Tanya Tanpa Jawaban.

    Keputus-asa-an adalah masalah yang belakangan ini menghujam pikiranku. Aku takut pada detik-detik itu. Berulang kali,rasa menyerah menggempur habis kesabaranku. Aku merindukannya. Aku tahu bahwa mustahil dia juga merasakannya. Sejak dulu,banyak hal yang ingin ku tanyakan padanya. Tapi aku sadar bahwa semua pertanyaan itu hanya bisa ku jawab dengan senyum getir. Semua orang juga tahu bahwa sebenarnya aku patut di kasihani. Sebab aku mencintai laki-laki yang tidak mau mempertahankan aku. Sebab aku menunggu laki-laki yang tidak ingin perduli seberapa besar rasaku.
    Aku ingin menangis. Tapi air mataku selalu lebih dulu membeku sebelum tumpah membanjiri pipiku. Hatiku sudah berkali-kali di latih untuk di sakiti,tapi mengapa jika sudah tentang dia semuanya terasa percuma? Aku kuat. Aku bisa. Adalah dua suku kata yang selalu ku teriakkan setiap aku merasa akan goyah. Mungkin memang sudah seharusnya dinding rasaku runtuh. Bagaimanapun aku bertahan,semua akan berakhir sia-sia.
    Mungkin hanya aku yang berlebihan dengan perasaan. Bahkan hanya dalam mimpi burukkupun dia menderita,aku sudah kelewat khawatir. Bahkan jika rinduku menuntut balas,perasaanku menahan untuk tidak mengganggunya. Karena aku sadar,baginya,targetnya adalah dunianya,sedangkan bagiku,dia adalah hampir separuh motivasi hidupku.
    Aku ingin berbica tentang banyak hal ketika dia sama sekali tidak pernah menghubungiku;
Bagaimana kabarmu?
Apakah kamu selalu menjaga kesehatanmu?
Aku merindukanmu.
Aku mencintaimu.
Pernahkah kamu memikirkan aku sedetik saja?
Pernahkah kamu mengkhawatirkan keadaanku?
Pernahkah kamu merasa takut tidak akan bertemu lagi denganku?
 Pernahkah kamu merindukanku?
Kalimat-kalimat itu hanya mampu ku simpan dalam hati. Hanya bisa ku ucap saat kadar normalku berkurang. Setidaknya,dia masih menghargai ku sebagai teman. Masih mau sesekali menyapaku dengan kalimat pendeknya. Masih mau meruntuhkan sikap dinginnya walau hanya sesaat. Karena bagiku,sedikit tindakan kecilnya untukku sangat berarti. Walaupun aku tak pernah tahu jika di ujung penantian ini hanya akan berakhir dengan jurang atau tempat tujuanku untuk berpulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik