Kekhawatiran.
“Aku ingin
menunggunya. Melakukan hal yang sama denganmu” perempuan itu masih fokus pada
jalanan di depannya. Sedari tadi,senyumnya tak pernah pudar. Padahal,baru
beberapa menit yang lalu dia uring-uringan karena ‘serangan mendadak’ dari
kekasihnya yang barusan saja resmi menjadi mantan.
“Kamu gila! Kamu
tidak akan tahan menjalaninya” protesku dengan menampilkan raut wajah marah
bercampur kesal. Apa dia berfikir menunggu itu enak?
“Kamu aja
sanggup menjalaninya hingga bertahun-tahun. Kenapa aku gak bisa? Lagian juga
dia masih bisa pulang mengunjungiku sesekali” wajahnya terlihat anteng-anteng
saja. Seolah semua keputusannya itu bukanlah masalah besar ataupun hal yang
rumit untuk di hadapi.
“Bagi orang
sepertiku,menunggu seseorang itu tidaklah enak,Satira. Harus menahan hati untuk
satu orang hanya untuk membuktikan padanya bahwa kita setia. Bahwa cinta yang
kita punya juga layak ia miliki” nada suaraku melembut. Bagaimanapun,sebagai
seorang teman yang baik,aku harus menyadarkannya. Aku tak ingin dia bernasib sama
denganku. Memilih sendiri tetapi hati sudah di borgol oleh satu nama.
“Aku juga ingin
dia tahu bahwa aku setia,Adira” dia mulai menepikan sepeda motor kami pada
salah satu parkiran super market. Hari ini setelah selesai jam kuliah,aku
sengaja menemani Satira untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan ke depan.
Maklum saja,Satira dan aku adalah anak perantauan.
“Tidak ada yang
pasti dalam hal menunggu,Satira. Dia memutuskanmu karena diapun tidak yakin
apakah dia bisa setia kepadamu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di
masa depan. Kau,aku,mantan kekasihmu ataupun laki-laki itupun tidak tahu”
jawabku dengan menggandeng troli berukuran kecil. Hari ini aku berencana membeli
perkakas kamar mandi. Jadi,bisa di pastikan yang akan ku beli di super market
ini hanya sedikit. Sedangkan Satira membawa troli belanjaan berukuran besar.
Perbedaan paling mencolok antara aku dan Satira ya dalam hal berbelanja. Aku
lebih suka mencicil satu persatu belanjaan kebutuhanku sedangkan Satira lebih
senang membeli sekaligus semuanya.
“Lalu jika
memang tidak ada yang pasti,kenapa kamu berani mengambil resiko sejauh ini?”
aku terdiam. Langkah kakiku terhenti. Aku merasa kepalaku barusan saja di
sambar petir yang sangat mengerikan. Sial. Aku di sindir lagi olehnya.
“Karena...aku
bahkan tidak tahu lagi bagaimana rasa sakitnya. Yang aku tahu,aku mencintainya.
Yang aku yakini,aku masih ingin sendiri. Entah itu karena aku menunggunya atau
karena memang aku sudah terbiasa sendiri” Satira meninggalkanku,berjalan lurus
menyusuri bagian kecantikan wanita. Mulai memilah-milah barang yang akan di belinya. Ia
melirikku sekilas yang masih terpaku di tempat.
“Itulah yang
ingin aku sampaikan padamu,Adira. Selain patah hati,akibat dari keputusanmu ini
salah satunya juga mati rasa. Mulailah belajar mencintai. Membuat dirimu
senyaman mungkin pada setiap perhatian laki-laki yang mendekatimu.
Percayalah,Adira. Mereka tulus padamu. Mereka tidak sama seperti
mantan-mantanmu itu” ucapnya dengan menatap mataku dengan lembut. Aku
tahu,Satira mengkhawatirkan keadaan hatiku. Bahkan sebenarnya aku sendiripun
tidak sadar sudah seberapa parah hatiku terluka. Memang benar,mereka yang
diam-diam menaruh hati padaku adalah para laki-laki yang tulus. Tidak peduli
seberapa ketusnya diriku,seberapa seringnya aku mengerjai mereka,mereka tetap
tak menyerah. Hingga terkadang akhirnya ada yang putus asa dan memilih pergi.
“Percayalah,Adira.
Jika dia untukmu,kalian akan bertemu pada tempat dan waktu yang lebih baik
lagi. Saat ini kamu hanya perlu membuka hati untuk yang baru. Tentang siapa
yang nantinya menjadi teman hidupmu,serahkan kepada Tuhan” aku tersadar dari
sekelebat pikiran yang kusut ini. Kata-kata Satira terus menari-nari di
kepalaku. Saling berhubungan untuk menyimpulkan semuanya. Tiba-tiba,Satira menarik
tanganku. Membuatku mau tak mau mengimbangi langkah kakinya menyusuri setiap
sudut super market ini.
“Sudah-sudah.
Jangan berpikir disini. Kamu terlihat seperti orang bodoh saja” Satira tertawa
terbahak-bahak. Hei! Apakah wajahku selucu itu? aku memanyunkan bibir melihat
Satira yang masih terkekeh.
Satira benar.
Sudah saatnya aku membuang pemikiran itu. Bagaimanapun,tidak baik jika terpaku
hanya pada satu orang. Setia tidaklah salah,tapi kesetiaan tergantung kepada
siapa kita bersedia untuk setia dan seberapa sanggup orang yang di setiakan itu
akan juga setia pada kita. Setidaknya,komitmen itu harus ada. Jadi,jika dia
saja tidak bisa memastikan untuk setia,untuk apa kita memaksa hati untuk setia?
Komentar