Tak Perlu Sebodoh Ini.
Kau bersama dengan telepon genggammu. Perempuan itu
berteriak kesal di telingamu. Kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Dengan
sabarnya,kau menuruti apapun segala kemauan perempuan itu. Aku sempat berpikir
bahwa kisah cintamu hanya penuh sesak yang memakan seluruh logikamu. Perempuan
itu memperlakukanmu seperti pembantu bukan seperti seorang pacar. Hei..apakah
cinta memang sebodoh ini?
Sejak kau bersamanya,kita memiliki waktu yang sempit untuk
sekedar bertemu dan mengobrol. Tapi aku tahu,diam-diam kau senang mencuri waktu
untuk bisa kabur darinya hanya untuk bertemu denganku. Lalu kau akan mulai
bercerita tentang hari-hari yang berat ketika harus mengahadapinya juga tentang
segala impian-impian yang ingin kau raih.
Dia memang berbeda denganku. Dia cantik. Punya gaya yang
keren. Tampak seperti perempuan yang sebenarnya. Sedangkan aku? Lebih suka
menggunakan jeans daripada rok. Lebih senang memakai sepatu dari pada high
heels. Kehidupanku tidak seluas pergaulannya yang banyak di kelilingi
orang-orang terkenal. Aku mengakui dia memiliki kelebihan yang tidak ku punya.
Tapi aku tahu,aku punya sesuatu yang dapat membuatmu senang. Aku mengerti
selera humormu. Aku selalu menjadi pendengar setiap cerita-ceritamu. Aku bisa
membuatmu menjadi dirimu sendiri saat bersamaku. Bukankah itu cukup membuatmu
mengerti bahwa aku jauh lebih baik buatmu?
Tidak semua perempuan yang pandai berdandan dan memiliki
pergaulan yang kekinian dapat membuatmu nyaman. Harusnya kau menjadi dirimu
sendiri saat bersama seseorang yang kau panggil kekasih. Aku tidak tahu mengapa
kau bisa begitu mempertahankannya. Setiap kali ku tanya,kau hanya akan
mengatakan bahwa hal ini terlalu sulit di logikakan. Teman,cinta juga tak
sebodoh itu. Haruskah aku berteriak kuat agar kau menyadari jika akulah yang
tahu bagaimana caranya memperlakukan orang yang ku sayang dengan benar?
Jika memang fisiknya kau cintai sebagai alasan untuk tetap
bertahan,maka bersiap-siaplah kehilangan aku yang bisa menerima segala ketidaksempurnaanmu.
Karena ku rasa sudah saatnya aku berhenti untuk mencintai seseorang yang lebih
memilihi gengsi daripada kebahagaian untuk dirinya sendiri.
Komentar