Berdamai dengan Masa Lalu

          Rasanya sangat menyenangkan bisa kembali menatap wajahmu. Berbincang tentang banyak hal mengenai kita yang akrab sebelum semuanya berubah perlahan-lahan menjadi sebuah ‘cerita’ yang menjelma menjadi kenangan. Kau tampak banyak berubah. Tampak lebih dewasa dibandingkan saat terakhir kali kita bertemu dan mengucapkan kata berpisah.
          Kala itu,kau berubah menjadi sosok yang selalu bersedia ada di sisiku. Juga menjadi bagian yang selalu membuat hari-hariku berwarna. Aku ingat,saat-saat itu banyak wanita yang iri melihatku di perlakukan seperti seorang putri oleh pangerannya. Dicintai dan dikasihi. Dua hal yang akhirnya juga membuat banyak orang mengutukku dengan satu kata yang begitu menyeramkan yaitu;penyesalan. Sebab,mereka menganggap aku terlalu bodoh melepaskan lelaki sebaik dirimu. Lelaki yang sangat ‘langka’. Lelaki yang rela mengorbankan hidupnya demi mencintai satu wanita yaitu;aku.
          Tapi mereka tak pernah tahu alasan yang jelas tentang kisah kita. Mereka hanya melihat betapa terlalu cintanya dirimu dan terlalu acuhnya sikapku. Kau jelas tahu,mereka salah. Di balik sikap hangatmu,selalu ada emosi yang selalu bisa meluap-luap kapanpun. Emosi yang selalu memiliki dampak menyakiti hati juga terkadang ragaku. Aku mencoba mengerti jika beginilah caramu memperlakukan wanita yang kau sayangi. Namun,takkan selamanya aku mampu memaklumi.
          Dan kini,kau tepat di hadapanku. Memohon maaf atas segala hal yang pernah terjadi. Hal yang menyebabkan aku menangis malam itu. Hal yang membuat aku merasa bukanlah kekasih yang baik untukmu karena telah gagal menahan rasa cemburumu. Penyesalan terpancar jelas di wajahmu juga segurat rasa sayang yang kau coba sembunyikan di baliknya. Aku tak pernah lupa,tuan. Tatapan hangat itu selalu ku kenali.

          Dan disinilah kita,menyesap teh dengan hikmat. Memulai kembali semuanya dari awal. Mengurai kembali tali yang telah menggumpal. Tapi bukan sebagai sepasang kekasih,melainkan menjadi teman baik. Teman yang dulunya telah datang memberikan pelajaran bahwa cinta yang menyakitkan tidak cukup pantas untuk selalu di pertahankan. Karena manusia di ciptakan untuk saling mengasihi bukan menyakiti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik