Keputusanku.
Nafasnya kini teratur.
Semburat di wajahnya menampakkan kelelahan yang berkepanjangan. Dengan
menggenggam erat bantal yang ada di pelukannya,dia terlihat seperti anak bayi
yang tidur dengan damai di pangkuan ibunya. Bedanya kali ini yang memangkunya
tidur bukan seorang ibu tetapi aku. Bantal yang tadinya dia tumpuk meninggi di
pangkuanku mulai berkurang untuk mengurangi sakit di lehernya. 2 jam yang
lalu,laki-laki yang terlelap ini menjemput ku secara paksa. Merengek-rengek
untuk meminta waktuku. Dalam pembicaraan kami di telepon,dia mengeluh rindu
padaku. Dan kerinduan yang dia miliki menuntut untuk di obati.
“Kamu yakin gak mau ngemil
apa-apa? Kamu belum makan loh” gumamnya di sela-sela tidurnya. Mungkin dia
perlahan-lahan mulai terjaga.
“Enggak. Kamu tidur aja
dulu. Kasian ini muka jadi kelihatan keriput” jawabku dengan menempelkan ibu
jari di wajahnya. Menelusuri setiap inci garis di wajahnya. Tampak perubahan
besar antara wajahnya yang terakhir kali ku lihat dengan yang sekarang ini.
“Ini karena kamu gak
perhatian lagi sama aku. Kamu jahat tau” bibirnya manyun. Menunjukkan
kekesalannya padaku. Padahal umurnya denganku terpaut 2 tahun lebih tua dariku
tetapi tingkahnya masih juga seperti anak-anak.
“Aku gak punya kewajiban
memperhatikanmu. Aku udah punya kehidupan baru sekarang”
“Kamu tahu aku gak peduli
dengan hal itu. Tahu gak sih,dulu kamu itu sayang banget sama aku. Perhatian.
Tapi sekarang aku gak merasakan itu lagi dari kamu” ucapnya dengan mengubah
posisinya menghadapku. Tatapannya melunak. Aku tahu ada sebentuk perasaan
menyesal yang ingin ia jelaskan.
“Kamu jelas tahu semua
penyebabnya. Jadi kenapa mengeluh sekarang?” aku menatap wajahnya. Memberikan
tatapan bahwa inilah jalan yang telah dia pilih. Dia berdehem sebentar lalu mengatur
nada suaranya kembali.
“Aku menyesal. Kenapa kita
tidak bisa memulainya lagi dari awal?” Lagi-lagi pertanyaan ini yang
menyerangku. Laki-laki ini memperlihatkan kembali sisi rapuhnya setelah dia
menghancurkan hati dan kepercayaanku dahulu.
“Aku tidak bisa. Tidak
setelah kamu memilih mengkhianatiku. Kamu tahu bukan dari sekian banyak
kesalahan yang dapat ku maklumi,hanya satu yang tidak bisa ku maafkan yaitu
mendua” jelasku padanya. Berharap dia dapat mengerti bahwa kali inipun aku
menolak permintaannya untuk kembali.
Dia bangkit dari posisi
tidurnya dan memilih duduk di sampingku. Memberikan sedikit jarak. Asik menatap
ubin keramik yang terlihat lebih menarik baginya.
“Jadi untuk apa kita seperti
ini?”
“Aku melakukan ini karena
kamu adalah sahabatku. Bagaimanapun,dulu kita adalah teman. Berakhirnya
hubungan itu,bukan awal dari permusuhan. Bagiku,kau tetaplah temanku. Sahabatku
yang selalu mendengar keluh kesahku” pandanganku beralih. Dia bangkit,entah
menuju kemana.
10 menit kemudian kakak sulungnya keluar dari salah
satu ruangan, menatapku dengan senyum yang penuh lalu mengambil tempat tepat di
seberangan tempatku duduk.
“Mana dianya?” tanyanya
dengan lembut. Aku ingat,setiap kali aku kesini selalu saja di sambut dengan
ramah oleh keluarganya. Walau aku akui, dia adalah laki-laki yang patut di
ancungi jempol karena berani membawaku ke rumahnya dan mengenalkanku pada
setiap anggota keluarganya. Tapi sayang,semuanya sudah berubah. Kini aku datang
sebagai teman. Bukan lagi kekasih.
“Gak tahu,kak” jawabku
dengan senyum yang ramah.
“Kakak gak nyangka kamu
masih mau nginjakin kaki kesini lagi setelah perbuatan bodoh anak itu. Kakak
pikir,ocehannya belakangan ini tentangmu hanya ngigauannya saja. Ternyata dia
benar-benar menyeretmu kesini” tawa menggema di ruangan ini. Jelas terlihat
sekali bukan bahwa dia mungkin lebih menyayangi aku daripada adiknya sendiri.
“Iya kak,ini juga kemari
karena paksaannya” cecarku yang perlahan-lahan mulai menepis kecanggungan
diantara kami.
“Aku berharapnya sih kamu
dan dia bisa nyatu lagi. Tapi aku maklumi kok,kalau kamu gak bisa. Aku ngerti”
tawanya mereda. Pembicaraan kali ini terkesan serius. Matanya menatapku dengan
penuh pengharapan serta pengertian. Membuatku semakin gundah dengan pilihanku
sendiri. Namun,bayangan laki-laki yang telah berhasil mengobati lukaku. Yang
membuat duniaku jadi beribu kali lebih indah dan menarik membuatku kembali
menguatkan tekat dengan keputusan yang telah ku pilih.
Kakak itu memilih pergi
meninggalkanku. 7 menit kemudian dia kembali membawa berbagai cemilan yang dia
beli untukku.
“Bisakah kita bertingkah
seperti teman?”
“Maksudmu bagaimana?”
“Aku telah menitipkan hati
pada orang lain. Aku benar-benar sangat mencintainya. Mohon untuk berlaku seperti
kita adalah teman. Bisakah? Aku tidak ingin menyakiti hatinya” dia berhenti
meletakkan beberapa cemilan. Duduk dan diam sejenak.
“Baiklah. Aku mengerti. Akan
aku turuti. Tapi,ini semua aku lakukan karena aku mencintaimu. Karena aku
menyeal telah melukaimu. Dan karena aku ingin kamu bahagia” ujarnya dengan
senyuman yang terlihat sedikit di paksakan. Aku yakin dia pasti bisa
benar-benar melepaskan ku. Akupun juga akan membantunya melewati masa ini. Sama
seperti kejadian 6 tahun yang lalu,saat dia membantuku melewati masa patah
hatiku.
Komentar