Pacar gamers?
Bagaimana rasanya punya pasangan yang doyan banget nge-games?
Yang milih gamesnya di banding ngapelin pacarnya. Walaupun sebenarnya tidak ada kata apel-anggur di dalam hubungan kami.
Yang milih kotak-katik jari sama gamesnya di bandingkan nge-chat pasangannya.
Mungkin rasanya ingin marah bercampur kesal. Mau menjambak-jambak rambutnya sambil teriak-teriak. Karena rasanya seperti tidak di prioritaskan sebab games adalah segala-galanya buat dia.
Walaupun begitu, dia terkadang ingat siapa yang harus di dahulukan.
Seperti kalau sudah seharian games, begitu di telfon/ chat bahkan pada saat pertandingan seru-serunya, dia langsung sign out. Mengalah sambil berkomentar pedas karena timnya marah-marah.
Atau bahkan di suatu ketika dia sudah janji akan menemani namun pada saat itu dia sedang turnamen. Rela ketinggalan satu babak meski dengan menunjukkan wajah sedih, kecewa dan berusaha menerima kenyataan.
Juga ada momen dimana dia suka mengabaikan.
Seperti saat kami habiskan waktu setelah LDR panjang. Dia sibuk dengan senam jarinya di games. Bersikap acuh dan selalu berkata, "sebentar ya. Satu babak lagi, kok"
Tapi, dia juga pada akhirnya akan menyerah jika aku sudah mulai lelah dan berpikir untuk pasrah.
Di saat-saat aku tidak bisa lagi memaklumi kecanduannya akan games, di suatu waktu aku tidak dapat lagi membendung kekecewaan akan sikapnya.
Dan begitulah rasanya memiliki pasangan yang candu akan gamesnya.
Terkadang bahagia jika dia berhasil di peringkat tertinggi. Terkadang bangga akan pencapaiannya. Terkadang juga harus mengalah untuk ikut terjun pada dunia gamesnya.
Rasanya nano-nano, tapi aku suka.
Yang milih gamesnya di banding ngapelin pacarnya. Walaupun sebenarnya tidak ada kata apel-anggur di dalam hubungan kami.
Yang milih kotak-katik jari sama gamesnya di bandingkan nge-chat pasangannya.
Mungkin rasanya ingin marah bercampur kesal. Mau menjambak-jambak rambutnya sambil teriak-teriak. Karena rasanya seperti tidak di prioritaskan sebab games adalah segala-galanya buat dia.
Walaupun begitu, dia terkadang ingat siapa yang harus di dahulukan.
Seperti kalau sudah seharian games, begitu di telfon/ chat bahkan pada saat pertandingan seru-serunya, dia langsung sign out. Mengalah sambil berkomentar pedas karena timnya marah-marah.
Atau bahkan di suatu ketika dia sudah janji akan menemani namun pada saat itu dia sedang turnamen. Rela ketinggalan satu babak meski dengan menunjukkan wajah sedih, kecewa dan berusaha menerima kenyataan.
Juga ada momen dimana dia suka mengabaikan.
Seperti saat kami habiskan waktu setelah LDR panjang. Dia sibuk dengan senam jarinya di games. Bersikap acuh dan selalu berkata, "sebentar ya. Satu babak lagi, kok"
Tapi, dia juga pada akhirnya akan menyerah jika aku sudah mulai lelah dan berpikir untuk pasrah.
Di saat-saat aku tidak bisa lagi memaklumi kecanduannya akan games, di suatu waktu aku tidak dapat lagi membendung kekecewaan akan sikapnya.
Dan begitulah rasanya memiliki pasangan yang candu akan gamesnya.
Terkadang bahagia jika dia berhasil di peringkat tertinggi. Terkadang bangga akan pencapaiannya. Terkadang juga harus mengalah untuk ikut terjun pada dunia gamesnya.
Rasanya nano-nano, tapi aku suka.
Komentar