Perihal Masa Lalu
Perihal masa lalu,sebenarnya aku tidak mau repot-repot mengurusnya. Aku percaya
kau juga bisa mengurusnya. Pun jika kau berniat berdamai dengannya, tentunya
setelah hatimu benar-benar pulih dari semua hal yang menyakitimu di masa
lampau. Akupun juga sama sepertimu. Punya masa lalu dan tentu punya luka yang
cukup mendalam.
Setelah bersama, kita putuskan untuk melupakan kisah yang silam. Kita obati
bersama-sama hati yang patah. Lalu, setelah bisa bernafas dengan lega, kita
sepakat untuk bersama dan sepaket untuk melupa. Tapi nyatanya rintangan dalam
hubungan kita terlalu banyak di ganggu oleh orang-orang masa lalu. Dariku, ia
yang dulu sangat begitu ku cintai sepenuh hati kembali datang dengan penuh
pengharapan untuk bersama kembali. Dan kaupun mengeram dengan dada yang di
penuhi rasa takut. Katamu, kau takut kehilanganku. Kau berharap aku tetap
memilihmu di sisi. Dan ya, ku lakukan untuk mu.
Sedang darimu, ia yang dulu kau patahkan (juga) masih berharap kau bisa
kembali dan melepaskanku. Kenyataan ia yang masih menghubungimu diam-diam, memberikanmu
perhatian-perhatian kecil, dan mencoba mencari-cari alasan untuk bisa
berkomunikasi denganmu selalu kau tutup-tutupi dariku. Ku bilang, aku tak suka
di tipu. Lebih baik terbuka, jujur dan apa adanya. Aku tahu “ia” masih memiliki
rasa. Aku paham jika “ia” belum bisa menerima. Tapi tidak dengan menyembunyikan
segalanya dariku. Faktanya, ya, aku tahu semuanya. Tanpa harus mendengarkan
ceritamu. Kau bilang, takut aku terluka kembali. Tapi tanpa kau sadari,
menutupinya juga akan membuatku terluka.
Dari awal kita memulai,kita sudah berkomitmen untuk saling melupakan masa
lalu dan hanya menatap masa depan. Kita berdiskusi tentang semua batasan yang
boleh dan tidak. Kau harusnya bisa membuat “ia” mengerti bahwa kau dan dia
sudah benar-benar berakhir. Walau pahit untuknya,tapi itulah kenyataannya. Jangan
jadikan “ia” mu sebagai benalu dalam hubungan ini, sebab akupun menolak “ia” ku
dengan tegas agar tak merusak hubungan ini.
Bukan aku kejam,kasih. Bukan aku egois atasmu. “ia” ku dan “ia” mu harus
menerima pilihan kita. Mereka harus sadar bahwa yang berlalu hanya pantas
tinggal di masa lalu. Mereka juga harusnya mencari pengganti kita. Menemukan kebahagiaan
yang lain dari orang lain yang mungkin mau membahagiakan mereka. Sampai kapan
mereka akan mengharapkan kita?
Kita perlu tegas perihal perasaan dan keputusan. Dan seperti inilah aku
mengajarimu dalam menghadapi masa lalu.
Komentar