Bukan Hanya Aku.
Namanya kekasih,begitu aku
memanggilnya. Dia adalah semestaku. Dia adalah penenang yang selalu mampu
menguatkanku. Namun tak semua hatinya sepenuhnya milikku. Ada nama lain yang
menghuni salah satu ruang di hatinya. Nama yang selama ini ia coba untuk abaikan.
Dan nama yang selama ini selalu mengusik seisi pikiranku.
Meski bibirnya mengatakan
tidak,aku melihat mata jernihnya masih berbinar ketika nama itu tersebutkan.
Aku iri. Amat sangat iri pada perempuan yang masih setia menghuni sudut hatinya
juga sepintas melintas di pikirannya. Aku mencoba mengerti bahwa sosok itu
sudah berlalu di kehidupannya. Tapi rasa-rasanya di setiap saat seperti ia
membawa-bawa kembali hadirnya di antara kami.
Setiap ku dapati hatinya tak
bersamaku,jujur aku merasa begitu terluka. Sebegitu hebatnya perempuan itu
melekat di kekasihku. Hingga aku yang mencoba mati-matian berusaha mengalihkan
dunianya saja bisa kalah. Bagaimana caranya agar ia sadar bahwa akulah kini
masa sekarangnya. Bagaimana caranya untuk bisa membuatnya hanya menatap aku
seorang. Sebab,telah ku lepaskan segala jerat masa lalu hanya untuk menapaki
jalan yang mulus bersamanya. Aku menyingkirkan segala krikil yang bisa
mengancam hubungan ini.
Nyatanya,dia tak melakukan
hal yang sama. Nyatanya,masih sering ku rasa hanya raganya di sisiku.
Nyatanya,tak semua ungkapan cinta terasa tulus. Dan,masih banyak
nyatanya-nyatanya yang ternyata terlalu buta untuk ku sadari.
Ku sadari,kasih. Aku mungkin
tak sesempurna masa lalumu. Aku juga tak bisa mengerti dengan baik segala tingkah
lakumu. Namun aku mencobanya,selalu. Aku mencoba menghadapimu dengan diriku
sendiri tanpa harus menjadi seperti sosok masa lalumu. Ku harap,kau tak buta
terlalu lama. Sebab semakin lama aku merasakan sesak yang kapan saja bisa
meledak dengan hebatnya. Dan ku harap,tak pernah ada kata menyesal yang terucap
di bibir kita. Entah karena aku merasa begitu tersakiti atau kamu yang merasa
telah mensia-siakan hadirku selama ini.
Komentar