HUT RI Love Story
Untuk
menyambut kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini,aku mau share tentang
sebuah pengalaman bocah kecil yang dewasa sebelum waktunya. PERINGATAN! Untuk
tokoh dan beberapa hal yang menyangkut privasi individu di cerita ini saya
samarkan. Jadi kalau ada yang merasa,mohon untuk tidak tersinggung tapi boleh
tersunggingkan senyum kalian.
Tradisi
menyambut HUT RI ini adalah diadakannya lomba di setiap sekolah. Termasuk
sekolahku saat itu. Dalam satu gerbang,ada dua sekolah. Jadi,mau tidak mau kami
semua harus berbagi lapangan. Sesungguhnya ini lapangan cukup luas. Dan seolah
menjadi tradisi bahwa sekolahku dan sekolah depan sudah mempunyai kesepakatan
batas wilayah teritorialnya masing-masing.
Perlombaan
saat itu berlangsung meriah di kedua sekolah yang berhadapan. Di sekolah,kelas
hanya terdiri oleh kelas A dan kelas B. Aku saat itu beruntung masuk kelas A.
Karena rumor yang beredar bahwa anak-anak kelas A adalah anak-anak yang
memiliki penampilan dan IQ yang lebih baik daripada anak-anak kelas B. Tapi hingga
sekarang,kebenarannya masih belum terungkap.
Detik-detik
sebelum puncak perayaan HUT RI itu di tutup dengan lomba tarik tambang. Dalam
catatan sejarah selama hampir 5 tahun aku berada di sekolah ini,kelasku untuk
klasemen putri selalu mengalami kegagalan. Sebab,anak-anak putri di kelas 6B
memiliki badan sebesar babon dan sejenis gajah. Lain halnya dengan kami yang
memiliki badan mulai dari yang halus sampai yang ku tilang (kurus tinggal
tulang) *oke,buat yang merasa saya minta maaf* dan kami semua;putri-putri kelas
A bertekat untuk memberikan kemenangan di penghujung tahun kelulusan kami.
Dengan
penuh semangat,kami begitu berusaha mati-matian untuk bisa menarik lawan ke
daerah kami. Tarik-menarikpun terjadi. Tak peduli dengan peluh serta goresan
luka di tangan. Jiwa kelelakian siswi kelas A menguap. Dukungan tak hanya di
berikan oleh bapak guruku yang saat itu adalah wali kelas kami. Dari para siswa
laki-lakipun dalam sekejap berubah menjadi cheerleader. Ada yang teriak-teriak
“KELAS A! KELAS A! KELAS! MENANGKAN! “ sambil manjat di pohon yang aku sendiri
sudah lupa. Para siswa dan siswi dari sekolah depanpun akhirnya ikut
menyorakkan dukungannya pada tim yang di pilih masing-masing.
Di
pertengahan lomba,kami mulai berhasil menarik lawan. Namun,entah karena tenaga
sudah banyak terkuras atau ada insiden curang akhirnya kami semua tumbang dan
tertarik masuk ke garis lawan. Kekalahan tarik tambang untuk putri ini membuat
kami semua;siswi kelas A menjadi begitu sedih. Secara kompak,kami yang kalah di
medan perangpun memilih masuk kelas dan menangis sejadi-jadinya. Suasana duka
begitu kental. Aku hanya termenung. Menyesali kekalahan yang sudah terjadi.
Sedangkan anak-anak kelas B di luar sana berteriak menyebut mereka sebagai
pemenangnya.
Di
tengah suasana mencekam ini terganggu karena suara ribut para anak lelaki yang
memasuki kelas.
“Bah..pada
benangisan semua orang ini” kata salah satu temanku yang agak somplak.
“Janganlah
kelen nangis woi! Macam ga pernah kalah aja” teriak yang lainnya.
Ya,pada
dasarnya cewek adalah makluk yang akan berekspresi berlebihan kalau sesuatu
yang di inginkannya tidak tercapai.
Karena merasa di abaikan,akhirnya para lelaki-lekai yang tidak mengerti
pahitnya kegagalan itu memutuskan untuk keluar kelas. Meninggalkan kami yang masih
bersedih-sedihan dengan sumpah serapah mengutuk kelas B.
Tepat 15
menit kemudian mereka berbondong-bondong masuk ke kelas dan meniup balon. Kami
semua terkejut. Kenapa semua anak lelaki kelas A? apakah otaknya sudah
bergeser? Dengan hebohnya mereka sibuk mengembus lalu memecahkan balon. Ketika
persediaan balon sudah habis mereka kembali lagi menyerbu kantin sekolah dan
memborong semuanya.
Suasana
yang tadinya hening sesaat mulai riuh begitu lagu poco-poco dimainkan. Para
lelaki kelas A kembali masuk dengan menggenggam satu balon di tiap
masing-masingnya. Dan yang begitu suprisenya! Satu persatu mereka mengajak kami
untuk menari bersama dengan balon yang di bawa. Semacem pesta dansa tapi di
ganti dengan lagu poco-poco. Satu-persatu siswi-siswi kelas A ini mulai
merekahkan senyum dan kembali menari,bergabung dengan seluruh murid di kedua
sekolah. Termasuk teman-teman terdekatku yang lain. Dan aku tadinya sempat
berpikir bahwa tak ada satupun yang akan mengajakku.
Well,pernyataan itu salah.
