Lelaki keras kepala.

          Pukul 01:12 WIB getar ponselku membuyarkan konsentrasiku membaca novel. Sebuah chat darimu menyapa. Belakangan ini kita sering bercengkrama di pesan pribadi. Membahas hal-hal yang terkadang membuat kita tertawa tentunya selain membahas masa lalu kita yang saat ini sering kita jadikan bahan candaan. Kau cukup perhatian tentang jam tidurku yang ekstrim. Tentang kebiasaanku yang senang mengurung diri dirumah daripada menikmati dunia luar. Jujur aku sangat tersentuh dengan segalanya.
          Sifatmu yang senang blak-blakan jika berkomentar membuat dirimu tampak apa adanya. Tak ada kejaiman juga tak ada hal-hal yang di buat agar kau tampak hebat. Tak jarang terkadang kita senang beradu mulut karena perbedaan pendapat. Suku batak yang identik dengan watak keraspun melekat padamu. Tapi aku tahu,kau sebenarnya sungguh khawatir pada kesehatanku. Di balik keras kepalamu,ada seberkas kecemasan yang berusaha kau tunjukkan. Hingga mungkin kaupun lupa bahwa aku telah terbiasa dengan rutinitas seperti ini.
          “Kamu tidur gih” lagi-lagi 3 kata ini kau kirimkan padaku,sama seperti beberapa menit yang lalu.
          “Belum ngantuk. Masih baca novel” balasku dengan singkat. Aku tak mau memberimu harapan yang tidak bisa ku beri dengan pasti. Tidak disaat aku masih selalu bingung dalam menentukan pilihan.
          “Novel yang di PM kamu ya? Besok aja di lanjutkan bacanya” sifat cerewetmu mulai keluar. Hal ini tidak baik untuk keberlangsungan rasa penasaranku dalam membaca novel ini.
          “Kamu bulak balik ganti display picture dan pm. Kenapa? Supaya aku chat ya?” balasku agar mengalihkan topic pembahasan. Karena jika aku melanjutkan kau bisa berubah menjadi orang yang paling menyebalkan selain itu juga pertengkaran kecil kita akan tercipta. Aku tidak mau hal itu terjadi. Membujukmu itu sulit.
          “Iya. Tapi aku tunggu gak ada juga” rasanya menyenangkan membayangkan raut wajahmu yang tengah kesal saat ini. Kesan manly yang melekat padamu akan runtuh dengan sikap childish yang kau pasang.
          “Kamu harusnya belajar untuk UAS selama seminggu. Kalau IP kamu rendah kan malu” balasku memberikan nasehat.
          “Aku udah bosan belajar akuntan itu. Aku udah turutin nasehat kamu. Seharusnya sekarang kamu turutin nasehat aku. Tidur ya?”aku selalu saja senang membaca kalimat-kalimatmu ketika membujukku. Seandainya saja kamu lebih sepeduli ini ketika 4 tahun yang lalu,mungkin kita bisa bersama. Sayangnya,takdir berkata lain. Hatiku telah jatuh pada seseorang yang bahkan tak menganggap aku ada untuk mencintainya. Keputusan bodoh yang tak pernah aku sesali sedikitpun membuat benteng yang tak bisa ku rubuhkan. Permintaanmu untuk kembali padaku akhirnya harus ku tolak mentah-mentah karena orang itu. Tapi kau selalu saja sabar menghadapiku. Rasa sayangmu mengalahkan kebodohanmu yang menanti aku membuka hati untuk perasaanmu.

          Kau memilih menjalani hari dengan menghujaniku berbagai perhatian. Dengan status yang jelas-jelas tak bisa aku berikan. Tapi kau selalu berkata “Apa peduliku? Kau mencintainya. Itu terserahmu. Yang terpenting adalah aku menyayangimu” selalu saja kalimat itu yang membuatku tak punya alasan lagi untuk menolak keinginanmu. Biarlah saja semuanya seperti ini hingga nantinya kau pun lelah dan berhenti memberi perhatian padaku dan mencari perempuan yang bisa memberikanmu kejelasan yang kau nanti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik