Menanti.
Malam semakin memagut gelap.
Di arah yang berlawanan kau mencoba menghadirkan senyum lagi di bibirku. Di
ujung jalan sana,kau memulai perjalanan panjang menuju satu kota yang akan
mempertemukan kita. Begitu pula sebaliknya,dari arah yang berbeda aku datang
mengunjungi satu kota yang sama. Sama-sama menjadi tujuan untuk menetap.
Sebulan yang lalu,tanpa
pamit kau kembali mengunjungi tanah kelahiranmu. Tanpa kabar,kau membiarku
mengurus rindu hingga kewalahan. Menciptakan beribu kekesalan setiap kali
melihat ponselku tak kunjung juga menampakkan namamu. Tapi malam ini ada yang
berbeda. Sejak sore ponselku nyatanya sudah ribut karena pesan darimu. Rasa
bahagia mengaliri tubuhku. Hingga aku bingung harus berkata apa. Namamu tertera
secara tiba-tiba.
Panggilan masuk…
“Hai,nona cantik” aku
tercekat. Suara ini yang ku rindui sejak sebulan yang lalu. Suara seorang
lelaki yang entah sejak kapan mampu membuatku tenang.
“Ya?” Tolong jangan tanyakan
mengapa hanya dua huruf itu yang hanya ku ucap. Karena sepertinya aku masih
sulit menenangkan debar di jantungku juga bahagia di hatiku.
“Bagaimana hatimu? Sudah
baikan?” Ahh..dia tidak lupa dengan hal ini rupanya. Bagaimana aku harus
menjawabnya? ‘Jika itu tentang dia,maka sudah. Jika itu tentangmu,maka
tidak.’
“Mungkin” ucapan paling
datar yang membuatku beribu kali lipat mengutuk kebodohanku. Jelas saja,jawaban
ini membuat ambigu. Tapi terserah bagaimana dia mengartikannya saja.
“Maaf ya nona,di kotaku
tidak ada sinyal. Makanya sulit sekali menghubungimu. Kau masih ingat pesanku selama
ku tinggal,bukan?” entah mengapa rasanya kalimat panjang ini terdengar seperti
sebentuk perhatiannya kepadaku setelah beberapa hari yang lalu dia menghilang.
“Aku lupa,kota kelahiranmu
memang sangat pelosok ya. Tenang saja,aku masih ingat dan menuruti permintaanmu”
ucapku menenangkan. Rasa-rasanya kekesalan yang selama ini datang telah
menghilang begitu saja. Menguap bersama alunan suaranya yang terasa merdu di
telingaku.
Ia tertawa. Membuatku mengkhayalkan bagaimana wajahnya
sekarang.
“Selalu saja mengejek. Baiklah,aku
sebenarnya dalam perjalanan kembali. Jadi, mari bertemu ketika aku sampai di
kota mu” aku bersumpah demi apapun bahwa bahagia yang sesaat ia ciptakan ini
rasanya sanggup membuatku kalang kabut untuk menyembunyikan tawa-tawa kecilku.
Kita semakin lama terasa
seperti sepasang kekasih. Padahal bukan tanggung jawabmu memperhatikanku. Bukan
kewajibanmu juga mengobati lukaku. Namun nyatanya kau melakukan semuanya. Semua
yang berusaha untuk ku hindari. Lama-lama semakin terasa sulit untuk menjaga
jarak darimu.
Aku tak bisa lagi menipu
diri sendiri jika memang ada getar aneh di hatiku. Jika raut wajahmu
perlahan-lahan mulai sering mengunjungi pikiranku. Tuan,aku paham makna di
balik sikapmu ini. Tapi ku harap setidaknya kau bisa sedikit bersabar. Lukaku
baru saja sembuh dan untuk memulai segalanya kembali membutuhkan waktu. Aku
harap semoga kau mau menunggu sesaat saja. Biarkan hatiku sendiri yang
menuntunku berjalan menuju hatimu.
Komentar