Berbeda.
Aku menjatuhkan hatiku padanya. Bukan karena pilihanku,tapi karena cinta memilihnya. Kami berbeda bukan dalam hal pemikiran atau apapun itu. Bukan karena adanya perbedaan itu lantas membuat kami berbeda tujuan ataupun impian untuk bersatu di dalam ikatan yang lebih serius. Ikatan untuk hidup bersama;menjadi teman hidup. Tetapi,banyak orang-orang yang memandang kami sinis. Menganggap bahwa apa yang kami jalani ini hanyalah sia-sia.
Aku tak ingin berbohong pada hati,bahwa kekhawatiran itu akan terjadi. Persisahan yang bukan berasal dari kami;melainkan orangtua kami. Karena memang pada dasarnya,perbedaan yang kami miliki adalah keyakinan. Kami memanggil Tuhan dengan sebutan berbeda. Kami memiliki tempat beribadah yang berbeda. Tapi bukan berarti cinta yang kami miliki berbeda. Cinta kami sama dengan sepasang manusia lainnya. Meski aku tak mengikuti ibadahnya setiap hari minggu,meski dia tak melaksanakan ibadahku lima kali dalam sehari. Kami tetap berpikir bahwa perbedaan itu adalah penyatuan yang indah.
Mengapa orang-orang tak mau paham dengan apa yang kami rasakan?
Aku tak tahu harus menyalahkan siapa dalam hal ini. Aku tak tahu harus marah pada siapa. Yang aku pecayai adalah cinta yang kami miliki tidaklah salah. Hanya saja,mungkin memang jalan untuk bersama takkan pernah ada. Karena mungkin Tuhan menginginkan aku untuk merasakan betapa nikmatnya perbedaan. Walau ketakutan yang paling mengerikan adalah perpisahan dengannya. Tapi aku percaya,Tuhan tahu hati ini miliknya meski dia tak lagi bisa ku miliki seutuhnya.
Aku tak ingin berbohong pada hati,bahwa kekhawatiran itu akan terjadi. Persisahan yang bukan berasal dari kami;melainkan orangtua kami. Karena memang pada dasarnya,perbedaan yang kami miliki adalah keyakinan. Kami memanggil Tuhan dengan sebutan berbeda. Kami memiliki tempat beribadah yang berbeda. Tapi bukan berarti cinta yang kami miliki berbeda. Cinta kami sama dengan sepasang manusia lainnya. Meski aku tak mengikuti ibadahnya setiap hari minggu,meski dia tak melaksanakan ibadahku lima kali dalam sehari. Kami tetap berpikir bahwa perbedaan itu adalah penyatuan yang indah.
Mengapa orang-orang tak mau paham dengan apa yang kami rasakan?
Aku tak tahu harus menyalahkan siapa dalam hal ini. Aku tak tahu harus marah pada siapa. Yang aku pecayai adalah cinta yang kami miliki tidaklah salah. Hanya saja,mungkin memang jalan untuk bersama takkan pernah ada. Karena mungkin Tuhan menginginkan aku untuk merasakan betapa nikmatnya perbedaan. Walau ketakutan yang paling mengerikan adalah perpisahan dengannya. Tapi aku percaya,Tuhan tahu hati ini miliknya meski dia tak lagi bisa ku miliki seutuhnya.
Komentar