Untukmu.

            Saya tidak tahu bagaimana caranya agar perasaan yang semakin lama,semakin membuncah ini dapat di kendalikan. Ya,kamu telah memporak-porandakan pikiran saya;tanpa henti. Padahal,sudah hampir beberapa bulan saya tidak bertemu kamu. Akan tetapi,nyatanya efek kamu masih begitu membayangi kehidupan saya. Semua ini memang sengaja saya lakukan. Bukan menghindari kamu,saya hanya takut jatuh cinta lagi,lagi dan lagi kepada kamu.
            Dulu,kita punya cerita yang indah. Bukan dalam status pacaran,namun sebuah ikatan yang kita sendiri menyebutnya sebagai ‘pertemanan’. Kita berjuang bersama,tertawa bersama dan juga menangis bersama. Kamu tipe lelaki yang cukup misterius dimata saya. Pendiam tapi humoris. Acuh tak acuh tapi protektif. Cerewet dan suka menggosip. Saya sangat dibuat terkejut melihat sikap asli kamu yang sangat berbeda. Benar apa yang dikatakan orang-orang diluar sana,bahwa ‘jangan melihat orang dari covernya saja,tapi lihatlah isinya’.
            Masih teringat dengan jelas memori tentang kita. Saat kita menjahili teman-teman. Saat kamu marah karena pakaian saya terlalu menyita perhatian dan saat saya khawatir ketika kamu sakit. Kita tampak seperti sepasang kekasih yang sudah berpacaran cukup lama.
Semua indah dan terasa nyata bagi kita. Namun sayang,kini semuanya sudah berlalu. Tanpa ada kepastian yang jelas,perlahan tapi pasti hubungan kita yang begitu erat perlahan kian melonggar. Aktivitas kita yang sekarang sudah berbeda mengubah segalanya. Kita terbuai dengan kesibukan masing-masing. Dan kamu,seakan-akan menjauh dari saya secara teratur. Pemahaman kita memang sedikit berbeda. Saya tipe wanita yang bersedia menjalin hubungan,sedangkan kamu tidak. Tetapi,saya yakin apa yang selama ini kita lewati beratas namakan cinta. Saling menyayangi. Kedua perasaan tersebut saling terlibat dan berkaitan erat. Meskipun tanpa ucap dan kata-kata yang terlontar dari bibirmu.
Saat ini,sudah tak terhitung lagi berapa bulan,minggu,hari dan waktu yang saya lalui hanya untuk mencintai laki-laki yang sibuk mengejar impiannya. Entah sudah berbentuk apa rindu yang saya punya untukmu. Tapi saya tidak pernah menyerah. Meski sekarang ia pergi meninggalkan saya dan hanya sesekali pulang,saya tetap menunggunya. Menunggu yang tidak pasti. Mencintai seseorang yang belum tentu masih mencintai saya.

Ini untuk kamu;laki-laki berkulit putih yang tinggi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik