiannya. Berpura-pura tidak tahu pada rasa sakitnya karena menghadapi perempuan seperti ku. Perempuan yang diam-diam masih menyimpan nama lelaki lain di hatinya. Tapi aku tidak ingin menjadi egois dengan mengikatnya di sisiku dan tetap mempertahankan lelaki lain. Maka,akulah yang akhirnya menghentikan segala perjuangannya. Walau pada saat itu dia mengemis padaku untuk tidak mengakhiri hubungan kami. Walau pada saat itu dia rela di acuhkan olehku. Tapi aku sadar diri,aku tidak ingin lelaki sebaik,sesabar dan sedewasa dia terikat dengan perempuan yang bahkan belum ingin membagi seluruh hatinya.
Aku teringat pada saat itu. Ketika aku memiliki masalah,dia selalu ada. Menenangkan tangisku. Menungguku hingga terlelap. Mendengarkan segala kegundahanku dan memberikanku nasehat bijaknya. Dan pada saat itu juga aku menghentikan segala kelakuan bodohnya,memberikannya kesempatan untuk mencicipi kebahagian dengan hanya satu harapan;Semoga Tuhan mempertemukannya dengan perempuan yang lebih-lebih-lebih baik dariku. Yang memperlakukannya selayaknya kekasih yang sangat mencintainya.
Tak bisa ku pungkiri jika terkadang rasa rindu itu menghantui. Diantara lelaki yang pernah hadir,dia adalah salah satu lelaki yang mampu mengembalikan keyakinanku. Kekuatanku dalam mengahadapi masalahku. Tapi,kini... dia telah jauh meskipun dalam jarak pandang terdekatku. Dan aku paham bahwa inilah konsekuensinya.
Sebelum lagu itu terputar hingga habis dan membuat anak sungai pada pipiku,aku bergegas membayar pesananku. Memutuskan pergi dari tempat ini. Tidak,meskipun aku masih bisa memintanya kembali. Aku tahu diri,bahwa kesalahan-kesalahan itu telah membuat luka dalam untuknya.
‘Sekalipun aku memohon padanya,akan lebih baik jika dia menolakku’batinku setelah mengirim pesan pada sahabatku bahwa aku membatalkan pertemuan makan siang kami.
Komentar