Iin,teman sebangku ku datang membawa balon merah hati dan mengajakku ikut
menari bersama. Sedikit kecewa,aku menerima ajakannya. Meskipun yang ku
harapkan adalah cowok yang sejak dulu sudah ku sukai. Tapi,sepertinya dia
memilih mengajak perempuan itu menari bersama. Di tengah keramaian siswa dan
siswi yang heboh menari itu,Irsyad datang menggantikan pasanganku. Irsyad
adalah teman TK ku. Dia pindah ke sekolah ini saat kami kelas 4. Irsyad punya
banyak penggemar di sekolahku. Dagu yang membelah sempurna. Mata yang cipit
seperti peranakan china. Dan badan yang lumayan berbidang membuat ia tampak
sempurna di mata para gadis saat itu.
“Kamu udah usaha keras
untuk lomba tadi. Jangan bersedih ya!” ujarnya kepadaku dengan nada suara yang di
buat agak keras mengingat music poco-poco ini begitu kuat.
“Makasih syad” jawabku
seadanya. Moodku benar-benar rusak melihat cowok itu tertawa bersama dengan
pujaan hatinya. Aulia adalah salah satu anak kelas A yang ku suka sejak dulu
dan pujaan hati yang bersamanya adalah Desi yang juga salah satu teman dekatku.
Kami terjebak dalam cinta segiempat. Aku menyukai Aulia. Aulia menyukai Desi.
Desi menyukai Irsyad dan Irsyad yang akhirnya suka samaku.
Aulia
dan aku mempunyai hubungan yang sangat dekat. Orang-orang mengira ada ‘sesuatu’
diantara kami atau lebih tepatnya adalah hanya aku yang merasakan sesuatu itu.
Saat main jujur-jujuran dengan Jaka;teman Aulia. Akhirnya Aulia mengakui bahwa
dia menyukai temanku yang bernama Desi. Tapi Desi tidak pernah menggubris usaha
Aulia. Aku tahu betul sejak Irsyad pindah Desi jadi tergila-gila padanya.
Hingga di suatu sore ketika pulang bersama Aulia dan teman-teman di komplek itu
Aulia meminta bantuanku untuk bisa membuat Desi suka padanya.
Seperti
tersambar gledek,aku menjawbnya dengan ragu. Bagaimana mungkin aku menjodohkan
orang yang aku suka dengan gadis lain? Hanya bocah sok kuat yang melakukannya.
Esok harinya,di sela-sela jam istirahat,aku meminta Desi menemuiku di sebelah
kelas kami. Secara terang-terangan aku meminta Desi untuk membuka hatinya buat
Aulia *sumpah ini rasanya nyesek parahT__T*
“Bukannya
kamu ya,yang suka sama Aulia?” Alis
Desi mengkerut.
“Enggak,aku
sukanya sama Irsyad” informasi Desi suka sama Irsyad ini aku dapat dari
beberapa temanku yang juga dekat dengan Desi. Jadi rencanaku adalah menyuruh
Desi menjauhi Irsyad dan mendekati Aulia. Picik tapi menyesakkan dada.
“Bohong
deh pasti. Keliatan kok kamu sukanya sama Aulia” bantahan Desi ini membuatku
berpikir ‘apa semudah itu ya,perasaanku terbaca?’
“Enggak,aku
suka sama Irsyad sejak kami TK” ini kebohongan yang sangat membuatku ingin
muntah. Sejak TK? Yang iya,dulu aku dan Irsyad senang beradu argumen. Meskipun
aku akui,saat ini Irsyad berubah jadi cowok keren dan tidak bandal lagi. Sejak
saat itu,kabar bahwa Desi dan Aulia punya hubungan menjadi gossip heboh
berdampingan dengan gossip tentang diriku yang juga punya hubungan dengan
Irsyad.
Sejujurnya,kalau aku di
kasih kesempatan untuk berbagi masa lalu pada Irsyad. Aku ingin bilang beribu
maaf karena menjadikannya umpan. Sebelum perayaan kelulusan,aku sengaja
menjauhi Irsyad. Karena aku tidak tega membiarkan Irsyad meyukai terlalu dalam
sedangkan aku tidak sama sekali. Di mataku,Irsyad tetap akan menjadi teman. Hingga
saat ini,aku dan Irsyad tidak pernah berjumpa lagi. Sedangkan Desi dan Aulia?
Aku sudah tidak peduli. Well,saat acara menari balon poco-poco aku bisa lihat
bagaimana frustasinya Irsyad yang ku abaikan karena keasikan ngeliatin cinta
pertamaku atau cinta monyetku atau cinta apalah itu namanya bersenang-senang
bersama pilihannya. Terkadang aku berpikir,kenapa tidak aku ungkapkan saja
sekarang? Saat Aulia datang dengan membawa cintanya untukku. Kenapa aku tidak
menyambutnya? Dan malah memilih menghindar darinya?
Perasaan ingin dia tahu
kalau aku suka dan perasaan ingin memilikinya membuatku berpikir bahwa aku
harus bisa menyenangkannya meskipun aku terluka saat itu. Tapi,ketika cinta
yang dulu ku dambakan itu datang setelah 10 tahun lebih kini rasanya sudah
berkarat dan lama-lama menghilang. Kadang cinta datang di waktu yang tidak
tepat. Disaat aku ingin,dia memilih pergi. Disaat dia kembali,aku memilih
berhenti. Penyesalan selalu datang terlambat karena ia tak secepat waktu yang
datang tepat.
Seterlambat Aulia yang mencintaiku.
Seterlambat aku yang tidak bisa mengucapkan maaf pada Desi dan Irsyad. Aku
sadar perlahan-lahan perasaanku sudah berubah sejak aku melihatnya tertawa
bersama dengan pilihannya di perayaan HUT RI tersebut. Membuat orang yang kau
sayangi bahagia lebih dari cukup untuk merelakan perasaanku padanya.
“Well,thankyou yang membaca cerita yang begitu panjang ini.
Maaf untuk segala typo dan Selamat ulang tahun yang ke 70 untuk negeriku
tercinta;INDONESIA”
Komentar