Di Keadaan yang Salah

Ini semua telah salah sejak malam itu. Sejak dia yang memutuskan memulai percakapan. Sejak dia yang mendesakku dengan seribu pertanyaan tentang hal yang bersifat privasi. Dia yang diam-diam memasuki ruang lingkup pribadiku. Sejak dia sedikit demi sedikit membahas soal perasaan.

Aku tidak secara gamblang menceritakan segalanya. Hanya pada bagian-bagian yang tidak terlalu inti dan tidak butuh banyak uraian. Malam itu,ia menjadi pendengar yang baik. Amat sangat baik,hingga ia tabah membaca serentetan kalimat panjang yang aku ketik. Dan malam itu,semua berakhir dengan suasana sendu.

Setelah itu,ia semakin sering mengabari. Bertanya mengenai apa saja tentang studi kami-yang notabene satu kelas- lalu perlahan-lahan mulai menyerempet soal perasaan. Aku merasa nyaman. Berbincang tentang banyak hal. Lama-lama aku mulai tahu kebiasaannya. Aku mulai hapal setiap kegiatannya di luar jam belajar. Dan aku juga semakin tahu bahwa,ada sebuah rasa yang mulai tumbuh untuk dia yang telah di miliki.


Ya,aku menyukai seorang lelaki yang sudah memiliki kekasih. Namanya tak pernah tersebutkan. Tapi pada obrolan-obrolan kami,perempuan itu terselip dalam setiap pembahasan. Ini membuatku merasakan jatuh sekaligus patah yang terjadi secara bersamaan. Aku bukan perempuan yang senang menjadi perusak hubungan orang. Jadi aku memilih mengubur perasaan ini dan mencoba menjadi teman terbaiknya. Menyayangi sesama teman. Bukan,mencintai sesama teman.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik