Dia di Masa Lalu

Dulu pernah memiliki seseorang yang begitu mengekspresikan perasaannya. Dia salah satunya. Sudah sangat lama sekali. Tapi daripada melihat sisi buruknya, akan lebih baik untuk menilai kebaikan hatinya.

Usianya di atasku. Saat itu sedang masa sekolahan. Aku memasuki sekolah baru. Lingkungan baru dan teman-teman yang baru. Sedangkan dia, sudah cukup tua untuk beranjak dari sekolah kami ( bukan kita, karena tidak lagi bersama😂)

Awalnya dia suka dengan temanku. Tapi minta di jodohkan lewat aku yang pada saat itu tidak pernah tau kalau dia ada di sekolah itu. Bermodalkan keberaniannya, dia beserta teman-temannya kala itu datang menghampiri ku. Karena mereka tanda wajahku yang kebetulan sekelas dengan perempuan yang di taksirnya. Ku pikir, mereka gila. Terlalu nekat dan aneh. Ku acuhkan, tapi tetap ngotot untuk kenalan karena ada maksud terselubung.

Singkat cerita, aku bersedia membantu. Hubungan kami berlanjut menjadi abang-adik zone. Hanya saja, perasaannya kala itu kepada temanku tidak lah mulus. Di tengah kegalauan hatinya, dia berusaha mencari pelampiasan. Well, dia salah satu siswa terkenal. Baik, pintar di tambah dengan wajah yang mendukung. Di tambah, kala itu dia playboy pada masanya.

Lalu, kami berakhir semakin dekat. Pada saat itu, ku akui hatiku luluh lebih dulu. Dia pun menyadari itu, namun memilih menolak. Ku terima segala keputusannya, tapi pada akhirnya dia sendiri menyerah akan keputusannya. Dia memilih untuk bersama denganku saja.

Ketika kami bersama, banyak terjadi kehebohan. Banyak juga terjadi masalah dari pihak-pihak luar yang tidak menyetujui. Pada saat-saat seperti itu, aku goyah. Kemudian, dia menguatkan. Lebih ke tidak ingin berpisah.

Ya, ku kira akupun harus seoptimis dirinya. Melihat dari bagaimana dia berjuang dan bertahan. Bagaimana kami bisa ada di titik itu. Juga, banyak hal darinya yang begitu ku sukai. Caranya memperlakukanku, caranya cemburu dan caranya yang begitu mengkhawatirkan aku.

Seperti saat-saat dia mengenalkanku pada teman-teman barunya. Saat dia selalu melaporkan kegiatannya tanpa aku. Saat dia yang tidak suka aku berkenalan dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Saat dia berusaha mati-matian untuk meyakinkan aku jika gelar playboy tidak berlaku padaku. Atau saat dia yang khawatir jika aku mendadak menghilang tanpa kabar.

Dalam sehari, dia bisa menelpon dan mengirimkan pesan beratus-ratus kali jika aku marah dan memilih bungkam. Atau akan berlari kesetanan menuju rumahku jika sudah membuatku khawatir akan dirinya dan ya, masih banyak hal yang indah lagi yang tidak bisa aku jabarkan satu persatu.

Setelahnya kami berpisah. Dia akhirnya menyerah saat aku masih berusaha bertahan. Untuk pertama kalinya, aku merasakan patah hati yang amat dalam. Perpisahan dengannya adalah sejarah kelam sampai detik ini. Tapi aku tidak membencinya. Aku tahu pada saat itu, berpisah adalah jalan terbaik untuk kami dan semua orang. Juga, agar kami berhenti untuk saling menyakiti. Bahkan saat bertemu dengannya kembali tanpa di sengaja, aku biasa saja. Tak ingin canggung, ku ajak dia berbicara (tapi bukan tentang masa lalu) tentang sekolah kami yang dulu.

Darinya aku belajar banyak sekali. Bagaimana caranya untuk bangkit setelah patah hati. Bagaimana caranya berdamai dengan hati. Dan menerima bahwa semua tidak lagi sama. Dia, seseorang yang dulu ku harapkan menjadi masa depan namun kini harus di tinggal di masa lalu bersama dengan sejarah yang mau tidak mau membekas di hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik