Senja di Tepi Pantai

          Perempuan itu terdiam seketika setelah mendengarkan kalimat yang terucap dari laki-laki yang sedang berusaha keras mengalihkan dunianya. Sore itu,saat senja menampakkan keindahannya di bibir pantai dengan suara ombak yang menyentuh lembut kaki-kaki mereka menjadi saksi bisu dari dua anak remaja yang kini telah selesai mengerjakan tugas mereka sebagai pelajar. Laki-laki itu masih tidak bergeming. Berharap perempuan yang ada di hadapannya kini merespon niat baiknya. Perlahan-lahan,perempuan itu berjalan mundur. Menciptakan jarak diantara mereka. Dia tidak lagi menatap laki-laki itu. Perhatiannya sudah di pusatkannya pada matahari yang sedang mengucapkan kata perpisahan pada seluruh makhluk Tuhan yang tengah mengaguminya.
          “Satira,jawab aku” laki-laki itu berusaha mengambil alih pandangannya. Menarik kembali perempuan itu dari dunianya.
          “Aku tidak bisa,Rama” dengan pandangan yang masih berpusat pada senja yang selalu membuatnya terpana. Pada senja yang setiap harinya menciptakan sensasi yang berbeda. Sepertinya hari ini,senja membawa suasana syahdu baginya.
          “Kenapa lagi? Bukankah aku sudah menunggumu selama ini?” ujar laki-laki itu dengan menatap lekat wajah perempuan yang ada di depannya. Postur tubuhnya yang tinggi membuat dia dapat melihat jelas setiap perubahan mimic wajah perempuan yang tiba-tiba saja menjadi pendiam.
          “Aku tidak pernah menyuruhmu menunggu. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak akan menjalin hubungan selama berada di tingkat akhir sekolah” jelas perempuan berseragam putih abu-abu yang sudah di penuhi dengan pylox dan coretan-coretan tanda tangan teman-temannya.
          “Benar. Tapi,bukankah selama ini aku menunjukkan rasa sayangku kepadamu. Jadi,apa makna di balik itu semua?”
          “Aku menganggap bahwa kita hanya sebatas teman dekat. Dan aku tidak memiliki perasaan yang lebih terhadapmu,Rama” perempuan itu memutuskan kembali pada teman-temannya yang lain. Menyudahi pembicaraan itu begitu saja. Meninggalkan laki-laki itu sendirian di tepi pantai.
          “Tunggu,Satira” ucapnya pada perempuan yang sudah membalikkan badannya kembali.
          “Apa aku tidak punya tempat di hatimu? Apa aku tidak bisa menggantikannya?”
“Maaf,Rama. Saat ini,jawaban dari semua pertanyaanmu tadi adalah tidak”
“Tapi kau belum mencoba membuka hatimu untuk yang lain,Satira” laki-laki itu memasang tatapan memohon. Berharap perempuan yang ada di depannya dapat memberikan kesempatan untuk bisa memilikinya. Menjadi kekasihnya.
“Aku sudah pernah melakukannya. Berulang kali. Yang ku dapat hanyalah semu atas semua perasaan itu” tatapan gadis itu menajam kearahnya. Menyiratkan kejujuran dalam setiap kata-katanya. Mengingatkannya kembali tentang sejarah perempuan itu dengan semua laki-laki yang pernah singgah di hatinya.
“Tapi tidak semua perasaan dapat di miliki,Satira”
“Seharusnya kamu mengatakan kalimat itu untuk dirimu sendiri”
“Ya,tentu. Dan kalimat itu juga ku hadiahkan untukmu” sudut bibirnya tertarik miring. Nada suaranya memberikan kesan sinis. Namun,tatapannya masih melembut untuk perempuan di hadapannya.
“Terimakasih untuk hadiahnya. Kau ingin tahu pendapatku tentang keadaan yang seperti ini,Rama? Begini,aku meyakini bahwa setiap yang hidup di dunia ini pasti akan mati. Seperti itulah aku menganggap perasaan ini. Meski aku menjalaninya,menikmatinya,aku sadar bahwa pelan-pelan perasaan itu akan memudar untuknya. Jadi,nikmati saja rasa sakitnya,menahan rindunya dan segala sensasi yang kamu rasakan saat ini. Percayalah,suatu hari nanti kamu bisa melupakannya” seulas senyum di lemparkan perempuan itu kepadanya. Senyum yang tulus. Senyum yang memiliki maksud bahwa apa yang membuat dunianya gila dan apa yang membuat jantungnya berdetak cepat dapat menghilang dari hidupnya suatu saat nanti karena perempuan itu telah sukses dia lupakan.

Dan pada saat akhir masa sekolahnya,dia memilih mengasingkan diri dari teman-temannya. Memandang kembali perempuan yang begitu sangat dia sayangi. Menciptakan senyum yang indah kepada senja yang telah pergi. Dengan doa di dalam hati bahwa dia akan belajar rela melupakan perempuan yang beberapa menit lalu menyadarkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik