Jika Seandainya saja.
Sedekat apapun itu,hanya punggungmu saja yang bisa ku
tatap. Kau sangat dekat,tepat di hadapanku,tapi mengapa hanya mataku saja yang
bisa menikmati hadirmu disini?
Pelan-pelan aku mencoba mengangkat tangan ini,berusaha
menyentuhmu untuk kali ini saja. Tapi sebagian dari hatiku berteriak tak boleh.
Sebab kau bukan seseorang yang ku genggam. Meski aku merasa bahwa hanya dengan
menyentuh pundakmu saja,aku bahagia.
Ia bercerita panjang lebar tentang masalah yang menimpanya.
Aku mendengarkan dengan seksama. Menyimak setiap deretan kata yang mengalun
indah di telingaku. Suaranya memang tak lembut,justru ada nada cemas di
dalamnya. Aku membatin di dalam hati seperti biasanya. Mengeluarkan pendapatku
sendiri tentang segala masalahnya. Walau kalimat-kalimat penenang itu hanya
bisa ku simpan di dalam hati saja.
Entah sudah keberapa
kalinya ia menghela nafas. Lalu menghirup oksigen banyak-banyak. Tatapannya
begitu frustasi. Sedih,kecewa,marah berbaur menjadi satu. Ada luka di hatinya
yang baru saja tercipta. Semua ini terjadi karena kekasih yang tak menghargai
usahanya juga teman yang mengkhianatinya. Aku mendesah sepelan mungkin hingga
ia tak bisa mendengarnya. Menatapnya dengan tatapan sedih melihat hidupnya jadi
berantakan hanya karena orang-orang yang tak mensyukuri posisinya.
“Lihatkan! Mereka sama saja” ia menutup wajahnya dengan
menggunakan telapak tangannya.
“Kenapa semua perempuan senang menyakiti hatiku” gumamannya
sangat jelas di telingaku.
Ia salah. Tidak semua perempuan seperti itu. Karena
nyatanya aku selalu berusaha membuatnya bahagia. Menenangkan emosinya yang selalu
meledak-ledak di hadapanku. Ia tidak pernah melihat seberapa keras aku
berkorban untuknya. Yang ia tahu,aku hanyalah seseorang yang bersedia mendengar
kisah pilunya. Selalu.
Aku
tak pernah paham,mengapa hanya untuk hal-hal yang berbau kesedihan saja ia akan
datang,sedangkan untuk segala berita bahagia di hatinya selalu ia bagi kepada
orang lain yang jelas-jelas itu bukanlah aku.
Tapi tak mengapa. Menjadi pendengar cerita sedihnya saja sudah
lebih dari cukup. Sebab aku tak punya keberanian untuk mengajukan diri menjadi
perempuan istimewanya. Seleranya terlalu tinggi. Dan aku sangat sadar diri. Aku
bukan perempuan yang bisa ia ajak kemana-mana. Karena nyatanya,tempat yang ku
kunjungi hanya kampus-perpustakaan-rumah atau taman. Aku juga bukan perempuan
yang bisa berdandan persis seperti perempuan-perempuan yang di sukainya. Aku
jelas kalah dalam hal fisik jika di bandingkan dengan mereka semua.
Tapi,jika
seandainya saja dia sadar,jika seandainya saja ia berhenti untuk buta dan
melihat ke arahku. Ia akan tahu bahwa aku dan hanya akulah satu-satunya yang
selalu berada di sampingnya,yang selalu mengelus lembut pundaknya sebagai
penenang. Aku yang mencintainya dengan tulus. Tanpa kata. Tanpa syarat. Tanpa
ia tahu semuanya. Semua yang terpaksa ku diamkan di dalam hati.
Komentar