Sedih.. Tentu. Amat sangat sedih. Dalam hati "kenapa hanya lukanya yang di lihat oleh khalayak? " Tapi logika menjawab, "ya mungkin ini bedanya kamu dan dia" Dia.. Pernah mendapatkan yang paling berharga tapi tak bisa ia jaga. Lalu angan-angan yang ku kira mustahil malah terjadi dengan begitu sempurna. Apa aku salah? Jika sesuatu yang berharga darinya terlepas oleh sebab yang bukan karena aku. Apa aku salah? Menerima angan yang di depan mata menjadi nyata. Aku tidak merampas. Aku tidak merebut. Pun, aku tidak mengemis untuk di kasihani. Aku juga korban, atas sikap tak suka orang-orang yang tak senang dengan apa yang ku dapat. Dan hei!? Aku berusaha. Aku berjuang untuk mendapatkannya. Semuanya tidak mudah. Berproses. Meski begitupun, ia tak pernah memperlakukan ku sama. Walau ku mau dia begini, takkan mungkin ku paksa jika ia memilih seperti itu. Namun, aku men...
Aku tak pernah habis fikir bagaimana bisa aku sekuat ini menghadapimu. Rela perasaannya terluka demi seseorang ku panggil;sayang. Lelah? Tentu saja! Tapi nyatanya aku bertahan sampai saat ini. Sosokmu masih dapat ku lihat namun sangat sulit untuk ku genggam. Entah karena apa atau mungkin karena siapa perasaan dan hatimu bisa se-beku ini terhadapku. Tak ada lagi perhatian. Tak ada lagi kemesraan. Tak ada lagi sosokmu yang peduli kepadaku. Lalu kamu menganggap apa diriku saat ini? Patung? Aku rasa iya. Kamu sangat asik tertawa dengan wanita lain juga dengan teman-temanmu sedangkan aku berlari mencari bahu yang mau menampung air mataku. Keluh kesahku tentang dirimu. Ini aneh bukan? Bagaimana bisa aku menangisi sosokmu? Apakah tak pernah terlintas di pikiranmu bagaimana perasaanku? Aku tak pernah memaksa mu menjadi sosok lain. Aku hanya memintamu men...
Saya masih senang menyendiri setelah memutuskan berpisah dari kamu. Untuk kesekian kalinya saya gagal menjalani hubungan dengan laki-laki lain setelah saya dan kamu berpisah. Waktu perpisahan saya dan kamu sudah sangat lama,hubungan yang kita jalanipun hanya singkat namun sangat bermakna bagi saya dan mungkin juga bagimu. Saya bukannya tak mampu melupakan jejak kenangan kita dulu. Saya hanya merasakan sedikit mati rasa setelah saya dan kamu sepakat untuk berpisah. Dengan rentan waktu yang cukup lama setelah perpisahan kita,akhirnya kamu bercerita tentang gadis barumu. Kamu menceritakan sosoknya dengan wajah yang dihiasi tawa. Saya dapat melihat betapa sukanya kamu terhadap gadis itu. Dengan jelas,saya melihat kamu menunggunya dari kejauhan. Ya,kamu jatuh hati diam-diam kepadanya. Kamu bercerita betapa segannya kamu menemuinya. Betapa malunya...
Komentar