Lelaki Penuh Drama

            “Aku berharap,kau yang terakhir untukku”
            Aku menggigit bibir bawahku saat dia mengucapkan kalimat itu. Tidak. Aku tidak ingin seperti ini. Aku menatap frame foto berbingkai merah muda itu. Ada lelaki itu disana. Tersenyum dengan seorang perempuan yaitu aku. Senyuman hangatnya membuatku merasa bersalah pada lelaki yang sedang berada di ujung telepon ini. Harus bagaimana aku menghadapi ini. Dia begitu baik kepadaku. Begitu amat menyayangiku. Tapi,kenapa dia harus memilihku menjadi tempat terakhir? Kenapa dia berharap setelah beberapa tahun yang lalu aku merapal doa untuk memilih laki-laki di frame foto itu menjadi tujuan akhirku?
            Aku memilih diam. Sibuk berdialog dengan diri sendiri. Merutuki kebodohanku yang telah lancang mempersilahkan dia memasuki duniaku. Semakin sulit rasanya untuk mengakhiri hubungan ini. Dia memang mampu membuatku nyaman. Tapi,tak ada tempat yang paling nyaman seperti sikap seseorang yang ada di frame foto itu kepadaku. Dia tidak bisa menculik sebagian dari hatiku. Meski aku memulai ikatan ini dengan kejujuran tentang seseorang itu. Tapi kenyataan tidaklah semudah yang aku bayangkan. Semua yang di awalnya ku rasa nyaman dan tenang berubah menjadi peluh yang melelahkan. Drama demi drama yang dia buat,telah sukses menenggelamkan seluruh perasaanku.
            Ku akui,aku suka pada sajak-sajak cinta nan romantis. Tapi bukan berarti setiap saat aku harus berhujankan rayuan cinta. Belum lagi jika sudah bertengkar,sesaat dia akan menjadi monster yang aneh. Sekejap kemudian dia akan menjadi anak kucing yang memohon-mohon pada ibunya.
            Pandanganku beralih pada sosok di frame foto itu. Kenapa dari sekian banyak laki-laki yang ku kenal,hanya kamu yang memenuhi kriteriaku? Kenyataan ini semakin rumit. Lebih baik aku berhenti menyakiti hati siapapun.
            “Kita putus. Aku muak dengan dramamu” sambungan telepon itu mati secara sepihak dan sejak saat itu segala hal tentang si penelpon ku enyahkan dari hidupku.



            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Am I Wrong?

Cerita Akhir

Kilas balik