Mematahkan masa lalu

          Sudah cukup lama kita tak saling tegur sapa. Cerita yang dulunya berakhir di tanganku membuat jarak diantara kita. Kisah itu bersemi di usia kita yang masih baru beranjak dewasa. Saat itu aku masih dalam keadaan tak terkendali karena berakhirnya sebuah cinta yang ku pertahankan mati-matian. Kau hadir untuk mencoba menghapus dukaku yang ditinggalkan. Aku tidak pernah menduga bahwa kepedulianmu menyimpan makna lain. Dua bulan semuanya berlalu dan kau datang menawarkan cinta yang kau punya untuk mengobati lukaku. Sebagai orang yang sedang terluka,aku menerima uluran bantuanmu saat itu. Namun,sepertinya mengambil keputusan disaat hatimu sedang masa berkabut tidaklah tepat. Aku menjalaninya dengan setengah hati. Maka dari itu aku memutuskan ikatan yang ku terima darimu.
          Kini sudah 5 tahun sejak kejadian itu. Kau senang mengomentari status-statusku di BBM. Aku mengambil sikap cuek setiap kali kau menyapa. Obrolan kita hanya selalu berakhir dengan kalimat “ya” yang kadang salah satu diantara kita hanya membacanya saja. Tapi pada malam ini kau berbeda dari biasanya. Selalu saja ada hal-hal yang kau tanyakan agar obrolan kita semakin panjang. Semakin lama perbincangan ini mengarah ke hal yang lebih serius. Kau mendesakku untuk memberikan alasan mengapa aku mengakhiri semuanya denganmu. Kau bercerita tentang kesedihanmu sewaktu membaca pesan mengerikan itu. Hingga akhirnya kau mengakui bahwa aku adalah cinta pertama sekaligus pacar pertamamu yang ingin kau jaga saat itu.
          Tersentuh? Itu pasti ketika mendengarnya. Tapi rupa-rupanya obrolan serius ini tak hanya membahas masa lalu saja. Pelan-pelan kau memberikan pertanyaan yang sama tepat saat 5 tahun yang lalu. Kau memintaku kembali meneruskan segala yang sempat ku akhiri. Kau berusaha mati-matian untuk membuatku menerima kembali uluran itu. Sayangnya,kau terlambat untuk datang meminta hatiku. Kenapa baru sekarang kau memilih merecoki hidupku? Tidak pada saat 4 tahun yang lalu ketika lukaku sudah benar-benar aku sembuhkan. Berkali-kali kau memohon kembali,tapi hatiku sudah di penuhi dengan nama yang lain.

Aku mematahkan lagi hati dan harapanmu. Padahal tak ada yang cacat dari dirimu. Kau memenuhi kriteria yang aku dambakan. Baik dan taat beribadah. Bersikap apa adanya dan kesan dewasa melekat di dirimu. Nyatanya tidak semua yang aku idealkan bisa membuatku memilihmu. Karena cinta tak memandang dari segi seperti itu. Kecewamu terlihat jelas. Malam itu kau mengakhiri cerita dengan sikap baik-baik  saja. Meskipun aku tahu saat itu hatimu sedang terluka. Satu hal yang aku simpulkan adalah kau takkan pernah bisa menjalani sebuah hubungan hanya karena kau ingin. Karena ketika kau gagal mencintainya akhirnya kau bisa saja menyakiti hati yang telah merakit mimpinya denganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik